Berbagai Cabang Seni Berkembang Pesat di Zaman ”Kartasoera”

tari-bedaya-sukoharjo7
MELALUI TARIAN : Melalui tarian yang bernama Bedaya Sukoharjo, nama kabupaten yang baru lahir di tahun 1946, secara tidak langsung ikut dipromosikan rombongan tari pimpinan Gusti Moeng di ajang pentas dalam rangka hari tari dunia yang digelar ISI Solo, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kartasura Lebih Dikenal Karena Membawa Berkah Bagi Sukoharjo (1-bersambung)

SIAPAPUN yang mendengar nama Sukoharjo disebut-sebut sebagai nama jenis tari ”bedayan”, yang disajikan dalam Seminar Workshop Busana Adat Keraton Surakarta oleh Lembaga Dewan Adat (LDA) di KSPH Solo, Minggu (9/8), seketika itu pasti teringat nama sebuah daerah kabupaten yang berbatasan dengan Kota Surakarta di sebelah selatannya.

Karena, secara jelas daerah itu bernama Kabupaten Sukoharjo yang mempunyai slogan ”makmur”, karena segala prasyaratnya memang memenuhi predikat itu. Dan sejak republik ini berdiri 75 tahun lalu, daerah itu menjadi bagian dari Karesidenan Surakarta, yang kemudian menjadi eks wilayah karesidenan serta akhirnya menjadi bagian dari Solo Raya yang sering disebut subosukowonosraten.

Tetapi, mengapa ada nama Sukoharjo itu?. Jawabannya ada banyak fakta, baik yang berupa naskah sejarah yang disusun pemerhati sejarah Dr Purwadi MHum (Ketua Lokantara), maupun karya seni tari yang berjudul ”Bedaya Sukoharjo” atau ”Badaya Soekahardja”. Sangat mungkin, masih ada karya penelitian lain yang kemudian disusun menjadi sejarah lahirnya Kabupaten Sukoharjo, yang kemudian dijadikan patokan hari jadinya.

Memang benar, entah siapa figur/kelompok yang meneliti kemudian menyusunnya menjadi penjelasan latarbelakang sejarahnya, Kabupaten Sukoharjo sudah menetapkan tanggal 15 Juli menjadi hari jadinya. Dan tepat 15 Juli lalu (2020), Pemkab dan warganya merayakan 74 tahun usia kelahiran daerahnya. Nama wilayah/daerah beserta pemerintahannya, ditetapkan sebagai Kabupaten Sukoharjo pada tanggal 15 Juli 1946, atau kira-kira setahun setelah NKRI lahir.  

Sukoharjo Sudah Disebut

Dengan begitu, menjadi jelas bahwa nama Sukoharjo atau Kabupaten Sukoharjo jelas paling muda di antara tujuh wilayah/daerah yang ada di Surakarta, eks Karesidenan Surakarta atau sebagian wilayah bekas kekuasaan Keraton Mataram Surakarta. Bahkan, menjadi bagian dari wilayah Kartasura ketika kota itu menjadi Ibu Kota Keraton Mataram Kartasura, atau wilayah Mataram ketika beribukota di Plered.

Dalam naskah yang disusun Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) itu, nama Soekahardja (Sukoharjo) sudah disebut-sebut.  Tetapi belum ada penjelasan tentang adanya hubungan dengan nama Kartasoera (Kartasura), ketika kota ini menjadi Ibu Kota Keraton Mataram.

Dr Purwadi menyebut, Sinuhun Amangkurat II (Amral) memindahkan Ibu Kota Keraton Mataram dari Plered (Jogja) ke Kartasura karena ayahandanya (Sinuhun Amangkurat Agung) wafat di tempat pelariannya di Slawi (Kabupaten Tegal), dan dimakamkan di Astana Pajimatan Tegalarum. Kota Kartasura dipilih sebagai ibu kota Keraton Mataram, karena sangat strategis dari berbagai kebutuhan, baik ekonomi, mobilisasi pasukan, komunikasi, pendidikan, transportasi, pemerintahan serta pertahanan.

tari-bedaya-sukoharjo6
KOLEKSI KARYA PERADABAN : Tari Bedaya Sukoharjo yang ciptaan Sinuhun PB IX (1861-1893), namanya lebih dulu dikenal dari nama kabupaten di selatan Kota Solo. Tarian yang selalu membawa nama daerah itu, dipromosikan saat berlangsung gelar seni khas Keraton Surakarta di Pendapa Sitinggil Lor, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Singkat kata, Kartasura dipilih menjadi ibu kota Mataram, juga karena pertimbangan ketersediaan energi terutama air. Lokasinya, jelas sangat dekat dengan sumber mata air Cokrotulung (Klaten) dan umbul Pengging (Boyolali). Ini juga strategis. Air adalah kebutuhan baku. Terutama untuk dikonsumsi. Air dari dua umbul itu sangat sehat,” jelas Dr Puwadi.

Berbagai Fasilitas Publik

Kota Kartasura menjadi besar, karena sebelum menjadi ibu kota keraton selama sekitar 40 tahun, wilayah itu terlebih dulu dibuka untuk berbagai fasilitas publik terutama sarana transportasi (mobilisasi pasukan) dan distribusi air (konsumsi dan irigasi), sejak 1677 atau Sinuhun Amangkurat (II) Amral ketika masih jumeneng di ibu kota Plered (1677-1703).

Tetapi, kawasan dan wilayah kedaton Keraton Kartasura mulai dibangun untuk dihuni saat Sinuhun Amangkurat III bertahta (1703-1705). Ketika sudah lengkap menjadi sebuah ibu kota ”nagari” (negara kerajaan), nama Kartasura sangat dikenal sampai jauh ke luar wilayah Nusantara, bahkan hingga ke kawasan teluk Persi (Asia barat).

Nama Kartasura menjadi besar namanya dan sangat dikenal sampai jauh, karena sejak saat itu menjadi pusat pengembangan kesusasteraan, kesenian dan kerajinan. Seni kriya tatah sungging (anak wayang) serta kelengkapan wayang kulit purwa bahkan wayang madya dan wasana, diproduksi saat Keraton Mataram masih berikbukota di Kartasura.

Dasar-dasar Peradaban Besar

Karya kesusasteraan seperti tembang-tembang macapat mulai Dandanggula hingga Megatruh, Babad Tanah Jawi, Serat Menak, Serat Kandha hingga Serat Menak, banyak diciptakan/disempurnakan dan diproduksi di zaman Keraton Mataram Kartasura.

Karya kerajinan kriya seperti produksi gamelan di besalen Wirun (Bekonang), juga besalen-besalen lain (keris dan berbagai jenis senjata lain), banyak disempurnakan, diciptakan baru dan diproduksi di masa jumenengnya Sinuhun Amangkurat II Amral, Amangkurat III, Pakoe Boewono I hingga Sinuhun Amangkurat (IV) Jawi (1677-1742).

tari-bedaya-sukoharjo8
PRASASTI MAKAM : Petilasan Keraton Kartasura dijadikan makam warga trah Mataram Kartasura dan menjadi situs peninggalan sejarah yang dilindungi UU BCB No 10 tahun 2011. Namun, belakangan banyak disalahgunakan dengan mendirikan bangunan untuk berbagai keperluan i dalam benteng eks keraton.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sampai di sini, sudah mulai tampak bagaimana peran peradaban Mataram terhadap hal-hal positif yang dibutuhkan dalam kehidupan secara luas, baik makro maupun mikro. Meskipun, perjalanan kehidupan warga peradaban, selalu berhadapan dan bersentuhan dengan pihak lain dari luar peradaban, misalnya VOC, Belanda, Inggris, China dan sebagainya.

Tetapi, hal-hal positif itulah yang menjadi embrio dasar-dasar akan lahirnya sebuah peradaban yang lebih besar. Dan hanya dengan rintisan-rintisan para pemimpin peradaban Mataram khususnya di Tanah Jawa, yang kelak makin mengkristal untuk melahirkan sebuah peradaban besar itu, seperti yang dinisiasi Sinuhun PB X, PB XI bahkan ”dieksekusi” Sinuhun PB XII dengan segala suka-duka dan pahit-getirnya ketika ikut mendirikan NKRI.  

Kasihan Kalau Diblusukkan

Berbagai informasi sejarah tentang eksistensi Keraton Kartasura, terutama yang terdokumentasi di berbagai sumber memang bisa dijadikan referensi, agar generasi sekarang dan seterusnya bisa mendapat pengetahuan yang beragam tetapi bisa menganalisis secara kritis.

Bahkan Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng, sangat berharap agar generasi sekarang terutama kalangan intelektual perguruan tinggi bisa melakukan kerja intelektual yang tepat, benar dan lurus, untuk meluruskan upaya-upaya penyimpangan sejarah seperti yang kini sedang marak.

”La wong jadi orang-orang pinter, kok malah jadi orang suruhan pihak-pihak yang mbayar, yang tujuannya menyimpangkan sejarah. Orang-orang intelektual kampus kok mau dibayar, padahal itu jelas mblusukne generasi sekarang dan yang akan datang”.

”Itu intelektual bayaran, karya-karyanya menyesatkan kehidupan masa kini dan mendatang. Kasihan anak-cucu kita kalau diblusukkan. Terlebih, durhaka itu. Mereka tidak sadar asal-usul kampus tempatnya mencari nafkah. Dari mana asal-usulnya?,” tuding Gusti Moeng terhadap kelompok yang selama ini menyebarkan fitnah dan penyimpangan sejarah yang intinya membunuh karakter nama Keraton Mataram. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun