Sultan Sepuh yang Aktif di Dua Organisasi itu Sudah Tiada

deklarasi-istana-mataram4
PENAMPILAN KONTINGEN CIREBON : Salah satu bagian dari kontingen Keraton Kasepuhan Cirebon, yang menampilkan simbol kekuatan baharinya, pada FKN ke-4 di Jogja karena Kasultanan Jogja menjadi tuan rumah FKN yang digelar di tahun 2004 itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

* FKIKN Sangat Kehilangan

DI usianya yang baru menginjak 60-an, Sultan ke-14 dari Keraton Kasepuhan, Cirebon (Jabar), PRA Arif Natadiningrat, meninggal dunia karena sakit pencernaan yang dideritanya, Rabu pagi (22/7) dan dikebumikan dengan upacara kebesaran adat pemakamam  raja, siang itu juga.

Di kompleks pemakaman raja-raja Cirebon, Astana Gunung Jati, jenazah almarhum dikebumikan. Almarhum meninggal dalam perawatan sakit yang dideritanya beberapa waktu di sebuah rumah sakit di Bandung.

Dalam prosesi pelepasan jenazah dari pendapa Kasultanan Kasepuhan, sebelumnya diadakan prosesi shalat jenazah dan doa di ndalem Arum yang dikoordinasi oleh RA Irawati (ibu almarhum). Salah seorang adik almarhum, PR Gumelar mewakili keluarga menyampaikan kata perpisahan di depan para pelayat.

Pelepasan jenazah dilakukan sang putra mahkota, Pangeran Raja Adipati (PRA) Luqman Zulkaedin yang disebut-sebut sebagai calon kuat pengganti almarhum PRA Arif Natadiningrat. Sesampai di kompleks makam, jenazah disemayamkan di Masjid Agung Sang Ciptarasa untuk mengikuti prosesi pemakaman secara adat Kasultanan Kasepuhan, Cirebon.

PRA Luqman Putra Mahkota

Kepergian almarhum, selain meninggalkan keluarga besar kerabat Keraton Kasepuhan, juga meninggalkan keraton-keraton kecil yang ada di kota dan Kabupaten Cirebon yaitu Kasultanan Kanoman dan Kasultanan Kacirebonan.
Beberapa kasultanan itu satu sama lain masih bersaudara yang asalnya dari Sunan Gunungjati. Bahkan, masih ada hubungan saudara dengan para leluhur Dinasti Mataram, mengingat beberapa kasultanan itu lahir setelah era Keraton Demak di abad 15-an yang bersamaan dengan munculnya  Walinga Sanga.

deklarasi-istana-mataram5
SURAKARTA DIJAMU KASEPUHAN : Penampilan kontingen Keraton Surakarta pada FKN ke-11 di Kota Cirebon (Jabar) tahun 2017. Penampilan prajurit dengan pasukan berkuda yang sedang berada di tenah perjalanan saat kirab itu, dijamu Kasultanan Kasepuhan dan warga Cirebon yang menyaksikan event itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tak hanya kalangan keluarga besar beberapa kasultanan, warga Jabar tentu juga merasa kehilangan tokoh penggerak tampilnya kasultanan-kasultanan di kota dan Kabupaten Cirebon, setelah bangkit di era Sultan Kasepuhan ke-13 atau ayahanda PRA Arif Natadiningrat.

”Kami sebagai bagian dari masyarakat adat Keraton Surakarta, maupun sebagai Sekjen FKIKN tentu sangat kehilangan atas kepergian Sultan Sepuh (sebutan akrab almarhum). Karena, ayahandanya ikut mendeklarasikan FKIKN pada pembentukan wadah itu di Solo, 7 juli 1995”.

Baca : Banyak Kabupaten Terbentuk di Masa Mataram Kartasura

”Setelah Sultan Sepuh ke-13 wafat, almarhumlah (Sultan Sepuh ke-14) yang meneruskan. Bahkan sangat aktif tak hanya di FKIKN, tetapi di organisasi lain sejenis (FSKN-Red). Jadi, kami sangat kaget dan bingung mendengar kabar duka itu. Karena sedang siap-siap berangkat jagong kerabat ke Malang (Jatim),” ungkap GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Sekjen FKIKN ketika dihubungi suaramerdekasolo.com, tadi siang.

Salah Seorang Deklarator

Banyak kenangan almarhum yang meneruskan keakraban Kasultanan Kasepuhan secara pribadi dengan Keraton Surakarta, maupun ketika bertemu dalam wadah FKIKN. Misalnya ketika berlangsung deklarasi Istana Mataram di Solo pada tahun 2018, almarhum hadir sebagai Sultan Sepuh juga selaku Ketua Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN).

deklarasi-istana-mataram2
BUKA FKN KE-11 : Sultan Sepuh ke-14 (alm) saat menabuh bedug menandai pembukaan FKN ke-11 yang digelar di Kota Cirebon (Jabar), karena Kasultanan Kasepuhan bersama dua kasultanan lain di kota dan Kabupaten Cirebon (Jabar) ditetapkan FKIKN sebagai tuan rumah penyelenggaranya di tahun 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bagi GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng itu,   kepergian almarhum yang kabarnya sudah menjalani tiga kali operasi karena gangguan pencernaannya itu, pasti ada beberapa pekerjaan yang belum terselesaikan. Sebab itu diharapkan, siapapun penggantinya (putra mahkota PRA Luqman Zulkaedin-Red), pasti akan meneruskan apa yang sudah dimulai almarhum dan sudah dirintis sang kakek, Sultan Sepuh ke-13.

Mengenang PRA Arif Natadiningrat, tentu lebih mudah ketika menyimak kiprahnya di FKIKN maupun di FSKN yang pernah diketuainya. Sebab, sang ayah, Sultan Sepuh ke-13, adalah salah seorang deklarator FKIKN dan pendukung keputusan Sinuhun PB XII ketika menerima kepercayaan Keraton Surakarta ditunjuk sebagai kantor Sekretariat Jenderal (Setjen) FKIKN.

Baca : Pageblug Mayangkara Corona ”Membantu” Proses Pelemahan

Dukung FKIKN dan Sekjen

Namun dalam perjalanan, wadah FKIKN memang tidak mungkin menjadi organisasi sosial yang harus berganti pengurus dalam kurun waktu tertentu sesuai AD/ART. Sebab itu, di awal tahun 2000 lahirlah FSKN sebagai organisasi sosial budaya yang diketuai almarhum.

deklarasi-istana-mataram1
BERSAMA FKIKN : Sultan Sepuh ke-14 PRA Arif Natadiningrat (alm) sebagai ketua FSKN saat memberi sambutan di depan Gusti Moeng selaku Sekjen FKIKN dan beberapa tokoh lain dalam acara deklarasi Istana Mataram di Solo, 2018. FSKN dab FKIKN merupakan pilar penjaga tegaknya ketahanan budaya bangsa dan NKRI. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena sepeninggal Sinuhun PB XII, kalangan anggota FKIKN tetap meminta Gusti Moeng sebagai Sekretaris Jenderal yang sudah lebih dulu diizinkan Sinuhun, sebelum wafat di tahun 2004.

”FKIKN ‘kan hanya bersifat paguyuban, yang tak perlu berganti pengurus tiap periode waktu. Jadi, ya biar FSKN yang berkiprah sebagai organisasi sosial budaya yang terdaftar di Kemendagri dan Kemenkumham,” jelas Gusti Moeng yang dihubungi masih berada di Malang, tadi sore.

Dengan tampilnya almarhum di FSKN, upaya pelestarian seni budaya keraton dan menjaga eksistensi keraton-keraton se-Nusantara, menjadi lengkap. Karena, FKIKN punya kalender tetap menggelar Festival Keraton Nusantara (FKN) yang diisi sidang para raja dan penampilan kekayaan seni budaya, yang bertujuan untuk memperkuat tali persatuan NKRI dan ketahanan budaya bangsa.

Baca : Mbah Ning Berjuang untuk Bertahan dari Pandemi Corona

Memperkuat Tulang Punggung

Selain agenda FKN yang berjalan dua tahun sekali menjadi tiap tahun mulai 2017, FSKN juga memiliki agenda yang mulai berjalan rutin tiap tahun beriringan dengan FKN sejak 2016 yang bernama Festival Keraton dan Masyarakat Adat Asean, yang antara lain digelar di Keraton Sumenep, Madura, 2018.

deklarasi-istana-mataram3
KENANGAN DI FKN-8 : Kenangan KPH Edy Wirabhumi yang kini menjadi Ketua Harian Majlis Adat Keraton Nusantara (MAKN), bersama Sultan Sepuh ke-14 PRA Arif Natadiningrat (alm) sebelum menjadi Ketua FSKN, tampak akrab di event FKN ke-8 di Buton, Sultara, tahun 2012. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kenangan almarhum yang aktif di dua organisasi itu, juga melengkapi kebanggaan seluruh warga kota dan Kabupaten Cirebon, juga warga Jabar. Karena, setelah kali pertama menjadi tuan rumah FKN ke-2 di masa Sultan Sepuh ke-13 pada tahun 1999, Cirebon kembali mengulang sebagai tuan rumah FKN ke-11 pada masa Sultan Sepuh ke-14 di tahun 2017.

”Semoga penerusnya makin memperkuat upaya masyarakat adat se-Nusantara, untuk kembali menjadi tulang punggung bangsa dan NKRI. Karena, sejatinya 250-an keraton se-Nusantara itu yang urunan dan andil untuk melahirkan sebuah bangsa dan NKRI,” tegas Gusti Moeng. (Won Poerwono)

Baca : Heboh Perjanjian Giyanti di Medsos, Disikapi Serius Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta

Editor : Budi Sarmun