Sajian Pentas Wayang ”Dalang Tiga Negara” Banyak Kelemahannya

digi-virtual Dalang1
ILUSTRASI SUASANA : Ki Anang Sarwanto sebagai dalang yang bertugas di pusat kendali pentas wayang digi-virtual Dalang Tiga Negara, di resto Bali Ndeso (SMS.Com, 23/8), menampilkan ilustrasi suasana pandemi Corona dengan gambar gunung meletus dan hujan wabah virus untuk menguatkan lakon ''Semar Mbangun Jagat''. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Tak Terlihat Peran Ahli Pedalangan Profesional

KEBERHASILAN event pentas wayang digi-virtual ”Dalang Tiga Negara” yang disuguhkan sebuah EO di resto Bali Ndeso, Desa Kemuning, Kecamatan Ngargoyoso, Karanganyar, beberapa waktu lalu (SMS.Com, 23/8), tanda-tandanya memang banyak. Namun keberhasilan pentas yang disiarkan langsung secara digital-virtual berskala internasional itu bukannya tanpa cacat, karena ada banyak kelemahan baik teknis maupun nonteknis, yang disebabkan oleh sifat teknologinya maupun faktor manusianya.

Keberhasilan memasukkan materi utama seni pertunjukan wayang kulit di pentas dunia, memang boleh diakui. Karena, materi kesenian tradisional produk kultur Jawa yang dijadikan suguhan utama melalui teknologi internet itu, baru kali pertama terjadi di Tanah Air maupun di level internasional.

Terlebih, siaran pentas wayang berdurasi kurang lebih 90 menit secara langsung melalui perangkat digital virtual itu, melibatkan tidak hanya tiga, tetapi empat dalang dari empat negara sekaligus, dalam waktu yang sama, antara pukul 20.30 hingga 22.00. Meskipun, Ki Prof Dr Joko Susilo yang melakukan sulukan dan antawecanan dari kediamannya di New Zealand, berasal dari dari satu negara yang sama dengan Ki Anang Sarwanto, yaitu Indonesia.

Sedangkan satu-satunya dalang wanita, adalah Nyi Cecile Hurbault yang ikut terlibat dialog (antawecana) saat memainkan tokoh Puntadewa, dalam lakon ”Semar Mbangun Jagat”. Dalang keempat yang yang memainkan tokoh Petruk versi Sunda adalah Ki Mattew Issac Cohen dari sebuah negara bagian di Amerika (USA).

Beda Tempat, Beda Cuaca

Pentas wayang yang diiringi musik kontemporer eksperimental gabungan antara beberapa unsur (balungan) gamelan dengan instrumen band itu, berlangsung antara pukul 20.00 hingga 22.00. Tetapi, Ki Joko Susilo bersama istrinya yang asli warga setempat di rumah, ikut berperan dalam pentas itu ketika waktu setempat menunjukkan pukul 02.30.

Sementara, Ki Mattew yang menyuarakan tokoh Petruk dalam bahasa Jawa campur bahasa Inggris dan Indonesia, sesuai logatnya dari kediamannya itu, dimungkinkan masih menikmati suasana pagi karena waktu setempat selisih antara 10-11 jam dengan waktu Indonesia. Sedangkan Nyi Cecile di kediamannya sebuah kota di Perancis, tampil dengan busana kesehariannya tampak memainkan peran Puntadewa yang juga dengan bahasa Jawa campuran tiga bahasa, dalam suasana siang karena antara Prancis dan Indonesia selisih sekitar 7 jam.

Pentas wayang dengan dalang dari empat negara itu, ternyata juga disaksikan dalang profesional sekaligus intelektual kampus ISI Solo, Ki Purbo Asmoro. Namun yang bersangkutan tak bersedia memberi komentar ketika dimintai pandangannya oleh suaramerdekasolo.com.

digi-virtual Dalang2
TAMPILKAN WAJAH DALANG : Dengan memasang peralatan pentas yang bisa menampilkan wajah dalangnya, maka properti pentas wayang kulit digi-virtual terkesan ”trapaksa” menata seperti yang terlihat. Layar sebagai ciri pertunjukan wayang kulit purwa, justru berada di belakang dalangnya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Wah ..mas…maaf sekali, saya enggak usah berkomentar saja nggih. Anggap saja sesama bus kota, enggak boleh saling mendahului. Dari pada saya dimungsuh (dimusuhi), lebih baik diam. Maaf nggih,” jawab eks Ketua Pepadi Cabang Solo yang memiliki/memimpin Sanggar Mayangkara di kediamannya Gebang, Kadipiro, Banjarsari, Solo itu, saat dihubungi lehat telepon, kemarin.

Jaga Proses Apresiasi

Selain Ki Purbo bersama istri, event malam itu juga dihadiri Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus Sekjen FKIKN. Pengageng Sasana Wilapa Keraton Mataram Surakarta yang bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertiyah diundang ke situ, untuk ikut berbicara mengenai event, content wayang kulit dan membagikan penghargaan berupa kekancingan  berisi gelar kekerabatan kepada 11 tokoh yang terlibat dalam event itu.

Namun, dari inti pembicaraan yang disampaikan Gusti Moeng lebih tertuju pada sajian wayang kulit dengan dalang dari empat negara, yang dipandu dari pusat penyiarannya menggunakan medium bahasa Jawa. Meskipun, Ki Joko Susilo, Ki Mattew dan Nyi Cecile berusaha menjaga kelancaran proses apresiasi itu menggunakan bahasa Inggris, dengan harapan agar penonton di berbagai negara bisa menangkap maksud dan makna content pentas wayang.

Gusti Moeng terkesan tertarik mengomentari pentas wayang kulit itu, karena dirinya adalah tokoh penting dalam pelestarian berbagai kesenian tradisional yang sumbernya dari budaya Jawa, bahkan bersumber dari yang selama ini dijaga dan dirawat Keraton Mataram Surakarta. Dan ketika secara khusus menunjuk wayang kulit purwa gaya Surakarta, tentu sumbernya dari Keraton Mataram Surakarta seperti tertulis dalam beberapa Serat Pustaka Raja, termasuk bahkan beberapa jenis wayang lain seperti gedog dan wayang madya.

Dari sisi penikmat atau penonton, kelemahan yang dirasakan tentu pada soal penggunaan bahasa yang seharusnya lebih baik mediumnya bahasa Indonesia. Sebab, antawecanan saat adegan Panakawan Semar, Gareng, Petruk dan Bagong yang dilakukan Ki Anang Sarwanto, banyak menggunakan bahasa Jawa (konvensional).

Tetapi tampak sekali tidak ”nyambung” (conect), ketika Ki Mattew dan Nyi Cecile menyahut, karena dialog yang seharusnya membahas bagaimana Kyai Semar Badranaya memperbaiki jagat, menjadi tak jelas, bahkan keluar dari konteks. Masih mending yang dilakukan Ki Joko Susilo, yang berusaha ikut membantu, tetapi sayangnya dilakukan dengan membaca naskah.

digi-virtual Dalang3
SEBAGAI SEORANG AHLI : Ki Prof Dr Joko Susilo, adalah dalang profesional dan ahli di bidang seni pakeliran. Tetapi, penampilannya saat berdialog dengan Ki Mattew Cohen yang memgang tokoh Cepot versi Sunda (Petruk) dan Ki Anang Sarwanto, nyaris tak terlihat dilibatkan secara profesional menggarap pentas itu menjadi lebih menarik dan berhasil dalam menyampaikan pesan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Perlu Ditunjukkan Perbandingannya

Kelemahan berikut terletak pada esensi maksud dan tujuan event itu mau apa?. Karena, keragu-raguan Gusti Moeng saat memberi komentar, ternyata dilatarbelakangi rasa ”pekewuh” untuk mengungkapkan apa yang terlihat yang terkesan tidak sesuai atau bahkan bertolakbelakang.

Kalau yang dimaksud untuk menunjukkan bahwa wayang kulit bisa digarap, agar para penonton dari berbagai latarbelakang kultur di luar negeri itu bisa menangkap pesan yang disampaikan pentas, di situlah letak tantangannya. Karena, panitia atau dalangnya tidak terus terang menjelaskan kepada audien, bahwa wayang kulit yang disajikan bukan klasik konvensional.

”Sebenarnya, kesempatan seperti itu malah digunakan untuk menjelaskan beda yang sudah begitu jauh. Misalnya, jenis yang dipentaskan itu dinamakan bentuk garap apa, kok diiringi instrumen band dan balungan dan kendang? Kalau klasik konvensional, perlu ditunjukkan contoh singkat saja”.

”Bahasanya juga perlu dipilih yang tepat. Jadi, jangan sampai publik yang belum tahu, terutama dari kalangan milenial, menganggap wayang kulit purwa asli seperti itu. Ini yang diperlu diperhatikan penyelenggara,” tunjuk Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, yang antara lain membawahi lembaga Sanggar Pawiyatan Dalang Keraton Surakarta.

Wayang Kulit Tanpa Kelir

Apa yang disinggung Gusti Moeng itu, memang menjadi bagian kelemahan sajian pentas wayang yang disebut para ahli seni pertunjukan karena kurang proporsional. Percakapan saat Nyi Cecile, Ki Joko dan Ki Mattew berantawecana terhenti beberapa menit, adalah ciri-ciri kelemahan jenis teknologi siaran digi-virtual, karena cuaca di berbagai negara mungkin sedang tidak stabil.

Kelemahan yang sangat terasa, memang pada koordinasi penampilan masing-masing dalang yang karena kurang rapi pembagian peran dan pemilihan medium bahasanya. Itu yang menyebabkan pesan yang disampaikan sulit dipahami penonton usia muda (milenial) dan rata-rata penonton dari luar negeri.

Seharusnya karya seperti melibatkan para ahli profesional di bidangnya, misalnya dosen-dosen jurusan pedalangan yang menyangkut teknis koordinasi dan profesional seperti Ki Sudjiwo Tedjo misalnya, yang menyangkut makna isi pesan yang ingin disampaikan. Secara visual, pentas wayang kulit tanpa kelir (layar), itu sangat mengganggu estetika dan akal sehat.

digi-virtual Dalang4
KURANG MENDUKUNG : Penampilan Nyi Cecile Hurbault (Prancis) di pentas wayang dalang tiga negara bersama dua dalang lain di resto Bali Ndeso malam itu (SMS.Com, 23/8), terkesan ”kurang mendukung” content acara siaran wayang kulit purwa yang menjadi kebanggan bangsa dan diakui Unesco itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Kalau saya, yang saya tahu bahwa keraton punya koleksi wayang kulit purwa yang klasik konvensional. Maka, perlu disesuaikan antara materi yang digarap dengan maksud/tujuannya untuk apa? Sebenarnya, ini kesempatan yang baik untuk promo potensi budaya bangsa yang beranekaragam itu. Karena, (event) itu awal yang bagus perlu diteruskan dengan materi yang lebih bagus lagi,” harap Gusti Moeng. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun