Tak Lupa Mengajak Abdidalem Ulama dan Putri Narpa Wandawa

pengayom-tour-de-petilasan1
ACARA SANGAT RESMI : Ketika harus berpidato dalam acara pengajian akbar dan haul Ki Ageng Ngerang di Desa Anom Widodo, Tambakromo, Pati seperti ini, Gusti Moeng selaku Ketua LDA mengenakan busana adat untuk menghormati para undangan dan warga peradaban yang menjadi penyelenggaranya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Menjadi ”Bintang” Event Ritual di Tengah Pencariannya (3-habis)

MESKI sudah banyak tempat petilasan/situs peninggalan/makam didapat dan jadwal keterlibatan sebagai pengayom di tempat-tempat itu cukup padat dalam setahunnya, rupanya Gusti Moeng bersama beberapa elemen LDA-nya belum juga berhenti mencari. Sebab, diakui masih banyak tempat berdasar ”DPL” (SMS.Com, 2/9) yang dicari, terutama leluhur dari garis sang ibu (KRAy Pradapaningsih), dan beberapa di antaranya sudah diketahui tetapi belum sempat dikunjungi.

Upaya terus mencari seperti inilah, yang membuat Gusti Moeng dengan rombongan sejumlah elemen LDA yang selalu dibawanya, makin dikenal dan disegani publik secara luas, khususnya warga peradaban yang ada di lingkungan petilasan/situs peninggalan/makam. Karena sosok, kapasitas, semangat dan kepribadiannya sebagai representasi peradaban Mataram dan Jawa yang makin dikenal, tidak aneh jika Gusti Moeng sering disambut seperti seorang bintang artis.

Beberapa elemen yang selalu dibawa Gusti Moeng itu, adalah kerabat pimpinan bebadan khususnya perwakilan Kantor Pengageng Kusuma Wandawa, Karti Praja, Kantor Pengageng Yogiswara bersama abdidalem ulama, Pakasa dan tak lupa mengajak serta pengurus Putri Narpa Wandawa yang diketuai GKR Sekar Kencana.

Mereka itu belakangan menjadi komponen yang selalu disertakan dalam safari ”tour de petilasan”, mengingat tempat yang dikunjungi langsung diakomodasi segala keperluan yang berkait dengan kebutuhan pengayoman. Selain itu, banyak tempat yang dijadikan objek ”blusukan” Gusti Moeng dan beberapa elemen LDA, sudah siap dalam bentuk event prosesi ritual yang kebanyakan berupa haul, pengajian akbar dan bentuk-bentuk penyemarakan wisata spiritual lainnya seperti pasar malam.

”Kalau cuma blusukan, itu sudah saya lakukan sejak tahun 1990-an. Sekarang hampir tiap hari blusukan. Karena jadwal agenda tempat yang saya kunjungi makin banyak. Tapi blusukan bukan untuk kepentingan politik lo. Saya sudah tinggalkan urusan itu”.

”Sekarang, saya ingin nglumpukne balung pisah, keluarga besar warga peradaban Mataram. Tujuan utamanya pelestarian budaya. Titik,” ujar Gusti Moeng yang ternyata pantas mendapat julukan ”Ratunya Blusukan” selain segudang predikat prestasi dan karyanya yang membanggakan warga peradaban Mataram dan Jawa.

Pedoman Baku Warga Mataram

Seperti yang terjadi di makam Raden Ayu Dewi Roro Kuning di Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Kabupaten Pati belum lama ini (SMS.Com, 2/9), abdidalem ulama KRT Pujo Hartoyodipuro menjadi salah satu pimpinan elemen yang berperan penting. Abdidalem inilah yang diminta Gusti Moeng untuk memimpin doa, tahlil dan dzikir dengan referensai yang pedoman baku di Keraton Mataram Surakarta, yaitu shalawat Sultanagungan dan syahadat Quresh.

”Ini ‘kan bentuk syiar Islam yang halus dan akulturatif. Ini yang menjadi kebanggaan banyak pihak. Karena, intinya saling menghormati dan memuliakan. Kalau saya sebagai warga di situ, pasti akan merasakan kebanggaan itu. Karena diakui dan dilindungi, sebagai bagian dari keluarga besar (peradaban) Mataram,” ujar KPP Wijaya Adiningrat menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, saat mengikuti haul di makam Desa Maitan, sore itu.

pengayom-tour-de-petilasan2
HARUS NGLESOT : Situasinya sangat berbeda ketika ”tour de petilasan” melihat objek fisik Sendang Widuri di Desa Katekan, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Gusti Moeng dan warga Putri Narpa Wandawa tidak mengenakan busana adat, karena harus duduk nglesot setelah jalan kaki ratusan meter di jalan berkontur naik-turun. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Doa tahlil dan dzikir dengan shalawat Sultanagungan dan syahadat Quresh, sudah sejak Sultan Agung Hanyakrakusuma digunakan di lingkungan Keraton Mataram, terutama ketika menggelar upacara adat, misalnya tingalan jumenengandalem. Walau Keraton Mataram pindah dan beribukota di Kartasura maupun pindah dan beribukota di Surakarta, shalawat Sultanagungan dan syahadat Quresh menjadi baku dalam gelar upacara adat Sesaji Mahesa Lawung, Garebeg Syawal, Garebeg Besar, Garebeg Mulud dan Malem Selikuran.

Sejak LDA dibentuk dan diketuai Gusti Moeng di tahun 2004, upacara adat yang digelar di luar lingkungan keraton juga menggunakan Shalawat Sultanagungan dan syahadat Quresh, misalnya saat ziarah menjelang 1 Sura di Astana Pajimatan Imogiri (DIY) dan Astana Pajimatan Tegalarum (Slawi) serta labuhan di pantai Parangkusuma.

Jadi Ciri Kebanggaan

Setelah itu, di berbagai tempat yang diketahui merupakan petilasan/situs peninggalan/makam leluhur Mataram, juga ditambahkan referensi itu seperti yang diikuti Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com di makam kelurga besar Adipati Tjakraningrat (mertua Sinuhun PB IV) di Kadipaten Sumenep dan Pamekasan (Madura) dan makam Ki Ageng Ngerang, antara tahun 2015-2018 dan Raden Ayu Dewi Roro Kuning di Kabupaten Pati, beberapa waktu lalu.

Dengan begitu, semua yang hadir di acara haul kedua tokoh cikal-bakal warga Desa Maitan yang diperkirakan KPP Wijaya Adiningrat (paranpara nata) berkait dengan leluhur di zaman Keraton Pajang (abad 15) itu, mulai mengenal pedoman tambahan dari peradaban Mataram itu. Inilah sebagai salah satu bentuk pengakuan dan pengayoman yang diberikan LDA, yang berarti bahwa warga Desa Maitan menjadi bagian dari keluarga besar peradaban Mataram.

”Baik yang sudah terbukti secara historis sebagai leluhur Mataram atau bagian dari sejarah peradaban Mataram, saya gunakan doa, tahlil dan dzikir Sultanagungan dan syahadat Quresh. Itu salah satu ciri Mataram Islam. Ini biar menjadi ciri dan kebanggaan masyarakat di sini dan di berbagai tempat lainnya. Maka, kemana-mana saya mengajak abdidalem ulama,” jelas Gusti Moeng dalam perjalanan menuju Sendang Widuri, Kecamatan Brati, Kabupaten Grobogan, Sabtu (29/8).

pengayom-tour-de-petilasan3
DI ATAS PANGGUNG : Ketika berada di atas panggung bersama sejumlah tokoh agama dalam acara resmi, Gusti Moeng menyesuaikan diri dengan cirinya berbusana adat Keraton Mataram Surakarta. Apalagi, di acara haul Ki Ageng Ngerang di Desa Anom Widodo, Tambakromo, Pati itu beberapa waktu lalu, dia diminta memberi sambutan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bertanggungjawab Mengelola

Selain memperkaya referensi dalam ritus doa pada upacara haulnya, keterlibatan Pakasa jelas menjadi bagian penting untuk melembagakan warga yang peduli merawat dan menjaga petilasan/situs peninggalan/makam dalam kepengurusan cabang. Merekalah yang diharapkan bertanggungjawab mengelola, mengatur tatacara dan tata laksana pelestarian seni budaya, bekerjasama dengan otoritas pemerintah setempat.

Organisasi Putri Narpa Wandawa yang pernah didirikan Sinuhun Paku BUwono X di tahun 1932, posisinya sebagai elemen LDA mirip Pakasa. Yang membedakan, anggota Pakasa bisa lelaki atau perempuan, tetapi untuk Putri Narpa anggotanya hanya perempuan. Banyak di antara anggotanya yang bisa berperan banyak dalam upacara-upacara adat, seperti saat berlangsung haul di Makam Desa Maitan itu.

Jenis safari ”tour de petilasan” atau blusukan ke petilasan/situs peninggalan/makam, memang menentukan busana yang dikenakan semua elemen LDA yang dibawa Gusti Moeng. Dan karena haul di makam Raden Ayu Dewi Roro Kuning lebih longgar secara adat, dan tiga titik acara dalam perjalanan sehari itu setengah resmi karena hanya melihat fisik objek di lapangan, maka hampir semua anggota rombongan berbusana ”mardika pantes” (bebas tapi pantas).

Namun, ketika sudah berada di dalam barisan prosesi, warna seragam Putri Narpa Wandawa termasuk yang dikenakan Gusti Moeng, cukup mencolok karena stelan atas-bawah berwarna pink. Meski warnanya berbeda, yang dikenakan GPH Nur Cahyaningrat dan para pengageng bebadan dan kerabat, tetap mencirikan adat.

Rebutan Uang Kotak Makam

Karena selain kemeja batik, tak lupa mengenakan ‘blangkon’ sebagai penutup kepala. Sementara, warga setempat yang menggelar acara mulai dari kirab hingga tahlil di makam Radeh Ayu Dewi Roro Kuning, juga mengenakan identitas warga Pakasa. Gabungan antara yang mengenakan Jawi jangkep dengan stelan busana yang dilengkapi blangkon. Sementara para wanitanya, bebedan komplet dengan sanggul.

pengayom-tour-de-petilasan4
ZIARAH MAKAM : Dengan stelan busana seragam Putri Narpa Wandawa itu, Gusti Moeng masih berziarah di makam Ki Ageng Tirta di Desa Karangasem, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan. Busana seperti itu jelas memudahkan dalam perjalanan safari ”tour de petilasan” di sejumlah titik yang saling berjauhan harus dijalani sepanjang hari, Sabtu (29/8) itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Hanya di titik perjalanan ”tour de petilasan” di Desa Maitan, yang dikenakan Gusti Moeng busana yang tampak lebih santai, karena acaranya memang lebih longgar. Sementara, di beberapa titik perjalanan lain yang harus jalan kaki menuruni bukti untuk melihat Sendang Widuri, juga di titik terakhir ziarah di makam Ki Ageng Tirta di Karangangasem, Kecamatan Wirosari, Kabupaten Grobogan, lebih tepat mengenakan busana stelan seragam Putri Narpa itu.

”Makam tokoh ini, ada hubungan keluarga dengan Sunan Kalijaga. Tapi saya hanya berziarah sambil meyakinkan apa yang sudah saya dengar. Ternyata benar, makam ini jadi rebutan pihak-pihak yang merasa punya kuasa mengurusnya. Biasa, kalau sudah ramai dikunjungi dan menghasilkan (uang) banyak, lalu jadi rebutan. La wong uang kotak makam kok dijadikan rebutan….ya memalukan ta….,” ujar Gusti Moeng yang dibenarkan KPP Wijaya Adiningrat dan KRA Saptonojati. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun