Siasati Pandemi Corona, Karena tak Ada yang ”Mikir”

wayang-virtual1
SUDAH SEJAK LAMA : Pentas wayang kulit purwa yang disebarluaskan secara virtual atau melalui siaran streaming YouTube, sudah dilakukan Ki Purbo Asmoro sejak tahun 2017 di rumahnya sendiri, yang dilengkapi layar over head projector (OHP). Pentas itu bukan untuk menyiasati pandemi Corona, tetapi semata-mata agar bisa langsung ditangkap para penonton dari tempat luas, bahkan lintas negara. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Ki Purbo Asmoro Bikin Sensasi, Pentas Diiringi Pengrawit Wanita (1-bersambung)

SANGGAR-SANGGAR kesenian wayang kulit dan perkumpulan/kelompok kesenian tradisional Jawa khususnya, bahkan kesenian di luar etnik Jawa termasuk grup band, dangdut dan sebagainya, hampir semuanya hidup mandiri di luar struktur pegawai pemerintah di tingkat manapun. Artinya, mereka itu harus mencari uang sendiri untuk menanggung biaya hidup sendiri dan keluarganya, termasuk segala jaminan yang diperlukan selama hidup.

Jadi, ketika negara-negara di belahan bumi manapaun termasuk Indonesia sedang dilanda pandemi Corona sampai 6 bulan sekarang ini, boleh dikatakan ”tamatlah riwayatnya”. Meskipun mereka itu warga NKRI, bisa dipastikan sangat sedikit yang bisa mendapatkan bantuan sosial semacam BLT yang belum lama ini digelontorkan pemerintah.

Karena mereka bukan pegawai alias tidak bekerja pada siapapun karena murni mendapatkan makan dari profesi yang dijalaninya di bidang seni, apalagi tradisional,  sudah sewajarnya tidak termasuk pekerja di berbagai perusahaan bergaji di bawah Rp 5 juta yang akan diberi bantuan pemerintah Rp 600 ribu/bulan itu. Lalu, mereka itu termasuk golongan mana yang layak dibantu pemerintah?

Tak Mau Berspekulasi Menunggu

Sampai pandemi yang masuk di bumi Nusantara berusia hampir 7 bulan, dalang terkenal Ki Purbo Asmoro belum menemukan jawaban atas pertanyaan di atas. Dan banyak yang meyakini, pemerintahpun akan kesulitan menemukan jawaban yang masuk akal atas pertanyaan itu. Meski dalam pasal 28 UUD 45 sudah menyebutkan, setiap warga negara berhak atas kehidupan/penghidupan yang layak.

Sebagai catatan saja, seandainya pemerintah mendapatkan jawaban atas pertanyaan itu, mungkin hanya terhadap sebagian seniman yang bersedia dan pantas digolongkan warga miskin. Karena, warga yang masuk kategori ini, mungkin termasuk para seniman profesional, beberapa bulan lalu disebutkan mendapatkan bantuan (BLT) melalui pemda masing-masing, kemudian disalurkan lewat kelurahan-kelurahan.

Sampai kapan bantuan itu akan bisa dinikmati warga miskin atau terdampak pandemi, termasuk kalangan seniman? Itu sangat tergantung ketersediaan keuangan negara. Namun, sepertinya Ki Purbo Asmoro dan sejumlah dalang wayang kulit lain seperti Ki Manteb Soedarsono, termasuk orang-orang yang tidak mau berspekulasi menunggu datangnya suasana normal untuk menjalankan profesinya secara maksimal, agar kembali mendapatkan rezeki secara lancar.

Layak Tetapi Tidak Termasuk  

Rezeki yang didapat tokoh-tokoh seniman tradisional profesional inilah, yang kemudian dibagi-bagikan kepada para seniman anggota kelompok masing-masing. Kalau Ki Pubo Asmoro dan juga Ki Manteb Soedarsono adalah dalang wayang kulit, anggota kelompok pendukungnya adalah pesinden dan wiraswara, pengrawit, pekerja properti seni pedalangan (penyimping/penata gamelan), penata panggung, sound system dan sebagainya yang jumlah ideal rata-rata 40-an orang.

wayang-virtual3
SENTUHAN INOVASI : Selain kecerdasannya berkreativitas menyiasati pandemi Corona, pentas secara virtual yang digelar KI Purbo Asmoro di kediamannya hingga Jumat malam (5/9), juga menampilkan sentuhan inovasi yang membuat setiap penampilannya selalu segar. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tetapi, selama hampir 7 bulan ini, kesempatan mendapatkan rezeki dari jasa menggelar kemampuan profesionalnya di bidang seni pakeliran wayang kulit purwa itu seakan tertutup. Karena, jenis seni pertunjukan tradisional seperti ini, termasuk yang gampang dan banyak menyedot penonton sampai ribuan orang. Dengan jumlah penonton yang begitu banyak, diperkirakan sulit bisa mengikuti aturan protokol kesehatan Covid 19 dengan baik, yaitu harus menjaga jarak, pakai masker dan mendapatkan fasilitas cuci tangan yang memadai.

Dan karena sebagian besar di antara para pekerja seni benar-benar mengalami kesulitan lalu menjadi warga miskin baru, tidak aneh kalau terpaksa menggelar aksi demo agar pemerintah mengizinkan tempatnya bekerja dibuka kembali. Karena, mereka itu tidak termasuk yang mendapat bantuan pemerintah, atau secara teknis administratif bisa menerima bantuan tersebut, padahal mereka layak mendapat bantuan.

wayang-virtual2
CARA KI MANTEB : Pentas wayang kulit secara virtual yang dilakukan Ki Manteb Soedarsono di rumahnya Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, beberapa waktu lalu, adalah caranya menyiasati pandemi, agar kalangan anggota sanggar/kelompok keseniannya mendapatkan makan di tengah kesulitan larangan pentas akibat pandemi. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bertahan Tidak Bubar

Oleh sebab itu, hanya seniman yang memiliki kreativitas dan kecerdasan serta daya dukung cukup yang bisa tetap bertahan. Atau setidaknya bisa membuat ketahanan kelompoknya terpelihara baik alias tidak bubar, tetapi justru bisa melepaskan diri dari kebuntuan dampak pandemi.

Kalau Ki Manteb  mulai Mei hingga Juni lalu mendapatkan dukungan sponsor dari produk, Pepadi Jateng dan partai untuk menggelar 6 kali pentas wayang ”di rumah saja” alias live streaming via YouTube, Ki Purbo Asmoro malah sudah mencatat 17 kali menggelar pentas wayang secara virtual dari rumahnya, mulai Februari hingga Jumat malam (4/9). Enam kali pentas termasuk yang terakhir Jumat malam itu, adalah pentas mandiri alias dibiayai dari kantong sendiri, sekalipun nilai honor yang diberikan tergolong minimalis.

”Sebelum ada pandemi Corona, dan sebelum teman-teman dalang menyiarkan pentasnya secara virtual, saya sudah sejak lama melakukan itu. Jadi, saya sudah terbiasa menggelar pentas yang disiarkan secara streaming melalui YouTube. Tetapi, gara-gara pentas dengan teknologi virtual itu di tahun 2018, saya sempat dikomplain beberapa penggemar wayang di dalam dan di luar negeri. Katanya, di mana-mana kok lakonnya sama”.

”Padahal, tidak sepenuhnya demikian. Walaupun satu lakon saya pentaskan di dua tempat terpisah, pasti ada bedanya. Ya, gara-gara itu saya jadi makin berhati-hati. Tidak akan mengulang lakon yang sama di tempat berbeda. Saya berusaha ”menyanggit” (kreativitas menggarap) lakon yang terus bedbeda satu sama kalin. Dan terus menggali babon lakon Ramayana maupun Mahabharata, serta dari berbagai sumber yang ada,” jelas Ki Purbo Asmoro, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun