Setelah Spritiual Kebatinan, Potensi Pakasa Disatukan*

bintang-ritual-keraton-surakarta68
DI TEMPAT JAUH : Sebuah makam yang ada di wilayah Kabupaten Sumenep Madura, tak luput dari safari ''tour de petilasan'' Gusti Moeng bersama rombongan LDA. Karena, selain jadi makam para tokoh dari Kadipaten Sumenep, para tokoh Kadipaten Pamekasan yang menjadi mertua Sinuhun PB IV, karena dua puteri Adipati Tjakraningrat IV dijadikan istri. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Menjadi ”Bintang” Event Ritual di Tengah Pencariannya (2-bersambung)

PERJALANAN safari ”tour de petilasan” Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin Gusti Moeng selaku ketuanya, belakangan terasa semakin sering dilakukan. Hari-hari GKR Wandansari Koes Moertiyah ini, nyaris penuh dengan kesibukan berada di atas mobil berjam-jam, kemudian terlibat dalam rangkaian prosesi upacara ziarah, haul dan apa saja yang berkait dengan kunjungan di petilasan, situs peninggalan, makam leluhur dan pihak-pihak yang sedang melakukan refleksi atas jasa-jasa peradaban Jawa yang dipelihara Dinasti Mataram.

 Melihat sepak terjang Gusti Moeng yang pernah diiukuti Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com di Kabupaten Slawi (Tegal), Pati, Grobogan, Boyolali, Kabupaten Trenggalek dan Ponorogo (Jatim), tampak sekali aktivitas spiritual kebatinan yang mendominasi tema kunjungannya. Dan satu hal ini, memang menjadi momentum penting untuk dicatat, karena pertemuan antara keinginan warga di sekitar situs peninggalan, makam dan petilasan leluhur dengan safari pencarian Gusti Moeng, terjadi di satu titik yang tepat.

Artinya, di satu sisi warga peradaban yang menjaga dan memelihara situs peninggalan, makam dan petilasan leluhur itu ketika sangat pengakuan dan pengayoman, di saat itulah Lembaga Dewan Adat juga datang untuk merangkul karena semangatnya untuk memuliakan semuanya sebagai sama-sama warga peradaban yang wajib menjaga, merawat dan melestarikan nilai-nilai peradaban.

Setelah hal yang menyangkut spiritual kebatinan sudah terakomodasi oleh LDA, tak terasa ada satu kebutuhan yang tak bisa dikesampingkan, yaitu perlunya kepedulian orang-orang dari warga peradaban itu, punya legal standing jelas untuk mengelola karya-karya peradaban itu. Di sinilah, peran Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) yang makin tumbuh di berbagai daerah itu, sangat dibutuhkan.

Kerjasama dengan Pemkab/Pemkot

Oleh sebab itu, tak heran terutama dalam tiga tahun terakhir (mulai 15 April 2017) ketika LDA menjalani masa ”tapa ngrame” hingga saat ini, makin bermunculan daerah-daerah yang menginginkan membentuk pengurus Pakasa Cabang sampai ranting-rantingnya di tiap kecamatan. Dan pelantikan atau ”tetapan” pengurus itu, pasti meminta Pangarsa Punjer (Pengurus Pusat) Pakasa KPH Edy Wirabhumi dan Gusti Moeng selaku Ketua LDA untuk datang melakukannya.

bintang-ritual-keraton-surakarta66
MENJADI WARGA : Antusiasme warga Ponorogo (Jatim) di sekitar tempat-tempat yang berkait dengan peradaban Mataram, tampak mendengarkan sambutan Pangarsa Punjer Pakasa KPH Edy Wirabhumi setelah diterima menjadi anggota dalam pelantikan pengurus cabang kabupaten setempat, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Jadi, setelah saya amati apa yang harus saya lakukan itu kok urut. Dimulai dari saya yang penasaran, karena mendengar ada petilasan atau makamnya leluhur di suatu tempat. Kemudian, datang warga atau juru kunci makam/petilasan melapor. Setelah itu, saya diminta saya melihat ke lokasi”.

”Habis itu, dilanjutkan dengan permintaan menjadi anggota Pakasa. Setelah itu, pasti minta dibentuk pengurusnya. Begitu ada LDA, apalagi Pakasa yang sudah terdaftar di Kemendagri dan Kemenkumham, permintaan itu semakin banyak,” ujar Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Legal standing dan legal formal posisi Pakasa di berbagai daerah yang memiliki potensi situs peninggalan sejarah leluhur Mataram itu sangat penting. Karena, kepengurusan yang sudah terbentuk, bisa didaftarkan ke Dinas Kesbanglinmas Pemkot/Pemkab setempat, sebagai ormas resmi yang bisa diajak kerjasama dalam merawat semua potensi-potensi seni budaya, yang bisa menjadi modal memperkuat ketahanan budaya nasional.

Animo Jadi Siswa Sanggar

Di antara rangkaian yang urut itu, sebenarnya masih ada dua tahap yang sering dilakukan, yaitu keinginan warga daerah setempat untuk belajar menjadi siswa Sanggar Pawiyatan Pambiwara Keraton Surakarta, milik Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang diketuai Gusti Moeng. Animo menjadi siswa sanggar untuk belajar selama 6 bulan baik di pusat (Keraton Surakarta) maupun di beberapa daerah itu, juga makin banyak.

bintang-ritual-keraton-surakarta5
MIRIP POS JAGA : Situs pelenggahan yang tampak di belakang Gusti Moeng itu, dulu sering digunakan untuk meditasi Sinuhun Paku Buwono X, kini mirip bangunan pos jaga yang berada di Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali. Tempat yang langsung menghadap Gunung Merapi itu, kini dirawat warga Pakasa Ranting kecamatan setempat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Para siswa sanggar yang berlatarbelakang aneka profesi seperti guru, perias manten, MC, kepala desa, polri, TNI, dalang dan kalangan PNS lainnya itu, setelah lulus dan menjalani profesinya di lingkungan masyarakatnya, kebanyakan juga kepengin menjadi anggota Pakasa. Setelah tahap belajar di sanggar, biasanya juga meneruskan ke tahap meminta pengakuan dalam bentuk penghargaan kekancingan yang berisi gelar kekerabatan.

Untuk dua tahap terakhir, bisa dilakukan secara urut atau tidak sama sekali. Bisa langsung menjadi anggota Pakasa, atau tidak melalui dua tahap itu sama sekali. Atau, hanya menjadi salah satu penerima pengakuan, tetapi tidak menjadi anggota Pakasa. Karena, beberapa hal itu sama sekali didasari keinginan secara sukarela, tak ada paksaan. Bahkan yang terjadi hampir semuanya, lahir dari kesadaran bahwa dirinya telah terlahir sebagai wong Jawa, warga peradaban Jawa.

Dari proses seperti itu, Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com yang mengamati sejak 1985, sebanarnya proses itu telah lama terjadi, silih berganti di setiap generasi. Strukturnya rata-rata hampir sama, tetapi berjalan bulai masif sejak
2004 dan sangat terasa pertumbuhannya dalam dekade terakhir, ketika Gusti Moeng memimpin LDA dengan beberapa jabatan struktural dan nonstruktural di keraton mapun ketika Pakasa yang dibentuk Sinuhun Paku Buwono X tahun 1931 itu, sejak awal dekade terakhir diketuai KPH Eddy Wirabhumi.

Ikatannya Menjadi Kuat

Kini, pengurus Pakasa cabang sudah terbentuk di semua daerah diwilayah Solo Raya, kemudian beberapa di wilayah Gunung Muria seperti Pati, Jepara, Kudus dan diharapkan muncul Kabupaten Blora dan Grobogan. Di wilayah pantai utara, ada potensi besar di Kabupaten dan Kota Tegal, kemudian Kabupaten Kendal, karena beberapa daerah itu selain ada warga yang merawat petilasan/situs/makam, di antaranya sudah banyak lulusan sanggar pambiwara, banyak pula yang mendapat penghargaan gelar kekerabatan.

bintang-ritual-keraton-surakarta67
PAKASA PATI : Gusti Moeng berbicara di depan warga yang sejak dulu merawat makam Raden Ayu Dewi Roro Kuning di Desa Maitan, Tambakromo, Pati, belum lama ini. Warga di situ merasa beruntung karena menjadi anggota Pakasa Cabang Pati dan merasa dilindungi (diayomi) LDA Keraton Mataram Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena titik tolaknya berangkat dari persoalan spiritual kebatinan warga yang selama ini merawat semua tempat petilasan/situs/makam leluhur Mataram, maka ikatannya menjadi kuat sekali ketika institusi LDA dan Pakasa datang sebagai pengayom yang mengakomodasi kebutuhan di bidang itu. Namun, banyak juga daerah-daerah yang belum diketahui memiliki aset-aset yang berkait dengan latarbelakang peradaban Mataram, juga besar animonya mengikuti semua proses itu untuk berakhir menjadi anggota Pakasa.

Daerah-daerah di wilayah eks Karesidenan Banyumas, seperti Purwokerta, Banyumas  dan Banjarnegara banyak warganya yang sudahbelajar di sanggar pasinaon pambiwara  dan antusias mendapatkan penghargaan kekerabatan. Bahkan Kabupaten dan Kota Cilacap, sudah terbentuk kepengurusan Pakasanya, ditambah Kota Jogja yangberanggotakan sekitar 100 orang dan diketuai oleh KRT Bambang Hadipuro, termasuk sangat aktif.      

”Kalau jumlah anggotanya (Pakasa-Red), bisa mencapai puluhan ribu orang. ‘Kan belum termasuk cabang-cabang di Jatim, terutama Ponorogo yang sangat aktif dan paling banyak jumlahnya. Ponorogo dan daerah-daerah terutama wilayah Mataraman, jelas ikatan spiritual kebatinannya kuat sekali. Karena banyak menyimpan  peninggalan sejarah Mataram,” sebut Gusti Moeng. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun