Lembaga Dewan Adat Mataram Berdialog dengan ”Komunitas Kartasura Bergerak”.

kartasura-bergerak1
PEMBEKALAN PENGETAHUAN = GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Mataram Surakarta, saat memberi pembekalan pengetahuan di depan beberapa perwakilan komunitas ''Kartasura Bergerak'' di pendapa makam petilasan Keraton Kartasura, tadi siang. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Embriyo Lahirnya Kepedulian Terhadap Peradaban

SOLO,suaramerdekasolo.com – Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta menggelar dialog dengan sejumlah tokoh perwakilan yang duduk dalam ”Komunitas Kartasura Bergerak”, di Pendapa Makam Petilasan Keraton Kartasura (Sukoharjo), tadi siang.

GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng selaku ketua, siang itu berbicara tentang banyak hal di depan para perwakilan kelompok ormas yang tergabung dalam ”Komunitas Kartasura Bergerak”.

Pertemuan yang disaksikan sejumlah kerabat perwakilan trah darahdalem anggota LDA itu, merupakan kali pertama perjumpaan antara tokoh-tokoh ormas yang sebagian besar berusia muda, yang baru sekitar setahun membentuk ikatan yang dinamakan ”Komunitas Kartasura Bergerak”.

Kegiatan komunitas itu, untuk memulai peduli dan menyumbangkan tenaga dan pikiran dalam aksi nyata ikut menjaga makam petilasan Keraton Kartasura yang sudah ditetapkan dilindungi UU BCB No 11 tahun 2010.

Mereka berharap, aksi peduli yang dimulai dengan bersih-bersih makam itu, akan ditingkatkan terus bentuk kegiatannya, dengan menginisiasi lahirnya sanggar-sanggar seni, seiring dengan menata bentuk organisasi atau perserikatannya.

Inisiasi Kegiatan Seni

Kegiatan yang akan diinisiasi itu, di antaranya lahirnya sanggar-sanggar seni, latihan-latihan seni,  gelar seni budaya yang berkait dengan eksistensi Keraton Surakarta sebagai bagian dari proses perjalanan peradaban Mataram atau Jawa.

”Kami ini terdiri dari kelompok-kelompok perwakilan ormas di sini. Kami ingin peduli, karena melihat ada aset peninggalan sejarah, petilasan Keraton Kartasura yang jadi makam. Tetapi, terkesan kurang terurus”.

”Ini baru kira-kira setahun kami membentuk komunitas. Kami ingin lebih mengorganisasi dan melembaga. Kegiatannyapun kami inginkan bisa berkembang bervariasi, sesuai eksistensi Keraton Kartasura sebagai bagian dari perjalanan peradaban Mataram”.

”Kami ingin membantu agar petilasan peninggalan sejarah ini menjadi tempat yang dijaga kehormatannya, yaitu dijaga kelestariannya, keindahannya dan menjadi objek wisata yang menarik dan memberi manfaat secara luas, khususnya bagi warga Kartasura, Sukoharjo,” harap Diaz dan beberapa temannya dari komunitas itu, saat menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi siang.

Sedikit yang Berpengetahuan

Pertemuan dengan Gusti Moeng dan beberapa kerabat anggota LDA, dianggapnya sebagai kesempatan yang baik untuk bisa berdialog, dan mendapatkan pengetahuan yang lengkap tentang keberadaan petilasan Keraton Kartasura. Sebab, hampir semua anggota komunitas, sangat sedikit yang memiliki pengetahuan cukup tentang objek yang sedang diberi perhatian dan kepedulian.

kartasura-bergerak2
DIALOG DENGAN LDA = Beberapa perwakilan komunitas ”Kartasura Bergerak”, mengadakan dialog dengan GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta dan beberapa kerabat di pendapa makam petilasan Keraton Kartasura, tadi siang.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebab itu, dalam pertemuan itu Gusti Moeng membuka kesempatan bertanya, agar terjadi dialog yang sangat bermanfaat bagi kedua pihak. Karena, bagi LDA Keraton Surakarta, lahirnya ”Komunitas Kartasura Bergerak” bisa dipandang sebagai lahirnya potensi kesadaran dan kepedulian masyarakat terhadap asal-usul peradaban dan kehidupan sosial-budayanya.

Gusti Moeng, ketika diberi kesempatan berbicara di awal pertemuan, membeberkan banyak hal baik yang berkait dengan eksistensi Keraton Kartasura, maupun latar belakang peradaban Mataram yang melahirkan, hingga situasi dan kondisi penerus peradaban terutama Dinasti Mataram.

”Mudah-mudahan, awal pertemuan ini bisa berlanjut ke arah yang lebih baik, tertata dan memberi manfaat bagi khalayak luas. Khususnya bagi upaya menjaga kelestarian warisan leluhur peradaban Mataram, berupa Keraton Kartasura ini”.

”Meskipun tinggal puing-puingnya saja, tetapi ini sudah dilindungi UU BCB No 11 tahun 2010 lo. Ayo kita jaga bersama-sama,” ajak Pengageng Sasana Wilapa yang pernah menjadi anggota DPR RI dua periode terpisah itu.

Bangunan Itu Atas Izin Siapa?

Menjawab pertanyaan anggota komunitas, Gusti Moeng menjelaskan bagaimana Keraton Mataram pindah dari Kutha Gedhe ke Kartasura. Juga mengisahkan secara singkat apa yang terjadi dan bagaimana Sinuhun Paku Buwono II, ketika memindahkan Keraton Mataram Kartasura ke Desa Sala tahun 1742, yang kemudian dideklarasikan menjadi Keraton Mataram Surakarta pada tahun 1745.

Pertemuan siang itu, sangat dimungkinkan akan berlanjut ke dalam dialog yang konstruktif dan bisa membangun kesepakatan-kesepakatan yang berkait dengan upaya menjaga kelestarian petilasan Keraton Kartasura sebagai peninggalan sejarah.

Juga kesepakatan untuk terbentuknya kegiatan-kegiatan yang mendatangkan manfaat secarta ekonomi bagi lngkungan dan masyarakat lebih luas.

”Kami (LDA) sangat menghargai lahirnya kepedulian ini. Kami lebih suka kalau ada pihak yang ikut menjaga dan mengawasi. Syukur bagi bisa ditingkatkan lebih baik dan lebih lengkap, hingga mendatangkan manfaat secara ekonomi bagi lingkungan dan masyarakat lebih luas”.

”Karena harapan kami seperti itu, maka sedih kalau melihat ada bangunan bertingkat yang sedang dikerjakan di dalam kompleks petilasan itu. La wong jelas-jelas di situ kawasan situs cagar budaya, kok bisa membangun gedung dua tingkat? Itu karena tidak tahu atau sengaja? Atas izin siapa? Kami akan melacak pelanggaran ini,” papar Gusti Moeng menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com di tempat terpisah. (won)

Editor : Budi Sarmun