Sanggar Pasinaon Akan Pinjam Ndalem Jayakusuman

sanggar-pambiwara-keraton-surakarta5
KENANGAN TAK TERLUPAKAN : Bagi kalangan siswa yang lulus dan dilibatkan untuk mengisi acara tembang panembrama di upacara wisudapurnawiyata, merupakan kenangan yang tak akan bisa dilupakan seumur hidup. Karena, kegiatan itu berlangsung di Sanggar Pasinaon Pambiwara yang berada di pusat dan sumbernya budaya Jawa, Keraton Surakarta.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* Untuk Pendadaran dan Wisudan Purnawiyata

SOLO,suaramerdekasolo.com – Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta akan kembali meminjam ndalem Jayakusuman (Joyokusuman), untuk pelaksanaan tahap akhir kegiatan kursus juru pranatacara atau MC Jawa selama 6 bulan itu. Kali pertama kompleks rumah bekas kediaman GPH  Jayakusuma, salah seorang anak Sinuhun PB X, dipinjam sanggar untuk wisudan purnawiyata atau upacara wisuda lulusan siswa sanggar tahun 2019.

”Untuk babaran (angkatan) 37 ini, kelihatannya kami pinjam lagi tidak hanya untuk wisudan. Tetapi rangkaian akhir proses belajar-mengajar, yaitu pendadaran atau ujian. Itupun harus dilakukan sampai tiga tahap. Karena pelaksanaannya tetap perlu memperhatikan protokol kesehatan Covid 19”.

”Kebetulan, jumlah siswa peserta pendadaran babaran 37 ini, hampir dua kali dari babaran 36 (2019),” ujar GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta, pengelola sanggar pasinaon tersebut, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi pagi.  

Tidak Boleh Masuk

Seperti diketahui, karena ”ontran-ontran” kedua yang disertai tindakan ”bergaya militeristik” pada 15 April 2017 itu, GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Pengageng Sasana Wilapa dengan hampir semua bebadan dan jajarannya harus meninggalkan keraton dan mulai saat itu tidak boleh masuk.

Akibat itu, hampir semua kegiatan adat dan seni budaya yang dikoordinasikan lembaga-lembaga yang ada selain Pengageng Sasana Wilapa, beberapa berjalan tersendat dan asal berjalan atau tidak sesuai tata nilai baku secara adat.

Tak hanya itu, banyak kegiatan seni-budaya serta aktivitas layanan yang melibatkan publik secara luas, harus dilakukan di luar keraton, misalnya Sanggar Pasinaon Pambiwara, upacara adat larap selambu, labuhan dan Sesaji Mahesa Lawung.

Sejak insiden 15 April 2017 itu, kegiatan pendidikan nonformal di bidang sejarah dan budaya Jawa itu, berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, khusus untuk siswa di sanggar pusat yaitu Solo.

Kewajiban Lembaga Adat

Di sanggar pusat, siswanya tak hanya berasal dari Kota Sala (Solo), melainkan juga datang dari daerah terdekat seperti Sukoharjo, Klaten, Boyolali dan Karanganyar. Sedangkan proses belajar-mengajar di sanggar-sanggar cabang misalnya Semarang, Tulungagung dan Malang (Jatim), bisa berjalan di masing-masing sanggar.

sanggar-pambiwara-keraton-surakarta2
PENGETAHUAN TATA BUSANA : Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, merupakan satu-satunya lembaga pendidikan nonformal yang mengajarkan tata busana adat Jawa selain budaya karya peradaban secara keseluruhan. Tata busana wanita, paling diminati para siswa sanggar. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dan khusus selama adanya pandemi Corona ini, proses belajar-mengajar di masing-masing sanggar tetap berlangsung, tetapi menyesuaikan aturan protokol Covid 19, dengan model virtual.

”Jadi, selama semua berada di luar, apa saja yang tetap bisa kami kerjakan. Tidak ada masalah. Tetap jalan terus. Apalagi sanggar pasinaon pambiwara merupakan layanan pada publik. Jangan lupa, itu merupakan kewajiban dan tanggung jawab keraton dalam mengedukasi warga bangsa, agar ketahanan budaya bangsa ini tetap terjaga”.

”Karena, keraton sampai sekarang masih diakui sebagai pusat dan sumbernya peradaban Mataram dan Jawa. Bahkan dijadikan patron dan kiblat seni budaya masyarakat luas. Di situ, Lembaga Dewan Adat (LDA) sebagai representasi pemilik keraton beserta semua aset-asetnya, harus bertanggung jawab,” tegas Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Jumlahnya Dibagi Tiga

Di tempat terpisah, KRA Budayaningrat selaku penanggungjawab proses belajar-mengajar sanggar secara virtual menjelaskan, kini proses pengajaran teori masih berlangsung, tetapi tinggal sedikit. Setelah teori habis, akan segera dilanjutkan dengan praktik pengetahuan tatacara berziarah ke makam leluhur Mataram dan upacara labuhan.

sanggar-pambiwara-keraton-surakarta3
BUSANA DAN BUDAYA : Busana adat merupakan bagian kecil dari budaya Jawa serta pengetahuan tentang karya peradaban, yang dipelajari di Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta. Tata busana adat yang tepat dan benar itu sedang diperagakan pada wisuda purnawiyata siswa di ndalem Jayakusuman, tahun lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sehabis itu, memasuki tahap akhir pendidikan yaitu pendadaran atau ujian. Baik jumlah siswa yang akan mengikuti ujian maupun penentuan tempat dan waktu ujian, dwija yang mengampu 4 mata pelajaran itu masih menunggu perintah dari kepala sanggar KPH Raditya Lintang Sasangka maupun Gusti Moeng selaku pengelola sanggar.

”Pendadaran siswa kami jadwalkan awal September. Kalau tempatnya sedang kami hitung kapasitas dan waktu yang diperlukan, antara menggunakan ndalem Kayonan atau pinjam ndalem Jayakusuman. Karena sangat mungkin jumlah pesertanya harus dibagi tiga, mengingat jumlahnya cukup banyak”.

”Kalau terpaksa pinjam untuk pendadaran. Berarti bisa dua kali pinjamnya. Karena, untuk wisuda purnawiyata jelas butuh pinjam ndalem Jayakusuman. Tidak mungkin dilangsungkan di ndalem Kayonan, tidak cukup menampung,” jelas mantan anggota DPR RI dua periode terpisah yang menerima penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award dari Jepang tahun 2012 itu.(Won) 

Editor : Budi Sarmun