Upacara Adat Labuhan, Sikap Spiritual Serius Bagi Dinasti Mataram

labuhan-keraton-surakarta1

*Tak Banyak Dikenal Warga Peradaban Jawa

RABU Kliwon siang tanggal 12 Agustus yang tepat tanggal 23 Besar tahun 1953 (Jawa), Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin GKR Wwandansari Koes Moertiyah melaksanakan upacara adat ”labuhan” atau ”larungan” dibibir pantai Parangkusuma, Bantul (DIY). Ritual yang hanya diikuti sekitar 70-an orang dari berbagai unsur di LDA Mataram Surakarta itu, berlangsung singkat sekitar 90 menit, namun lancar.

Ritual menghanyutkan benda/barang yang dianggap sudah tidak terpakai atau mengandung ”sukerta” (kotor secara spiritual) kali ini, adalah langse atau selubung bekas penutup makam Sinuhun Amangkurat Agung yang diambil dari kompleks makam leluhur Dinasti Mataram Astana Pajimatan Tegalarum yang ada di Desa Paseban, Kecamatan Adiwerna, Kabupaten Tegal (Slawi) tahun 2019.

Baca : Sanggar Pasinaon Akan Pinjam Ndalem Jayakusuman

Sebenarnya sudah menjadi tradisi, ketika langse sudah dilepas dalam sebuah upacara adat larap atau ganti langse, kemudian diteruskan dengan agenda labuhan di air laut selatan yang secara spiritual menjadi kerajaan Kangjeng Ratu Kencarasari, melalui pantai Parangkusuma. Namun, sampai 2019 berakhir tetapi disusul situasi pandemi Corona, dan baru menjelang pergantian Tahun Baru Jawa 1 Sura 1954 ini bisa dilabuh.

”Ya… karena banyak sekali agenda pekerjaan yang harus didahulukan, labuhan langse eyang Amangkurat Agung baru bisa dilaksanakan sekarang. Karena, khusus upacara adat ini, waktu pelaksanaannya tidak ada yang baku. Tidak hanya bagi kami (Mataram Surakarta). Tetapi bagi warga Dinasti Mataram lainnya juga begitu”.

”Yang jelas, labuhan bisa dilakukan kapan saja, terhadap barang/benda yang sudah tidak terpakai atau dianggap mengandung sukerta. Secara kebetulan, sekarang ini sedang ada pageblug Corona. Ya mudah-mudahan ikut terlarung, agar virus Corona segera lenyap dari bumi Nusantara,” jelas Ketua LDA Mataram Surakarta GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng, di pendapa kompleks Cepuri Parangkusuma, lokasi reservasi ritual, Rabu siang (12/8).

Baca : Sultan Sepuh yang Aktif di Dua Organisasi itu Sudah Tiada

Tak Ada Patokan Baku

Baik ketika menyampaikan pesan penutup rangkaian upacara maupun diwawancarai para awak media di lokasi serta menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com sebelumnya, selaku penanggung jawab ritual Gusti Moeng menyatakan sebenarnya labuhan akan dilakukan tahun lalu, beberapa saat setelah melepas langse dalam acara ”Jamasan Astana Sinuhun Amangkurat Tegal Arum”, tahun lalu.

Namun karena agenda acara begitu banyak khususnya berziarah ke makam-makam leluhur Dinasti Mataram di sejumlah daerah di pantura, agenda labuhan menjadi tertunda-tunda. Bahkan sampai menjelang ritual larap langse/selambu berikutnya di bulan Sura mendatang, labuhan baru bisa dilaksanakan Rabu siang (12/8).

Situasi yang sedang dalam suasana pandemi Corona, juga menjadi pertimbangan agenda waktu pelaksanaannya, karena harus mengikuti aturan protokol kesehatan yang ketat. Namun sejatinya, ritual khusus ”berkunjung” ke keratonnya Kangjeng Ratu Kencanasari di laut kidul itu sangat longgar, tak ada patokan baku, terutama dalam soal penentuan waktunya.

Baca : Mengenal Alat Musik Tong Tong dan Nafiri

”Jadi, memang lebih longgar. Tidak terpancang pada bulan (kalender Jawa) tertentu, atau hari weton tertentu. Begitu juga (warna) ageman (stelan busana)nya, juga longgar. Tidak harus hitam atau putih. Yang jelas beskap atela. Soal pilihan warna bisa dikompromikan. Tetapi kalau seragam kan jauh lebih enak dipandang,” jelas Pengageng Sasana Wilapa Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat itu.

labuhan-keraton-surakarta2

Kecuali Trending Topic

Kelonggaran dalam ritual labuhan di pantai Parangkusuma Bantul (DIY) bagi Keraton Mataram Surakarta, mungkin tak jauh berbeda bagi Keraton Jogja, sebagai sesama warga Dinasti Mataram. Namun, lokasi labuhan yang dilengkapi dengan kompleks Cepuri yang di dalamnya terdapat petilasan bersejarah, secara adat adalah milik warga dinasti, meski Pura Mangkunegaran (Solo) dan Pura Pakualaman (Jogja) termasuk warga dinasti tetapi tidak punya tradisi ritual labuhan.

Meski longgar, beberapa kali penulis mengikuti ritual labuhan yang dilaksanakan Keraton Mataram Surakarta, tak banyak mengundang perhatian publik secara luas untuk datang menyaksikan alias tak banyak dikenal publik, apalagi generasi sekarang. Tetapi, labuhan yang diadakan Sinuhun PB XII beberapa saat setelah musibah kebakaran sebagian bangunan di kawasan kedaton di tahun 1985, agaknya menjadi perkecualian.

Labuhan sisa-sisa kebakaran dan labuhan setelah peristiwa runtuhnya rezim Orde Baru beberapa saat setelah 1998, menjadi perkecualian karena dua peristiwa itu menjadi trending topic di berbagai media. Oleh sebab itu, walau pelaksanaan labuhan di malam hari setelah imsak, banyak warga dari berbagai daerah berdatangan menyaksikan peristiwa langka di objek wisata spiritual itu.    

Karena Tidak Mudheng

Namun sekali lagi, seperti sering diungkapkan almarhum juru penerang budaya/humas Keraton Surakarta, KPA Winarnokusuma semasa suwita (mengabdi), semua upacara adat di keraton tidak bedanya sebuah ritus doa yang menggunakan tata cara spiritual kejawen, produk peradaban Jawa. Esensinya adalah sikap spiritual yang serius untuk menyampaikan rasa syukur dan menyembah keagungan Tuhan Yang Maha Agung, seperti doa yang dilakukan oleh kalangan umat agama lain.

Baca : Khol Sultan Agung Digelar 1 Oktober di Pendapa Pagelaran

Oleh sebab itu, karena yang dilakukan adalah cerminan sikap spiritual kebatinan untuk menyampaikan rasa syukur atas keagungan Tuhan Yang Maha Agung, sepertinya memang kurang tepat kalau mengundang publik untuk datang menyaksikan. Dan labuhan yang di lakukan LDA Mataram Surakarta Rabu siang itu, selain nyaris tanpa publikasi juga hanya melibatkan sekitar 70 orang karena harus mengikuti aturan protokol kesehatan Covid 19.

”Jadi, mungkin saja banyak yang sudah mendengar tapi tidak datang, karena memang tidak mudheng, ritual labuhan itu apa? Mungkin dikiranya syirik. La wong semua yang datang ke sini ini berdoa di laut yang berunsur air, yang menjadi salah satu keagungan Allah. Semua itu ada tuntunannya. Mungkin hanya belum tahu saja,” tandas KPP Wijoyo Adiningrat, salah seorang ”paranpara” (penasihat) yang begitu hafal silsilah dan sejarah tokoh-tokoh Mataram Islam, yang dihubungi ditempat terpisah.

Berlangsung Serba Terbatas

Jumlah 70 itu, terdiri dari dua bregada (kecil) prajurit, utusan Pakasa, perwakilan Putri Narpa Wandawa, utusan Sanggar Pasinaon Pambiwara, para kerabat sentana dan abdidalem garap yang bertugas ditambah beberapa tenaga dari SAR/BPBD pelepas barang yang dilabuh.

labuhan-keraton-surakarta4

Karena berbagai hal yang serba terbatas itu, membuat tatacara pelaksanaannya di siang hari dan menjadi terbatas durasinya, hanya 90 menit. Selama 90 menit itu, semua yang datang di pendapa kompleks Cepuri langsung menata semua uba rampe labuhan dan wilujengan, karena semua sudah dalam keadaan mengenakan busana adat dari rumah masing-masing.

Setelah itu diteruskan dengan ziarah dan tabur bunga serta meditasi di petilasan dalam Cepuri yang dipimpin Gusti Moeng. Hanya beberapa menit, lalu kembali ke pendapa untuk mengikuti doa wilujengan yang dipimpin abdidalem ulama KRT Pujo Sugiyantodipuro.

Doa wilujengan selesai, langsung barisan ditata untuk mengarak peti berisi langse bekas yang akan dilabuh, serta uba rampe labuhan ke bibir pantai. Sebelum semua yang dilabuh dihanyutkan, diadakan doa di bibir pantai, untuk mengantar ”ngunduraken (barang-barang) kagunganipun eyang Amangkurat” melalui air laut selatan.

labuhan-keraton-surakarta3

Setelah semua selesai, Gusti Moeng mengumpulkan kembali semua yang terlibat dalam ritual itu di pendapa kompleks Cepuri, sambil makan siang dan mendengarkan pesan-pesan agenda kegiatan berikut.

”Panjenengan sadaya, kula candhet sekedap, saperlu kula badhe ngandharaken agenda kegiatan ingkang badhe dumugi. Inggih menika, pisowanan wonten kagungandalem Masjid Agung, saperlu ndherek wilujengan mapag Tahun Jawi 1 Sura, ingkang dhawah tanggal 19 Agustus”.

”Sadaya kula suwun sowan nggih….. Donga wilujengan badhe kawiwitan bibar imsak. Jam 8 (20.00-Red) thet nggih….,” tandas Gusti Moeng seraya mengingatkan, sebelum acara bubar, menuju bus dan pulang ke Solo, siang pukul 12.00 itu.(Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun