Nama ”Kartasoera” Lebih Dikenal dari pada ”Soekahardja’

kartasura-sukoharjo2
AKSES PINTU MASUK : Konon, Keraton Mataram Kartasura juga memiliki sejumlah akses pintu masuk seperti yang ada di Kori Brajanala Lor, Baluwarti, kompleks Keraton Mataram Surakarta. Geger Pecinan 1727 disebutkan telah menghancurkan hampur seluruh bangunan yang ada. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kartasura Lebih Dikenal Karena Membawa Berkah Bagi Sukoharjo (2-habis)

PERNYATAAN panjang-lebar Gusti Moeng selaku Ketua LDA saat berbicara di depan perwakilan komponen warga Kelurahan Kartasura yang menamakan diri  ”Komunitas Kartasura Bergerak”, di makam petilasan Keraton Kartasura, beberapa waktu lalu, bisa menjadi titik awal bagi banyak hal positif dalam rangka merawat peradaban Mataram atau Jawa.

Namun, kesadaran kolektif berbagai komponen warga yang sudah mulai terbangun itu, perlu ada panduan ke arah yang tepat dan jelas. Sehingga tujuannya juga jelas dan konstruktif bagi upaya aktivitas komunitas, juga kontrukstif bagi upaya pelestarian bagian-bagian penting peradaban Mataram/Jawa.

Sebab, kesadaran kolektif yang mulai terbangun, akan kehilangan energi dan arah ketika hanya sebatas rutinitas bersih-bersih makam, atau aktivitas yang berbau ekonomis atas pengelolaan makam poetilasan Keraton Kartasura.

Maka, kesadaran kolektif itu perlu diperkaya dengan pemahaman-pemahaman tentang berbagai hal yang berkaitan seluas-luasnya, karena tujuannya adalah memberi makna pada eksistensi peninggalan sejarah di situ. Juga perlu diakomodasi ekspresi dan apresiasi warga terhadap situs peninggalan sejarah Mataram, sesuai dengan apa yang dipahami secara maksimum.

Destinasi Wisata Sejarah

Kemudian, upaya memberi manfaat secara ekonomis kepada warga sekitar tetapi tanpa mengabaikan segala aturan yang ada terutama keberadaan situs yang dilindungi UU BCB No 11 tahun 2010. Dalam kerangka itu, spirit pemuliaan yang paling ideal adalah menjadinya sebagai daerah tujuan/destinasi wisata, terutama wisata sejarah dan spiritual.

Nilai ekonomis yang begitu mendasar dari semangat lahirnya kesadaran kolektif ”Komunitas Kartasura Bergerak”, memang tidak aneh. Karena, nama Kartasura menjadi makin besar dan dikenal, karena produksi beras hingga dikenal sebagai lumbung beras.

Semboyan ”Sukoharjo Makmur” yang dipakai kabupaten ini, karena berdasar pada sejarah panjang sebagai lumbung beras yang hingga kini masih dipertahankan. Dan itu karena faktor ketersediaan air pengairan melimpah dan tanahnya subur yang dinisiasi sejak Keraton Mataram Kartasoera.

Potensi inilah yang kemudian menurunkan bidang ketrampilan kuliner beraneka ragam, hingga berbagai menu masakan khas terutama sega liwet sangat dikenal hingga sekarang. Produk beras ketan yang dikembangkan sejak Kartasoera, juga menghasilkan produk turunannya antara lain berupa industri rumahan jadah, wajik dan krasikan super lezat terutama di Seokahardja tengah (kota).

kartasura-sukoharjo2
BANGSAL KEPUTREN : Meski wujud bangunannya masih ada dan tampak sudah rusak serta tidak terawat di bagian belakang kompleks Keraton Mataram Surakarta, seharusnya bangunan seperti ini juga ada sisa-sisanya di kompleks bekas Keraton Mataram Kartasura yang runtuh akibat ”Geger Pecinan” di tahun 1727. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sang Nenek Cakap Berbisnis

Sentuhan bisnis atas aneka ragam produk itu, datang dari istri Bupati Surabaya (Pangeran Pekik) yang bernama GKR Wandansari. Nenek Sinuhun Amangkurat III inilah yang memiliki kecakapan bisnis, karena dikenal kaya-raya sebagai saudagar emas, perak dan berbagai perhiasan yang produksinya dikerjakan di Kutha Gedhe, bekas ibu kota Mataram.

”Memang benar yang ditulis pak Pur (Dr Purwadi) itu. Banyak yang cocok dengan referensi yang saya dapat sebelumnya. Berbagai kesenian khas seperti tari, karawitan dan pedalangan berikut peralatan yang dibutuhkan (gamelan), mulai ada secara lengkap ya di zaman Mataram Kartasura itu kok,” jelas GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Referensi yang dimiliki Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu juga menyebutkan, kawasan dan bangunan Keraton Kartasura itu, persis sama dengan konsep susunan tata ruang wilayah keraton yang kali pertama dibakukan Raja Mataram Islam Sultan Agung di Ibu Kota Plered. Begitu juga sama atau menyempurnakan karya, pemimpin sebelumnya yaitu Panempahan Senapati sebagai Raja Mataram yang beribukota di Kutha Gedhe.

Konstitusinya Juga Sama

Apa yang sudah dibakukan itu, kemudian ditiru para penerusnya, yaitu Sinuhun Aamangkurat (I) Agung dan juga penerusnya Sinuhun Amangkurat II (Amral), walaupun ibu kota sudah pindah ke Kartasura. Begitu pula ketika Sinuhun PB II memindahkan ibu kota ke Desa Sala, yang kemudian dideklarasikan menjadi nama Surakarta, konsep tata ruang kawasan keraton beserta struktur bangunanan dan makna filosofinya tetap sama.

kartasura-sukoharjo1
MEMBERI PEMAHAMAN : Ketua LDA Keraton Mataram Surakarta, Gusti Moeng memberi pemahaman tentang sejarah singkat makam petilasan Keraton Kartasura dan asal-usulnya, kepada ”Komunitas Kasrtasura Bergerak” di pendapa makam setempat, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat fakta-fakta fisik di lapangan dan referensi dokumen tertulis yang ada, tampak sekali ada sikap konsistensi dan kepatuhan yang luar biasa. Konsistensi dan kepatuhan terhadap tata nilai untuk berbagai hal yang berlaku di lingkungan warga peradaban saat itu, adalah warisan tata nilai yang diproduksi generasi sebelumnya.

Itulah yang kemudian dikenal sebagai tata nilai adat atau paugeran, yang dikenal sebagai hukum adat di zaman setelah NKRI. Dan sejatinya, tata nilai adat yang ternyata mengatur bagaimana menciptakan ruang hidup sosial bernegara itu, tidak ubahnya seperti konstitusi yang menjadi babon segala aturan adat, bahkan sumber aturan hukum positif yang berlaku di negeri ini.

Di mata masyarakat adat seperti halnya LDA yang dipimpin Gusti Moeng, semua hal positif yang sudah diciptakan para leluhur khususnya Mataram, selalu dipegang teguh dan dipepundhi (dijaga dan dihormati). Termasuk konsep tata ruang kawasan keraton, wilayah kedaton dan bangunan inti itu dan sebagainya. Dan mesti ada alun-alunnya di dua tempat, lor (utara) dan kidul (selatan)”.

Makna Filosofinya Sama

Makna filosofi masing-masing tempat dan bangunan itu juga sama. Terstruktur urut sesuai perjalanan kehidupan mulai dari pintu masuk gapura lor, hingga kidul. Namun, di bekas reruntuhan Keraton Kartasura sekarang ini, sudah tidak didapati berbagai fasilitas ibu kota nagari kerajaan itu, termasuk dua alun-alunnya yang masing-masing seluas sekitar 2 hektare.

kartasura-sukoharjo1
MEMBERI PEMAHAMAN : Ketua LDA Keraton Mataram Surakarta, Gusti Moeng memberi pemahaman tentang sejarah singkat makam petilasan Keraton Kartasura dan asal-usulnya, kepada ”Komunitas Kasrtasura Bergerak” di pendapa makam setempat, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Sekarang di mana tempat-tempat itu? Jatuh ke tangan siapa bagian dari situs peninggalan sejarah yang sudah dilindungi UU BCB No 11 tahun 2010 itu?. Belum lama ini saya ditawari agar membeli sebidang tanah di selatan kompleks reruntuhan beteng Keraton Kartasura. Aneh ‘kan?”.

”La wong kami ini warga pewaris/penerus yang merawat peninggalan leluhur Mataram, kok ditawari untuk membeli asetnya leluhur?”, tutur Gusti Moeng mengungkapkan rasa geli bercampur heran mengingat peristiwa yang belum lama dialaminya itu.

Dari referensi yang didapat Gusti Moeng, sebidang tanah yang ditawarkan kepadanya itu, diperkirakan persis dengan tata letak alun-alun kidul Keraton Kartasura. Di bekas wilayah keraton itu juga ditemukan bukit mirip yang ada di Keraton Kulon bagian belakang batas sakral Keraton Surakarta, tetapi kini jadi makam kerabat.

Besalen Pusaka Di mana ?

Di Kartasoera juga ada telaga, tetapi sudah menyempit dan kini hanya mirip kolan ikan untuk tempat bermain warga sekitarnya. Telaga itu seperti yang ada di dalam Keraton Surakarta sekarang ini, yang disebut ”Pemandengan” dan lebih dikenal dengan ”mbandengan”.

”Tetapi saya kok tidak melihat besalen, atau belum menemukan tempat membuat keris atau pusaka keraton. Padahal, keraton-keraton di Jawa sejak Majapahit, selalu ada besalen. Walau Mataram berpindah-pindah dari Plered, Kartasura hingga Surakarta, selalu ada tempat membuat pusaka untuk raja, kerabat dan prajuritnya. La yang di Kartasura ini di mana ya?,” ketus KPP Wijaya Adiningrat, salah seorang ”paranpara” yang mirip ”ensiklopedi keraton Islam” berjalan itu.

Selain fasilitas-fasilitas pusat pemerintahan itu, hasil penelusuran Gusti Moeng menyebut adanya kampung di utara perempatan Kartasura, baik yang di timur maupun di barat jalan menuju Bandara Adi Soemarmo, juga tanah aset pusat pemerintahan Keraton Kartasura (1677-1742).

”Jadi, sejak ada LDA yang berbadan hukum ini, makin banyak laporan masuk. Tetapi prinsipnya, kami tidak akan meminta tanah-tanah itu, sepanjang sudah dimanfaatkan untuk kepentingan publik secara luas. Tetapi memang, perlu pengakuan secara jujur”.

”Bagi yang dikuasai orang perorangan/kelompok, apalagi untuk kepentingan pribadi dan mendatangkan keuntungan pribadi, sebaiknya dibicarakan dengan pihak-pihak berwenang. Agar semua menjadi jelas, berkekuatan hukum dan tidak mengandung unsur pelanggaran hukum dan hak orang/pihak lain,” tegas Gusti Moeng. (Won Poerwono-habis)