Harapkan Pengayoman Atas Persoalan Spiritual Kebatinannya

bintang-ritual-keraton-surakarta4
MENJADI ''BINTANG RITUAL'' : Gusti Moeng berada di barisan depan prosesi arak-arakan menuju tempat haul Raden Ayu Dewi Roro Kuning di makam Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Pati, belum lama ini. Upayanya merangkul dan memuliakan warga leluhur peradaban di situ, berbuah jadi ''bintang ritual'' yang jadi pusat perhatian dan selalu dielu-elukan kedatangannya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Menjadi ”Bintang” Event Ritual di Tengah Pencariannya (1-bersambung)

MENGIKUTI perjalanan safari ”tour de petilasan” yang dilakukan GKR Wandansari Koes Moertiyah di belasan titik, dalam 4-6 kali perjalanan, di tahun yang berbeda pada rentang waktu antara 2015 hingga Sabtu (29/8/2020) lalu, sudah terasa message (pesan) apa yang dalam aktivitas dan apa yang ada di balik perjalanan itu.      

Padahal, belasan titik itu hanya sebagian saja dari yang selama ini resmi diagendakan Gusti Moeng, untuk dikunjungi setiap tahunnya. Mengingat masyarakat dari tempat yang mengundangnya, memiliki waktu yang berbeda-beda antara tempat satu dengan yang lain, sesuai yang sudah ditetapkan sebagai saat berlangsungnya peristiwa ritual di masing-masing tempat.

Dalam catatan Gusti Moeng, selama setahun ada belasan tempat yang harus dikunjungi secara rutin, karena sudah memiliki jadwal penyelenggaraan ritual dan mengundangnya untuk hadir sebagai representasi Keraton Mataram Surakarta. Daerah-daerah itu, misalnya makam Ki Ageng Sela dan Mrapen di Kabupaten Grobogan, yang sudah lebih dulu diagendakan karena di sana tiap tahun ada acara haul yang disertai pengajian akbar dan ziarah oleh warga yang datang dari berbagai daerah.

Seiring dengan eksistensi Lembaga Dewan Adat (LDA) yang menjadi lembaga berbadan hukum yang berwenang melindungi Keraton Mataram Surakarta dengan segala isi dan aset-aset situs yang bertebaran di mana-mana, selain upaya pencarian, banyak pula warga dari wilayah peradaban yang proaktif melapor. Karena itu, tidak aneh kalau Gusti Moeng kini memiliki ”DPL” atau daftar pencarian lokasi berupa makam, petilasan dan situs-situs yang banyak sekali dan belum diketemukan.

bintang-ritual-keraton-surakarta3
DIMINTA BERPIDATO : Gusti Moeng sebagai Ketua LDA Keraton Mataram Surakarta, selalu diminta memberi pidato sambutan dalam berbagai acara yang diadakan masyarakat di lingkungan lokasi makam/petilasan leluhur peradaban Mataram, misalnya saat haul tokoh Raden Ayu Dewi Roro Kuning di makam Desa Maitan, Kecamatan Tambakromo, Pati, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Menjadi Pintu Masuk

Daerah-daerah yang sudah terpetakan memiliki ritual yang yang sudah berjalan rutin tiap tahun dan dikunjungi Gusti Moeng itu, rata-rata ada sepanjang pantai utara (pantura) di Jawa Tengah. Tetapi Kabupaten Blora yang belakangan sering dikunjungi agak beda dari tema ”tour de petilasan”, karena acara rutin tiap tahun yang digelar dan selalu mengundang Gusti Moeng adalah peringatan hari jadi kabupaten.

Bahkan pada event peringatan 2019, ada sentuhan promo mode, karena bupati setempat mengenakan busana adat kebesaran yang dulu dikenakan pejabat ”bupati manca” (luar keraton). Busana yang menjadi wajib dikenakan BUpati Blora sebelum NKRI lahir itu, diperkenalkan kembali kepada publik. Momentum itu malah menjadi pintu masuk pengenalan nilai-nilai budaya Jawa dan sejarah peradaban Mataram yang dipancarkan dari Surakarta Hadiningrat.

Event-event spiritual religi dan kebatinan yang terbungkus budaya Jawa sangat akulturatif itu, tentu banyak didapati di wilayah sebaran mobilitas para Wali Sanga. Misalnya yang ada di beberapa titik di Kota Kudus, banyak titik di Kabupaten Pati dengan event menonjol di makam Kyai Ageng Ngerang, event haul Nyi Ageng Serang dan beberapa titik event di Kabupaten Jepara serta sejumlah titik di sekitar Gunung Muria yang belum ada kesempatan dikunjungi.

Meski Astana Pajimatan Tegalarum Kabupaten Tegal berada di sepanjang pantai utara, namun makam raja Sinuhun Amangkurat Agung itu tidak termasuk belasan tempat yang selama ini dikunjungi Gusti Moeng sebagai ”bintang” event ritual. Berziarah ke makam leluhur Keraton Mataram Surakarta itu, masuk dalam katagori upacara adat yang menjadi agenda resmi lembaga Keraton Mataram Surakarta seperti wilujengan menyambut 1 Sura, 17 Sura, Sesaji Mahesa Lawung dan sebagainya.

bintang-ritual-keraton-surakarta2
BERDOA DAN MEMULIAKAN : Sesampai di lokasi makam/petilasan leluhur Mataram terlebih dalam suasana ritual haul yang dihadiri ribuan peziarah di makam tokoh leluhur seperti Ki Ageng Ngerang, di Desa Anom Widodo, Kecamatan Tambakromo, Pati, Gusti Moeng selalu memimpin ritus doa sebagai bagian upayanya memuliakan warga peradaban leluhur Mataram. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Memuliakan Leluhur Peradaban

Bersafari ke berbagai daerah di sepanjang pantai utara yang dilakukan di luar sembilan upacara adat baku yang digelar di dalam kawasan Keraton Mataram Surakarta, adalah semata-mata karena konsekuensi logis dari sikap masyarakat adat (LDA) yang dipimpin Gusti Moeng yang selalu berusaha ”memuliakan” para tokoh leluhur beserta masyarakat lingkungannya yang selama setia ini merawat dan menjaga tempat-tempat bersejarah itu.

”Pemahaman dan sikap seperti ini yang sedang kami bangun, agar masyarakat di tempat-tempat bersejarah itu tidak merasa kehilangan pengayom spiritual kebatinannya. Ini urusannya spiritual kebatinan warga peradaban, yang selama ini terabaikan oleh hiruk-pikuknya segala urusan sosial kemasyarakatan yang hampir semuanya berbau politik”.

”Bagian yang ini, butuh diurus dengan baik tanpa harus menjadi orangnya politik (politisi). Karena saya sudah tidak mau berpolitik. Sudah cukup,” tegas Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com dalam beberapa kali perjumpaan, belum lama ini.

Menyimak sebagian perjalanan Gusti Moeng di sejumlah tempat yang pernah diikuti Suara Merdeka dan suaramerdekasolo.com, tak sekadar menuruti ”hobi” berwisata spiritual kebatinan yang menjadi alasannya. Juga bukan hanya pasif menunggu kabar dari sejumlah orang anggota Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) cabang yang tersebar di berbagai daerah di Jateng, DIY dan Jatim, untuk kemudian bergerak melihat.

Merangkul yang Tercecer

Dari penjelasan anak ke-17 dari 35 putra/putri Sinuhun Paku Buwono XII yang terlahir dari enam istri itulah, memang jelas ada sesuatu yang sedang dicari yang menjadi alasan dilakukannya safari ”tour de petilasan” selama ini. Namun bukan itu alasan satu-satunya yang menjadi tujuan akhir, karena sesungguhnya lulusan FIB dan pascasarjana di UNS itu, memang memiliki kesadaran tinggi untuk memuliakan para leluhur Mataram, termasuk tempat-tempat petilasan/makamnya dan masyarakat yang selama ini menjaganya.

bintang-ritual-keraton-surakarta1
ARTIS ”BINTANG RITUAL” : Kedatangan Gusti Moeng yang selalu dielu-elukan di berbagai tempat yang mengundangnya, hingga mirip artis khusus ”bintang ritual” upacara adat. Sebelum memimpin ritus doa di makam Ki Ageng Ngerang di Desa Anom Widodo, Kecamatan Tambakromo, Pati, terlebih dulu dinaikkan bak mobil pick-up untuk mengikuti prosesi arak-arakan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Satu alasan lagi yang ternyata menjadi sangat penting ketika suasana zaman menjadi kurang bersahabat dengan nilai-nilai budaya dan peradaban, adalah semangat untuk terus berupaya merangkul semua elemen yang selama ini memiliki kaitan erat dengan keberadaan para leluhur Mataram. Termasuk masyarakat adat trah darahdalem yang selama ini tercecer dan belum mendapatkan perhatian dari jangkauan LDA.

”Kalau ternyata masih ada elemen-elemen masyarakat adat yang belum terjangkau, itu tugas utama kami untuk mencari. Tujuannya, agar bersatu dan menjadi kuat. Karena, ternyata banyak sekali yang tercecer, padahal mereka sangat butuh perhatian dan pengayoman. Ini bisa meluas sampai warga peradaban lainnya. Legitimasi terhadap peradaban (Mataram dan Jawa) akan semakin kuat. Ujung dari semua itu, ketahanan budaya bangsa makin kuat. Ini yang sedang dibutuhkan untuk menjaga tegaknya NKRI,” papar  mantan anggota DPR RI dua periode terpisah itu.  (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun