Warga ”Bumi Reog” tak Bisa Dipisahkan dari Mataram Surakarta

bumi reog4
BUKTI HUBUNGAN ISTIMEWA : Kehadiran rombongan seni Reog dan Rethek Ogleng dari Pakasa Cabang Ponorogo di hampir setiap Keraton Mataram Surakarta menggelar upacara adat, merupakan salah satu bukti betapa hubungan antar kedua masyarakat itu begitu istimewa sejak tahun 1700-an hingga kini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Membangun Kesadaran, Memperkuat Legitimasi Peradaban (2-bersambung)

BERKACA dari perjalanan sejarah Keraton Mataram Kartasura (1677-1742), masyarakat Kabupaten Ponorogo yang sejak republik berdiri (1945) menjadi wilayah Provinsi Jateng, jelas memiliki hubungan emosional, sosial dan kultural yang sulit dilupakan. Bahkan, warga ”bumi reog” Ponorogo ini, merasa tidak bisa dipisahkan dari eksistensi Keraton Mataram, sekalipun sudah pindah ke Desa Sala menjadi Keraton Mataram Surakarta mulai tahun 1745.

Sebab itu, bagi masyarakat ”bumi warok”, Keraton Mataram Kartasura dan Mataram Surakarta adalah sesuati yang istimewa. Begitu pula sebaliknya, bagi masyarakat adat yang melegitimasi Lembaga Dewan Adat (LDA) Mataram Surakarta, memandang ”bumi reog” sebagai bagian dari peradaban yang istimewa.

Sebagai ilustrasi singkat yang melatarbelakangi hubungan istimewa itu, adalah ketika sinuhun Paku Buwono (PB) II hendak dibunuh Mas Garendi dan Keraton Kartasura diporakporandakan oleh gabungan tiga kekuatan dalam peristiwa ”Geger Pecinan” di tahun 1720-an. Sinuhun PB II melarikan diri ke arah timur, dan singgah di Pondok Pesantren Gebang Tinatar, Tegalsari yang waktu itu dipimpin Kyai Khasan Besari.

Ikatan Sudah Lama Terjalin

Bertahun-tahun tinggal di pondok pesantren itu, tak hanya belajar ilmu agama dari Kyai Khasan Besari yang kemudian menjadi guru spiritualnya. Melainkan juga mengadakan konsolidasi serta koordinasi dengan Bupati Ponorogo Surobroto, pinisepuh Jayengrono serta para wira’i (warok), untuk menyusun kekuatan bersama dukungan para santri.

bumi-reog1
FIGUR REPRESENTATIF : KRA Gendut Hadipura selaku Ketua Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim), menjadi sosok figur representatif warga ”Bumi Reog” itu, ketika menerima kekancingan gelar kekerabatan dari Ketua LDA Gusti Moeng, beberapa waktu lalu. Penghargaan itu sebagai simbol untuk menyambung kembali hubungan istimewa antara Keraton Mataram Surakarta dengan Ponorogo. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Atas dukungan berbagai komponen warga Ponorogo, akhirnya  Keraton Mataram Kartasura bisa direbut kembali (1740-an). Tetapi kondisinya sudah terlanjur dalam keadaan rusak parah. Kira-kira seperti itu yang melatarbelakangi hubungan antara Keraton Mataram (Kartasura) dengan warga Ponorogo.

Atas dasar itu, hubungan yang kemudian terjalin kembali dalam dekade terakhir ini, lebih tepat disebut hanya melanjutkan saja dari yang dulu sudah ada ikatan, karena sempat terputus beberapa waktu lalu. Latar belakang hubungan seperti itulah yang kemudian melahirkan ciri-ciri masyarakat di ”Bumi Warok” itu, mirip ciri-ciri masyarakat di Surakarta.

Bersama beberapa daerah di sekitar Ponorogo itu, bahkan lebih dikenal sebagai wilayah ”Mataraman”, karena latarbelakang kultur dan historisnya lebih dekat dengan pusat pemerintahan Keraton Mataram Surakarta. Meskipun, ada latar belakang historis yang mendahului berpengaruh sebelum Mataram, karena ada peradaban Majapahit dan Kediri antara abad 14-15.

”Jadi, kalau sekarang LDA yang dipimpin Gusti (GKR) Wandansari Koes Moertiyah menyambung lagi tali persaudaraan, dengan simbol kekancingan gelar kekerabatan. Itu sangat wajar. Itu tepat sekali,” tegas KRA Gendut Hadipuro selaku Ketua Pakasa Cabang Ponorogo, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.  

Beda Tapi Jelas

Melihat ilustrasi itu, jelas sekali ada yang beda antara legitimasi yang dibangun berdasar kesadaran kolektif melalui di event Pentas Wayang Dalang Empat Negara (SMS.Com, 23/8), dengan gelar sebuah peristiwa wisudan yang digelar LDA di ndalem Kayonan, Baluwarti, Rabu (19/8).

bumi-reog2
BANYAK EVENT BUDAYA : Masyarakat Kabupaten Ponorogo memiliki banyak event budaya yang bersumber dari Keraton Mataram Surakarta, tetapi berkembang sesuai kekhasan daerah setempat. Misalnya event lomba seni budaya menyambut 1 Sura, seperti saat dikunjungi Pengageng Kusuma Wandawa KGPH Puger dan rombongan, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kalau wisudan terhadap 11 tokoh penerima gelar kekerabatan di event pentas wayang digi-virtual itu, sebagai bentuk pengakuan dan penghargaan atas dedikasi para tokoh itu dalam menjaga dan melestarikan seni budaya karya peradaban Jawa, tetapi gelar kekerabatan yang diberikan kepada 40-an warga Pakasa Cabang Ponorogo untuk menyambung hubungan dan penghargaan atas jasa-jasa masyarakat ”bumi reog” itu dalam mendukung Sinuhun PB II merebut kembali Keraton Kartasuta.

Meski ada perbedaan alasan yang melatarbelakangi, tetapi penghargaan yang diwujudkan dengan sebuah partisara berisi kekancingan gelar kekerabatan itu, tentu memiliki makna filosofi seperti yang terkandung dalam kalimat ”mugi hanetebi apa sing dadi gawa-gawene”.

Artinya, penghargaan itu diberikan tidak asal-asalan atau iseng, tetapi didasari latar belakang dan tujuan jelas, posisi legal standing lembaga pemberi sangat bisa dipertanggungjawabkan dan diberikan kepada pihak-pihak yang jelas identitas dan asal-usul serta peruntukannya.

Alat Ukurnya Jelas

Dengan rumusan alat ukur seperti itu, maka kekancingan yang diberikan Gusti Moeng selaku Ketua LDA kepada 40-an warga Pakasa Cabang Pacitan (19/8), sangat memenuhi sejumlah indikator tersebut. Begitu pula, penghargaan serupa yang diberikan kepada Nyi Endang Sedep dan 10 tokoh yang bersamanya di Resto Bali Ndeso (22/8), kemudian 40-an warga Pakasa Cabang Boyolali (23/8), sudah tidak perlu diragukan lagi.

Bila 11 tokoh yang terlibat pentas wayang digi-virtual berasal dari publik dari luar masyarakat adat yang karena dedikasinya pantas mendapat penghargaan dari lembaga penjaga peradaban (Mataram dan Jawa), maka 40-an warga Pakasa Cabang Boyolali menerima penghargaan karena telah merawat aset peninggalan peradaban Mataram, yaitu Masjid Suyudan beserta benda bersejarah yang ada di dalamnya yaitu kursi pelenggahan Sinuhun PB X dan bedug yang dibuat untuk melengkapi masjid.

bumi reog3
TERBESAR DI JATIM : Jumlah anggota Pakasa Cabang Ponorogo terbesar di Jatim, karena penghargaan atas hubungan yang istimewa itu diberikan Keraton Mataram Surakarta sedikitnya setahun sekali. Misalnya, kekancingan yang diserahkan Gusti Moeng (Ketua LDA) kepada 40-an anggota Pakasa ”Bumi Reog” dalam menyambut 1 Sura di ndalem Kayonan, Baluwarti, Rabu malam (19/8) itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Jadi, betul sekali apa yang disampaikan KRA Gendut soal hubungan yang istimewa antara Mataram Surakarta dan warga Ponorogo sekarang ini. Sampai kapanpun, hubungan historis kultural itu tak akan pernah bisa dilupakan. Apalagi dihilangkan. Tidak bisa”.

”Begitu pula hubungan keraton dengan warga yang telah merawat semua peninggalan leluhur di berbagai tempat, termasuk di Boyolali itu. Jadi, alasan mengapa mereka mendapat penghargaan itu jelas, dan sangat memenuhi syarat”, tegas Gusti Moeng.

Sudah Dilindungi Yayasan

Bahkan, pemegang jabatan Pengageng Sasana Wilapa sejak 2004 menandaskan, para tokoh pendukung pentas wayang digi-virtual itu termasuk salah satu penerima penghargaan yang sangat memenuhi syarat. Karena, mereka ikut menjaga dan melestarikan budaya Jawa melalui profesi masing-masing.

Dengan alat ukur seperti itu, maka menjadi jelas dan legal segala produk lembaga LDA karena memang sudah berbadan hukum. Penghargaan yang diberikanpun, legal standingnya juga jelas karena organisasi Pakasa  berbadan hukum alias berdasar legalisasi dari Kemenkumham dan Kemendagri.

Bersamaan dengan itu, Gusti Moeng juga sudah memperkuat posisi Keraton Surakarta dengan yayasan yang dibentuknya beberapa saat setelah 2004. Bahkan Sanggar Pasinaon Pambiwara dan Sanggar Pawiyatan Beksa serta Sanggar Pawiyatan Dalang Keraton Surakarta, sudah dilindungi badan hukum Yayasan Sanggar Kabudayan Keraton Surakarta. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun