Pergelaran wayang Kulit Purwa dari Ponorogo, Pantura, Hingga Pentas Empat Negara

simbol-peradaban-mataram1
TOKOH MODEL : Gusti Moeng selaku Ketua LDA sangat mengapresiasi para perancang busana yang mengangkat/mengeksplorasi kekayaan motif adat (Jawa), yang ditandai dengan memberi penghargaan gelar kekerabatan kepada Salah seorang model yang mengisi fashion show pada event yang digelar di resto Bali Ndeso, Karanganyar, Sabtu malam (22/8) itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Membangun Kesadaran, Memperkuat Legitimasi Peradaban (1-bersambung)

PERGELARAN wayang kulit purwa ”gaya Surakarta” yang disajikan secara digi-virtual dari empat negara yang dikendalikan dari rumah makan Bali Ndeso, Desa Kemuning, Ngargoyoso, Karanganyar (SMS.Com, 23/8), di satu sisi memperlihatkan bagaimana upaya berbagai komponen bangsa ini menyiasati pandemi Corona. Karena, penyebaran virus ini telah membatasi ruang ekspresi kalangan seniman dan pelaku seni lainnya, bahkan melumpuhkan sendi-sendi kehidupan bangsa ini, terutama kehidupan ekonomi.

Namun di sisi lain, dalam rangka menyiasati itu, justru ada celah terbuka lebar yang seakan memberi peluang kepada warga peradaban secara luas, dan khususnya masyarakat adat yang terhimpun dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta.

Yaitu peluang untuk membangun kesadaran terhadap jati diri masing-masing, bahwa dirinya adalah warga peradaban yang punya tanggungjawab untuk selalu menjaga asal-usul ”busana peraban” yang hingga kini masih ”dikenakan”.

Kebanggan Warga Peradaban

Dalam situasi yang terbatasi ruang geraknya, terutama ruang gerak berekspresi, lahir dan tebangunlah kesadaran pada asal-usul tata nilai yang telah memberi arah dan menuntun kehidupan sosial warga peradaban, baik peradaban Mataram secara spesifik maupun peradaban Jawa yang lebih luas.

Karena, masyarakat adat peradaban Mataram itulah yang selama ini menjadi pengayom sekaligus pelestari produk-produk peradaban Jawa, termasuk kemampuan profesional dalam seni pedalangan yang kini dimiliki Ki Anang Sarwanto dan Ki Prof Dr Joko Susilo.

Bahkan, kemampuan profesional dalam cabang seni lain yang bersumber dari peradaban Jawa seperti yang dimiliki Nyi Endang Sedep, pemilik rumah makan Bali Ndeso yang bangga sebagai warga peradaban (Jawa), yang memulai kehidupannya sebagai seorang pesinden di TBS/ISI Solo.

Juga yang dimiliki sejumlah tokoh di antara 11 penerima partisara kekancingan (piagam surat keputusan), yang berisi gelar kekerabatan, yang diserahkan GKR Wandansari Koes Moertiyah, malam itu. (SMS.Com, 23/8).

simbol-peradaban-mataram2
UNTUK EKS PESINDEN : Untuk tokoh Nyi Endang Sedep, eks pesinden yang sukses berusaha di bidang usaha resto, Gusti Moeng juga memberi penghargaan gelar kekerabatan, karena kepeduliaannya dalam pelestarian budaya (Jawa), salah satunya menjadi tempat digelarnya event pentas wayang Dalang Tiga Negara, Sabtu malam (22/8) itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Terlahir dengan Label Jawa

Diakui atau tidak, Ki Anang Sarwanto telah memiliki kemampuan prefesional sebagai seniman pedalangan yang sebagian besar pengetahuan yang dipelajarinya bersumber dari  Keraton Mataram Surakarta (gaya Surakarta). Berbagai hal yang melengkapi dalam kehidupannya sebagai etnik atau wong Jawa, bersumber dari peradaban Jawa yang selama ini dipelihara warga peradaban Mataram.

Kira-kira hampir sama dengan yang telah membentuk Nyi Endang Sedep, juga Ki Prof Dr Joko Susilo dan lai-lain sesuai profesi bidang seni yang dimiliki. Peradaban yang membentuk dan menuntun sejak lahir dan menjalani kehidupannya hingga menjadi kepribadian yang berkarakter kuat sekarang, sulit dipungkiri karena label (budaya) Jawa itu.

Atas dasar itulah, tidak aneh apabila GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng itu, menyerahkan sebuah penghargaan sekaligus pengakuan kepada 11 nama tokoh penting yang terlibat dalam Pergelaran Wayang Kulit Digi-Virtual; Dalang Tiga Negara, malam itu.

Penghargaan itu berupa partisara kekancingan berisi gelar kekerabatan yang diserahkan langsung oleh Gusti Moeng di akhir acara, malam itu. Gusti Moeng ikut hadir dalam event bergengsi bersama sejumlah tokoh penting di itu, mengingat posisinya selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, bahkan selaku Sekjen Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN) yang anggotanya tersebar di berbagai wilayah di Nusantara ini.

Bangsa Lain Juga Cinta Jawa

Dan apa yang diserahkan malam itu, merupakan bentuk pengakuan sekaligus penghargaan kepada sejumlah tokoh yang dipandang punya dedikasi dan pengabdian untuk melestarikan seni budaya produk peradaban Jawa. Termasuk dalang wanita asal Perancis Ny Cecile Hurbault dan dalang asal USA Ki Mattew Issac Cohen, meskipun keduanya warga asing yang lahir bukan dari wilayah peradaban Jawa.

simbol-peradaban-mataram3
TETAP WARGA PERADABAN : Walau sudah tinggal bersama keluarga di New Zealand, Prof Dr Joko Susilo tetap terus mendarmabhaktikan hidupnya di bidang profesinya. Dedikasi itu yang diapresiasi Gusti Moeng dengan penghargaan gelar kekerabatan, yang dititipkan salah seorang rekannya yang hadir di Resto Bali Ndeso, Sabtu malam (22/8) itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Bagi kami, semua yang mendapat kekancingan itu, karena sudah memperlihatkan dedikasinya dalam ikut melestarikan budaya Jawa. Kami sangat menghargai pengabdian itu. Itu sama saja memperkenalkan budaya Jawa. Dan mereka itu, tentu ikut melestarikan budaya Jawa”.

”Termasuk dalang yang profesor asal Indonesia, bahkan warga Prancis dan Amerika (USA), yang mau memperkenalkan seni pedalangan wayang kulit purwa di negara masing-masing. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih,” jelas Gusti Moeng sambil menyinggung sebagian sambutannya di event pentas wayang Dalang Tiga Negara itu, saat dihubungi suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Pengakuan dan penghargaan yang diberikan Gusti Moeng kepada 11 tokoh yang terlibat event berskala internasional itu, tentu memiliki arti penting dalam memperkuat legitimasi terhadap peradaban yang sudah terbukti menjadi ciri kepribadian, bahkan secara nasional. Karena, kesadaran yang mulai bermunculan di mana-mana di wilayah yang sangat luas, tentu menjadi modal dasar dalam membangun kembali guna memperkuat legitimasi peradaban itu.  

Penghargaan terhadap Kesetiaan

Fakta-fakta yang lahir dan terbangunnya sebuah kesadaran kolektif ini, bisa dilihat dari aktivitas LDA yang menjadi wadah perwakilan trah darahdalem Sinuhun Amangkurat Agung hingga PB XIII itu belakangan ini.
Motor penggerak Lembaga Dewan Adat ini yang selama ini proaktif bergerak, mulai dari safari ziarah di makam/petilasan leluhur Mataram di sepanjang Pantura selama beberapa tahun ini, hingga beberapa peristiwa yang terjadi menjelang peringatan Tahun Baru Jawa Jimakir 1954 di malam 1 Sura lalu.

Dalam peristiwa wisudan yang berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti di malam menjelang 1 Sura (Rabu, 19/8), ada 40-an warga Pakasa Cabang Ponorogo yang menerima pengakuan dan penghargaan berupa kekancingan seperti itu. Bersamaan dengan itu, juga ada 40-an warga dari leluhur peradaban Mataram dari Jepara dan dua daerah dari Jatim yaitu Nganjuk dan Kediri.

simbol-peradaban-mataram4
PERAWAT SIMBOL PERADABAN : Selaku Ketua LDA, Gusti Moeng memberi penghargaan berupa gelar kekerabatan kepada salah seorang anggota Pakasa Cabang Boyolali, karena ikut merawat Masjid Suyudan, salah satu simbol peradaban Mataram peninggalan Sinuhun PB X yang ada di Boyolali Kota, Minggu siang (23/8).(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Peristiwa terbaru, adalah wisudan terhadap 43 warga Pakasa Cabang Boyolali, yang berlangsung di kompleks Masjid Suyudan, Boyolali Kota, Minggu, 23/8. Pengakuan dan penghargaan yang diberikan, atas dasar kesetiaan dan kecintaan warga di situ dalam menjaga dan memelihara sebuah masjid yang dibangun Sinuhun PB X (1893-1939).

”Mereka juga menjaga kursi pelenggahan (tempat duduk) Sinuhun (PB X) yang ada di dalam masjid. Juga bedug yang ada di situ. Barangnya masih asli, tetapi tadinya sudah rusak karena usianya seratusan tahun. Sekarang sudah direnovasi. Karena LDA punya legal standing dan berbadan hukum. Sudah sewajarnya mengapresiasi kesetiaan dan dedikasi dalam pelestarian simbol-simbol peradaban itu,” tegas Gusti Moeng. (Won Poerwono-bersambung)  

Editro : Budi Sarmun