Rasa Dendam Di Balik Keindahan Beksan ”Bedaya Suka Karaharjan”

tari-bedaya-sukoharjo1
CIRI KARYA PERADABAN : Sebagai salah satu ciri karya produk peradaban Jawa yang kini dijaga dan dipelihara Keraton Mataram Surakarta, adalah sikap transendental atau berketuhanan, yang diwujudkan dalam gerak sembah seperti saat tari Bedaya Sukoharjo digelar LDA di acara di KSPH Solo, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*PB IX Tidak Bisa Menerima Karena Sang Ayah Ditembak

KEINDAHAN dan keanggunan berbagai jenis tari karya-karya yang berciri khas Keraton Mataram Surakarta, memang sudah tidak bisa dicari titik lemah dan kekurangannya sebagai sebuah karya kreatif seni. Apalagi ketika menyebut jenis-jenis yang masuk rumpun tari ”bedayan”, karena memiliki level tertinggi ketika dibanding dengan karya-karya lain di lingkungan keraton, apalagi karya-karya dari maupun di luar keraton yang kapasitas penyusun/penciptanya jauh di bawah ”empu”.

Dan, level tertinggi dari semua karya beksan (tari) di lingkungan keraton, adalah tari Bedaya Ketawang. Karena tarian itu diciptakan bersamaan dengan berdirinya Keraton Mataram, yang sekaligus ditetapkan sebagai tanda berdirinya Dinasti Mataram oleh warga dinasti.

Tari Bedaya Ketawang disebut sebagai beksan berlevel tertinggi di antara semua karya beksan lainnya di dalam, bahkan di luar lingkungan Dinasti Mataram, karena ada satu aspek yang sulit bisa ditiru oleh para pencipta tari lain.

Yaitu aspek magistik untuk menyebut dialog antara Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dengan Kangjeng Ratu Kencanasari, yang berisi perjanjian kerjasama antara raja Mataram dengan ratu Samudra Kidul itu. Karena kemampuan dialog dan implementasi dari isi perjanjian/dialog itulah, kemudian menginspirasi sebuah tarian yang disebut beksan Bedaya Ketawang.

Latarbelakang Penciptaan

Aspek yang hanya bisa dijangkau dengan kacamata supranatural seperti ini, lalu digunakan untuk menyebut Bedaya Ketawang adalah tarian sakral. Bahkan tak hanya sebatas itu, tarian ini dianggap berlevel tertinggi, karena selain sakral, hanya boleh dan sah secara adat disajikan di saat upacara adat (ritual) tingalan jumenengan seorang Sinuhun, dan hanya sah secara adat kalau disajikan di Pendapa Sasana Serwaka, tempat pisowanan agung Sinoehoen Pakoe Boewana (PB) II hingga PB XII (1945-2004).

Ilustrasi di atas akan memperkuat pemahaman kita terhadap bagaimana tari Bedaya Soekahardja (Sukoharjo) diciptakan atas perintah Sinuhun PB IX (1861-1893). Hampir sama dengan peristiwa yang menjadi latarbelakang yang kemudian menginspirasi lahirnya karya Bedaya Ketawang, tari Bedaya Sukoharjo inipun punya sebuah peristiwa yang melatarbelakangi dan kemudian menginspirasi penciptaan, hingga terlukis dalam karya tersebut.

tari-bedaya-sukoharjo2
SANGAT LAYAK DIPENTASKAN = Selain ciri Keraton Mataram Surakarta sebagai penerus kerajaan Islam, tari Bedaya Sukoharjo ketika diciptakan tentu sudah dipertimbangakan sisi estetika dan etikanya. Maka, tarian ini sangat layak dipentaskan di luar keraton sebagai karya seni berkelas. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Benar. Hampir semua karya tari di lingkungan keraton, rata-rata ada peristiwa yang melatarbelakangi, kemudian menginspirasi. Bahkan, di dalam sajian tari (bedayan) itu, jelas sekali makna dan maksudnya”.

”Dan, Bedaya Ketawang, juga menjadi inspirasi karya-karya bedayan berikutnya. Termasuk Bedaya Sukoharjo. Meskipun, ada makna esensif yang spesifik dan kuat dari maksud Sinuhun PB IX menciptakan Bedaya Sukoharjo itu,” ujar GKR Wandansari Koes Moertiyah yang pernah menjadi penari Bedaya Ketawang sekaligus koreografer Sanggar Beksa Keraton Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Tewas Ditembak Belanda

Dalam Bedaya Sukoharjo, Pimpinan Sanggar Beksa Keraton Surakarta yang akrab disapa Gusti Moeng terlibat sebagai penari dalam rekonstruksi bersama dua abdidalem tari, banyak mendapatkan penjelasan yang tentang kisah di balik penciptaan tari itu, beberapa tahun menjelang 1992. Ternyata, tarian yang punya nama ”suka” berkonotasi senang dan ”harja” (raharja-karaharjan) yang berkonotasi kegembiraan/kebahagiaan itu, justru menyimpan maksud yang bisa berarti sebaliknya.

Sebab, tari Bedaya Sukoharjo itu, dari catatan yang diungkapkan kepada Gusti Moeng, adalah wujud ekspresi rasa dendam Sinuhun PB IX terhadap Belanda, karena ayahandanya yaitu Sinuhun PB VI, ditangkap dan dibuang ke Ambon. Puncak dendamnya, ketika sayang ayah dikeluarkan dari penjara dan sudah pulang, tetapi sesampai di wilayah Keraton Mataram Surakarta, ditembak Belanda, hingga tewas.

Rasa dendam yang melatarbelakangi dan menginspirasi penciptaan tari Bedaya Sukoharjo itu, memang terkesan bertolak-belakang dengan nama tariannya yang kurang lebih bermakna ”suka andum karaharjan” atau senang memberi kegembiraan/kebahagiaan.

Kecerdasan Empu Tari

Tetapi, memang seperti itulah kecerdasan para empu di masa lalu, khususnya ”empu tari Sinuhun PB IX”, ketika menciptakan sebuah karya tari yang tujuannya untuk menghibur atau membuat senang hati orang. Tetapi bila dicermati serius,gerak tari gemulai yang terbalut kostum warna-warni indah itu, sesungguhnya untuk menutupi makna tersirat rasa dendam, yang divisualkan dengan jemparing (busur panah) di tangan para penarinya.

”Meskipun hampir semua tari Bedayan mengenakan konstum keprajuritan yang cirinya dari rompi yang dikenakan, tetapi yang membawa jemparing hanya Bedaya Sukoharjo. Intinya, hampir semua tari yang masuk bedayan, dan juga srimpen, melukiskan semangat prajurit, semangat berperang (melawan penjajah)”.

”Tetapi, karya Sinuhun PB IX, ada menambah unsur rasa dendam, karena sang ayah ditembak mati Belanda. Sebagai simbolnya, adalah jemparing yang dibawa saat tarian disajikan. Mengapa Sinuhun begitu dendam?”.

”Karena, sejak lahir belum pernah mengenali wajah sang ayah. Ketika mendapat kabar sang ayah pulang, belum sampai di keraton malam tewas di tempat, ditembak Belanda. Apakah peristiwa seperti ini bisa disebut bahwa Sinuhun atau keraton pro-Belanda atau anteknya Belanda?,” tunjuk Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu, bernada protes terhadap upaya pembusukan nalar publik dengan selalu menyebar narasi bahwa Keraton Surakarta pro dan antek Belanda.

tari-bedaya-sukoharjo3
JIWA PRAJURIT = Tari Bedaya Sukoharjo, tak hanya melukiskan rasa dendam Sinuhun PB IX sebagai penciptanya, tetapi memiliki ciri-ciri strategi perang sama dengan jenis-jenis tari karya Mataram Surakarta lainnya. Pola gerakannya, melukiskan formasi jurus berperang prajurit untuk menghadapi penjajah.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain yang bisa didengar dari catatan-catatan tentang penciptaan tari Bedaya Sukoharjo, juga membaca apa yang tampak pada sajian tari itu, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) itu memang mengaku belum mendapat informasi lebih banyak. Karena, sumber informasi yang tersisa paling lengkap adalah keleksi naskah di Sasana Pustaka, tetapi sejak 2017 dibiarkan hancur tak terurus, akibat semua pengurusnya ”diusir” dan tidak boleh masuk keraton.

Simbol Melawan Belanda

Namun, masih ada catatan-catatan penting yang bisa dicermati dari karya Bedaya Sukoharjo ini, yaitu peristiwa pementasan kali pertama tarian itu terjadi pada saat peresmian Pesanggrahan Langenharjo yang kini masuk kawasan Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Peresmian pesanggrahan yang dulu menjadi satu kawasan dengan dermaga pelabuhan di bibir Bengawan Solo itu, berlangsung pada tanggal 15 Juli 1931.

Sebagai ilustrasi, Pesanggrahan Langenharja dibangun mulai tahun 1870 saat Sinuhun PB IX jumeneng nata (1861-1893), tetapi baru selesai dan diresmikan di zaman Sinuhun PB X (1893-1939) yaitu tanggal 15 Juli 1931. Pada peresmian itu, digelar untuk kali pertama tari Bedaya Sukoharjo, dan menyertai keberadaan pesanggrahan itu, Sinuhun PB IX menetapkan busana yang dikenakan KGPAA Mangkunagoro VII saat sowan ke situ, sebagai busana sikepan Langenharjan.

”Itu catatan-catatan yang berhasil saya himpun di sekitar penciptaan Bedaya Sukoharjo. Tarian bedaya yang satu ini memang istimewa. Karena ada jemparingnya itu, sebagai simbol rasa dendam dan perlawanan Sinuhun (PB IX) dan Keraton Surakarta terhadap Belanda. Mengapa sampai begitu? Karena, Keraton Surakarta tidak pernah dijajah Belanda. Keraton Surakarta tidak mau dijajah Belanda,” tandas Pengageng Sasana Wilapa yang pernah menjadi anggota DPR RI dua periode terpisah.

Setelah dipentaskan kali pertama dalam peresmian Pesanggrahan Langenharja, tari Bedaya Sukoharjo beristirahat panjang dan tak pernah dipentaskan sama sekali, kecuali hanya sebagai materi latihan di sanggar beksa. Dan, libur panjang setelah 15 Juli 1931 itu, Bedaya Sukoharjo baru dipentaskan kembali saat Sinuhun PB XII menggelar resepsi pernikahan GRA Koes Soepiyah dengan Gubernur (Kalbar) Silvanus pada tahun 1973.  

Formasi Jurus Perang

Setelah itu, tarian yang bercirikhas lemah-gemulai tetapi berstruktur formasi jurus perang itu baru dipentaskan lagi setelah direkonstruksi dua abdidalem dan dipadatkan durasi waktunya oleh Gusti Moeng pada tahun 1992. Pentas ketiga Bedaya Sukoharjo sejak yang pertama di tahun 1931 itu, berlangsung saat misi kesenian Keraton Surakarta berkeliling di enam negara di Eropa tahun 1992.

Pentas keliling Eropa itu, disebut sebagai pentas kali pertama di luar lingkungan keraton. Jenis tarian ini, boleh dipentaskan di luar keraton, selain tingkat kesakralannya ringan, juga sudah jelas memenuhi pertimbangan-pertimbangan estetika sekaligus etikanya.

tari-bedaya-sukoharjo4
TOTALITAS SANG PENJAGA = Sebagai tokoh penjaga dan pelestari seni budaya, Gusti Moeng adalah satu-satunya bangsawan Keraton Mataram Surakarta yang mau tampil dengan totalitas. Selain memimpin sanggar, dia juga memimpin lembaga masyarakat adat, koreografer sekaligus pemandu tari dengan memukul keprak saat pentas berlangsung. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebab itu, setelah 1992 itu Gusti Moeng kesudah beberapa kali kembali mementaskan Bedaya Sukoharjo di luar keraton, antara lain di event ”Solo Menari Hari Tari Dunia” di pendapa ISI Solo, 2018 dan di acara Seminar Workshop Busana Adat Keraton Surakarta yang digelar LDA di KSPH Solo, Minggu (9/8).

”Dari aslinya utuh berdurasi 55 menit, dalam rekonstruksi di tahun 1992 itu saya padatkan menjadi sekitar 35 menit. Sama seperti yang lain, pemadatan yang saya lakukan, sama sekali tidak mengurangi esensi, etika, estetika dan makna serta kesakralan tarian itu. Tetapi, bisa memenuhi kebutuhan singkat waktu dan mengurangi unsur monoton yang dianggap membosankan,” jelas penerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award di Jepang 2012 dan sejumlah penghargaan dari dalam dan luar negeri lainnya itu. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun