Pisowanan Kecil Digelar, Siapkan Agenda Sambut New Norm

pisowanan-keraton-surakarta2
MEMBAGI TUGAS : Gusti Moeng selaku Ketua LDA membagi tugas kepada para abdidalem yang bersiap di pelataran reservasi Bangsal Pengapit Lor Astana Pajimatan, Imogiri, Bantul (DIY), yang akan mengikuti nyekar menyambut 1 Sura di Makam Raja- raja Mataram itu, Minggu siang (2/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Nyadran di Makam Leluhur dan Bagikan Daging Kurban

SETELAH lebih 4 bulan ”libur panjang” akibat pandemi Corona, masyarakat adat yang terwadahi dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, mulai bergerak kembali. Namun, geraknya masih setapak demi setapak, menjalankan agenda kegiatan adat dalam suasana menyesuaikan situasi dan kondisi ”new norm” (norma baru).

”Jadi sebenarnya masyarakat adat di sini, juga menjalankan sesuai situasi dan kondisi norma baru. Bukan kenormalan yang baru (new normal). Segala aturan atau norma apapun yang tujuannya untuk menjaga keselamatan diri, keluarga dan masyarakat secara luas, tetap kami perhatikan. Tetap menjadi pedoman kami,” ujar GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua LDA, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

pisowanan-keraton-surakarta4
SECARA SIMBOLIS : Sehabis mengumumkan jadwal upacara adat, Gusti Moeng menyerahkan daging kurban secara simbolis kepada tiga abdidalem. Setelah itu, daging kurban peringatan Idul Adha itu diserahkan kepada semua abdi dalem dengan tertib sesuai protokol Covid 19 di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Sabtu (1/8). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Norma baru dimaksud, dilakukan saat mengerjakan aktivitas adat yang sudah bertahun-tahun berjalan di lingkungan masyarakat adat Mataram Surakarta. Namun, ada batasan atau norma baru yang harus ditaati sesuai protokol kesehatan Covid 19, yaitu selalu mengenakan masker, cuci tangan dan menjaga jarak atau menghindari kerumunan, walau teman-teman kerabatnya sendiri.

Agenda Pertama Nyadran

Pemandangan seperti itulah yang terjadi, di saat berlangsung upacara adat nyekar atau nyadran untuk menyambut datangnya Tahun Baru Jawa 1 Sura. Ziarah ke makam leluhur Mataram di Kutha Gedhe, Jogja (ibu kota Mataram Sultan Agung) dan makam raja-raja Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY) yang berlangsung selama dua hari dalam seminggu hingga Minggu (2/8).

pisowanan-keraton-surakarta1
UMUMKAN JADWAL : Dalam pisowanan terbatas di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Sabtu (1/8), sebelum membagikan daging kurban, Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta mengumumkan jadwal beberapa upacara adat yang sudah diagendakan dalam sebulan ke depan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kalau upacara adat nyadran menyambut 1 Sura di hari pertama, hanya dilakukan Gusti Moeng dan rombongan kecil sekitar lima orang di Makam Nitikan di utara Kutha Gedhe (DIY) yang merupakan tempat pemakaman para leluhur Mataram dari garis istri. Di makam itu, bersemayam istri Sinuhun Paku Buwono (PB) I atau ibunda Sinuhun Amangkurat IV dan makam salah seorang anak Panembahan Senapati yang bernama R Rangga.

Aktivitas nyadran menyambut 1 Sura berikutnya atau kedua setelah libur panjang, adalah ke makam leluhur di Astana Pajimatan Imogiri. Di makam raja-raja yang zonanya bersebelahan antara garis Surakarta Hadiningrat dengan Jogja itu, Gusti Moeng tak pernah melewatkan pusara sanga ayah yaitu Sinuhun PB XII dan Sinuhun ingkang Wicaksana PB X.

”Dua itu tak pernah terlewatkan. Penginnya semua pusara leluhur kami sowani. Tetapi, perlu waktu tiap hari dalam sebulan. Itu saja pasti tidak khusyuk. Karena, di sana kami selalu berdoa kepada Tuhan YME. Mohon pertolonganNya, agar sukerta yang merusak keraton segera lenyap dan sukerta Corona segera menyingkir dari bumi Nusantara,” tambah Pengegang Sasana Wilapa itu.

Khusus nyadran ke Imogiri, Gusti Moeng membawa rombongan agak lengkap yang mewakili semua unsur. Jumlahnya ada sekitar 250-an orang, karena mewakili sentana, bebadan, trah darahdalem, unsur Pakasa dan Putri Narpa Wandawa serta unsur abdidalem.

Senang Bisa Sowan

Beberapa unsur itu dilibatkan, selain karena memerlukan prosesi untuk membawa uba-rampe (perabotan) nyekar, karena juga menyangkut beberapa harapan yang diminta dalam doa dan dzikir yang dipimpin abdi dalem ulama KRT Hartoyodipuro. Dan ritual itu, merupakan agenda pertama yang dilakukan setelah libur panjang.

pisowanan-keraton-surakarta3
MENUNGGU SETAHUN : Gusti Moeng harus menunggu lebih setahun untuk bisa berziarah ke makam leluhur Mataram, yaitu istri Sinuhun Paku Buwono (PB) I di Kampung Nitikan, utara Kota Gede, Jogja, belum lama ini setelah mendapat informasi lokasi tetapi terhalang pandemi Corona. .(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Meski agenda ritual menyambut 1 Sura sudah diawali di makam leluhur Mataram Kutha Gedhe dan Imogiri, Minggu (2/8), tetapi sudah ada agenda lebih dulu diadakan, yaitu merayakan Idhul Adha. Pisowanan terbatas siang itu, diadakan untuk tandatangan absen semua yang hadir sesuai departemen (bebadan) masing-masing, lalu menerima kupon untuk menukar dengan sepaket daging sapi kurban.

Walau tanpa menggelar atau menyaksikan ritual Garebeg Besar karena ada larangan sesuai protokol Vovid 19, tetapi perayaan Idhul Adha yang digelar LDA, Sabtu siang (1/8) di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, sudah representatif. Semua tampak bersemangat dan senang, walau hanya bisa saling bersilaturahmi tanpa menyaksikan prosesi mengarak gunungan dari dalam keraton menuju kagungandalem Masjid Agung.

”Saya sudah merasa senang kok mas. Bisa bertemu dan bersilaturahmi dengan teman-teman abdidalem Pakasa. Enggak bisa melihat gunungan Garebeg Besar enggak apa-apa, karena memang belum boleh. Tahun depan ‘kan masih ada. Yang penting, kami bisa sowan  dan dapat bagian daging kurban,” ujar Wahyudi (30), warga Pakasa Cabang Wonogiri, menjawab pertanyaan para wartawan di Pendapa Pagaelaran, siang itu. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun