Menyambut Tahun Jimakir 1954 dan ”Piagam Kedudukan”

Tahun-Baru-Jawa Jimakir4
PATUT MENJADI CONTOH : Suasana donga wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa Jimakir 1954 di Masjid Agung Keraton Surakarta, malam 1 Sura atau Rabu malam (19/8), patut menjadi contoh publik secara luas. Soal kepatuhannya mengikuti aturan protokol Covid 19 tak perlu diragukan, karena merupakan ciri kepribadian warga peradaban Mataram dan Jawa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

 *Ingatkan Pemerintah untuk Jalankan Amanat Konstitusi

SETIAP datang Tahun Baru Jawa pada tanggal 1 Sura  yang kali ini tepat pada Tahun Jimakir 1954, menjadi momentum dan saat yang istimewa bagi warga peradaban Jawa khususnya. Tetapi juga bisa istimewa bagi publik secara luas, karena biasanya Tahun Baru Jawa datang bersamaan dengan Tahun Baru Hijriyah, karena Raja Mataram Islam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma telah mempertemukannya secara akulturatif sebagai kalender nasional.

Namun, datangnya Tahun Baru Jawa yang selalu diperingati di malam menjelang tanggal 1 (bulan) Sura seperti pada tahun Jimakir 1954 ini, dianggap kurang istimewa bagi warga peradaban Jawa, atau bahkan publik secara luas.

Baca : Nama ”Kartasoera” Lebih Dikenal dari pada ”Soekahardja’

Hal yang tidak istimewa itu terletak pada aturan protokol Covid 19 yang harus dipatuhi, mengingat Kota Surakarta tempat penyelenggaraan upacara adat peringatan itu, kini sedang dalam kondisi luar biasa (KLB) akibat pandemi Corona.

Akibat status KLB yang sedang disandang ”Ibu Kota” Keraton Mataram Surakarta itu, Satgas Covid 19 tidak bisa mengizinkan Keraton Surakarta menggelar kirab pusaka. Karena prosesi kirab yang biasanya berjalan keliling rute kirab sejauh sekitar 7 KM di luar kawasan keraton, pasti mengundang warga dari dalam dan luar kota sampai belasan ribu orang, datang berbondong-bondong dan berkerumun di sepanjang rute yang dilalui kirab.

Baca : Berbagai Cabang Seni Berkembang Pesat di Zaman ”Kartasoera”

Bijak dan Sabar Menyikapi

Karena pembatasan akibat protokol Covid 19 itu pula, spanduk pengumuman tentang kirab pusaka yang ditiadakan, dipasang di mana-mana. Inilah yang seolah-olah ”melarang” publik secara luas, agar tidak berdatangan ke Kota Solo.

Karena pengalaman sebelumnya menyebut, setelah kirab pusaka di Pura Mangkunegaran selesai sekitar pukul 21.00, berlanjut ke kawasan Keraton Surakarta untuk menyaksikan kawanan kagungandalem mahesa Kiai Slamet menjadi cucuk limpah kirab yang dimulai pukul 00.00 dini hari.

Baca : Langkah yang Arif dan Bijak Versus Perusakan yang Masif dan Sistemik

”Mungkin karena tidak bisa bersama-sama kawan dan keluarga menyaksikan puncak kirab pusak di keraton itu, dianggap keistimewaan menyambut 1 Sura jadi hilang. Kita harus bijak dan sabar menyikapi suasana ini. Tahun depan ‘kan masih ada 1 Sura”.

Tahun-Baru-Jawa-Jimakir1
ATURAN PROTOKOL KETAT : Sesampai di topengan Masjid Agung,Keraton Surakarta, semua peserta doa wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa malam 1 Sura tahun Jimakir 1954 tanpa kecuali, Rabu malam (19/8) itu, syaratnya harus memenuhi aturan protokol Covid 19 secara ketat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Berdoa atau nyenyuwun menyambut 1 Sura ‘kan bisa dari rumah masing-masing. Tidak harus datang ke Solo/kraton, karena situasinya memang masih pandemi Corona,” jelas KPH Edy Wirabhumi, penyelenggara doa wilujengan, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Peringatan Piagam Kedoedoekan

Tetapi, bagi masyarakat adat warga peradaban Mataram yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) sebagai pemelihara peradaban Jawa, menyambut malam 1 Sura tahun 2020 ini tetap istimewa. Karena, upacara adat yang digelar di kagungandalem Masjid Agung Keraton Mataram Surakarta Rabu (19/8) mulai pukul 20.30 WIB malam itu, bertepatan dengan peringatan 75 tahun ”Piagam Kedoedoekan” (Piagam Kedudukan).

Baca : Tuduhan Pro dan Antek Belanda, tak Ada yang Bisa Membuktikan

”Dalu menika, Lembaga Dewan Adat ngawontenaken donga wilujengan mapag Tahun Anyar Jimakir 1954, dawah malem tanggal 1 Sura. Kaleresan, ugi sareng kaliyan wilujengan hamengeti suruddalem utawi khol (haul) Sinuhun Paku Buwono X. Ingkang ndadosaken dalu menika istimewa, sesarengan kaliyan dawah jangkep 75 tahun Piagam Kedudukan (bukan Maklumat Sinuhun PB XII-Red) ing tanggal 19 Agustus, dinten menika”.

Tahun-Baru-Jawa-Jimakir3
IKUT AMONG TAMU : Sebagai salah seorang penyelenggara, KPH Edy Wirabhumi ikut menjadi among tamu sambil mengarahkan para peserta donga wilujengan untuk duduk jaga jarak dan aturan protokol Covid 19 lainnya, sebelum upacara adat menyambut Tahun Baru Jawa Jimakir 1954 di kagungandalem Masjid Agung dimulai, malam 1 Sura, Rabu (19/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Donga wilujengan lan tahlil dzikir shalawat Sultanagungan lan syahadat Quresh, sampuan kalampahaken kanthi wilujeng. Keleresean malih, menika sarengan kaliyan wilujengan dhukutan. Dados, mboten perlu kuciwa amargi mboten saget mirsani kirab pusaka. Amargi, kula lan panjenengan kedah taat aturan protokol Covid 19. Keistimewaan wilujengan dalu menika mugi saget dados jampi,” ujar GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua LDA.

Ucapan Ketua LDA sekaligus penanggungjawab upacara yang akrab disapa Gusti Moeng itu, disampaikan baik saat mengantar upacara maupun sambutan menutup seluruh rangkaian upacara adat di Masjid Agung, malam itu. Beberapa hal itu, masih disinggung lagi saat diwawancarai para awak media di serambi masjid, malam itu.

Baca : Seminar Workshop Busana Adat, Awal yang Fundamental

Dari pada Asal Ada

Soal kirab pusaka yang sudah dikenal publik secara luas, Gusti Moeng hanya menjawab memang ditiadakan karena harus taat pada aturan Satgas Penanggulangan Covid 19. Tetapi hikmah dan sisi positifnya bagi LDA, selain menghindari penularan baru yang bisa terjadi akibat kerumunan massal, kirab ditiadakan juga baik dari pada diadakan tetapi secara serampangan, asal ada dan jauh dari rasa hormat.

Pengalaman menyambut 1 Sura 2017 hingga 2019 lalu, kirab pusaka terselenggara dengan cara-cara yang sangat jauh dari rasa hormat, Bahkan terkesan melecehkan tata nilai adat, makna filosofi kirab pusaka serta makna karya leluhur Mataram itu sendiri.

Ini karena, sejak 15 April 2017 Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa bersama hampir semua bebedan dan jajarannya dievakuasi 15 April 2017, dan seterusnya dilarang masuk keraton. Padahal Ketua LDA dan para pengageng bebadan serta jajarannya itu yang sangat memahami dan punya kesetiaan bekerja dan ikhlas mengabdi di keraton, demi pelestarian budaya dan eksistensi keraton.

Tahun Baru Jawa Jimakir5
UBARAMPE DISUSULKAN : Setelah didoakan KRT Pujo Sugiyantodipuro, semua ubarampe wilujengan dhukutan yang begitu beragam antara lain nasi wuduk dengan lauk serta jajan pasar, dibagikan dan disantap bersama-sama seluruh peserta donga wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa Jimakir 1954 di Masjid Agung dimulai, malam 1 Sura, Rabu (19/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Tapi hikmahnya malah banyak kok. Dari pada diadakan tapi hanya asal-asalan seperti itu. Masih mending doa wilujengan. Ndilalah, bersamaan dengan peringatan 75 tahun Piagam Kedoedoekan. Jadi, yang kita suwun banyak sekali”.

”Dan yang untuk keselamatan, ketenteraman dan kemakmuran NKRI dengan segenap rakyatnya, pasti diucapkan nomer satu. Setelah itu, baru panyuwunan untuk Keraton Mataram Surakarta dengan seisinya. Termasuk kita-kita ini,” tambah Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com.

Baca : Pekerja Seni Wonogiri Kian Terdesak, Minta Segera Dicarikan Solusi

Berdiri di Belakang NKRI

Perihal Piagam Kedoedoekan yang disinggung saat memberi sambutan penutup, berisi pernyataan Presiden RI Ir Soekarno yang menegaskan Keraton Surakarta tetap pada ”kedudukannya”. Artinya, statusnya tidak berubah, punya hubungan langsung dengan pemerintah pusat, meskipun kedaulatannya sudah diserahkan kepada NKRI, karena Sinuhun PB XII menyatakan Keraton Surakarta ”berdiri di belakang” republik (NKRI).

Informasi penting yang membuat doa wilujengan menyambut Tahun Baru Jawa menjadi istimewa, menurut Gusti Moeng karena sampai Piagam Kedoedoekan berusia 75 tahun, negara/pemerintah belum mewujudkan isi piagam. Lebih dari itu, sampai 75 tahun, negara/pemerintah juga belum melaksanakan amanat konstitusi (UUD 45).

Tahun-Baru-Jawa-Jimakir2
IKUT AMONG TAMU : Sebagai salah seorang penyelenggara, KPH Edy Wirabhumi ikut menjadi among tamu sambil mengarahkan para peserta donga wilujengan untuk duduk jaga jarak dan aturan protokol Covid 19 lainnya, sebelum upacara adat menyambut Tahun Baru Jawa Jimakir 1954 di kagungandalem Masjid Agung dimulai, malam 1 Sura, Rabu (19/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Padahal, pasal 18 UUD 1945 mengamanatkan negara/pemerintah harus mengakui dan menghormati kesatuan masyarakat adat yang sudah ada sebelum republik. Termasuk, pengakuan status Daerah Istimewa Surakarta (DIS) sebagai provinsi, yang lebih dulu diberikan kepada Keraton Surakarta sebelum Jogja, harus segera diwujudkan.

”Karena dalam PP No 16/SD tahun 1946 itu, sebelum ditetapkan dengan undang-undang (bila keadaan sudah normal), bentuk pemerintahan (daerah istimewa) ‘sementara’ bersifat karesidenan. Karena situasi ‘sedang darurat’ (SD) atau tidak normal. Ini yang menjadi sangat penting untuk saya ingatkan terus, setiap datang tanggal 19 Agustus,” tunjuk Gusti Moeng.

Baca : Sultan Sepuh yang Aktif di Dua Organisasi itu Sudah Tiada

Banyak Warga Kecele

Sementara itu, jalannya doa wilujengan dhukutan keblat papat lima pancer yang dipimpin abdidalem ulama KRT Pujo Sugiyantodipuro sempat tertunda beberapa menit, karena ada beberapa uba-rampe kenduri yang dimasak di pawon (dapur) Gandarasan belum matang. Begitu sudah lengkap dan didoakan, nasi gurih dengan beberapa lauk khas dibagikan dan disantap bersama-sama sekitar 600 orang yang hadir, hingga semua bubaran sekitar pukul 22.30 WIB.

Meski spanduk pengumuman peniadaan kirab pusaka dipasang di beberapa tempat,bahkan beberapa media ikut menyebarluaskan, tetapi hingga menjelang pukul 00.00 Kamis (20/8) dini hari, hampir semua jalan di dalam Kota Solo tampak ramai. Artinya, masih banyak warga dari dalam dan luar kota berdatangan, mungkin untuk meyakinkan kabar tentang peniadaan kirab pusaka yang memang benar-benar tidak ada.

Baca : Sanggar Pasinaon Akan Pinjam Ndalem Jayakusuman

Pengumuman serupa,juga terpasang di gapura pintu masuk depan Pamedan Pura Mangkunegaran. Spanduk pengumuman peniadaan kirab pusaka bahkan sudah dipasang dua hari sebelumnya. Namun sekitar pukul 21.00 WIB Rabu malam (19/8) itu, masih terlihat banyak warga yang berjalan kaki mengelilingi tembok pura, meski KGPAA Mangkunagoro IX tidak menggelar kirab pusaka. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun