Kombinasi Dua Noda yang Terlambat Diantisipasi?

labuhan-corona-keraton-surakarta8
PENARI SANGGAR : Para penari Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta khususnya penari Bedaya Ketawang, saat melakukan ritual mandi air laut selatan di pantai Parangkusuma, Bantul, DIY, Maret lalu. Ritual itu merupakan bagian dari sikap spiritual menghadapi pageblug yang melanda keraton sejak 2017 hingga kini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Sukerta Corona dan ”Ontran-ontran” di Keraton Harus Dilabuh (2-habis)

ANTARA realita datangnya ”pageblug” virus Corona yang kemudian menjadi pandemi di bumi Nusantara, dengan ”ontran-ontran” yang terjadi di Keraton Surakarta selama 16 tahun ini, adalah dua hal yang sangat jauh berbeda jenis dan penyebabnya.

Tetapi, dua persoalan itu bisa mendatangkan akibat yang hampir sama, terlebih ketika seakan bisa ”berkolaborasi” menjadikombinasi yang ”jitu” untuk membuat para korbannya benar-benar kewalahan, atau bahkan sampai tidak berkutik. Karena unsur kombinasi itu adalah ”ontran-ontran”, maka objeknya seakan hanya terlokalisasi di lingkungan masyarakat adatKeraton Mataram Surakarta saja.

Karena faktanya, masyarakat adat Keraton Surakarta juga menjadi bagian dari warga bangsa (NKRI) dan bagian dari masyarakat duniayang terdampak akibat ”pageblug” pandemi Covid 19.

Meskipun berasal dari jenis atau persoalan yang berbeda, bagi masyarakat adat Keraton Mataram Surakarta, kombinasi antara keduanya sudah benar-benar menjadi noda dan ancaman yang dirasakan secara nyata.

Berantakan dan tak Berdaya

Tetapi ”lumpuh” dan ”terberainya” masyarakat adat itu lebih disebabkan oleh noda atau sukerta ”ontran-ontran” yang lebih dulu ”menyerang”, bahkan seakan ”bekerja” dari waktu ke waktu selama 16 tahun sejak peristiwa jumenengan nata” 2004 lalu.

Sedangkan noda pandemi atau pageblug, datangnya belakangan dan baru berjalan sekitar lima bulan, tetapi punya kekuatan yang dahsyat untuk membuat siapa saja dan apa saja jadi berantakan dan tak berdaya.

labuhan-corona-keraton-surakarta6
BENTUK ANTISIPASI : Kirab pusaka menyambut Tahun baru Jawa 1 Sura yang digelar Keraton Surakarta sebelum 2017, bisa disebutsebagai salah satu bentuk antisipasi secara spiritual kebatinan Jawa dalam menghadapi datangnya pageblug. Ketika itu, semua masih berjalan normal. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam formula kombinasi, jika dipandang secara spiritual kebatinan di lingkungan masyarakat adat warga peradaban Mataram, dua hal yang berkombinasi itu bisa disebut sebagai noda atau sukerta.

Dalam terminologi seperti itu, upaya untuk mengantisipasi ketika sukerta belum datang dan cara mengatasi ketika sukerta sudah disandang, sebenarnya masyarakat adat warga peradaban sudah sejak sudah memiliki solusi atau caranya seperti yang pernah dilakukan para leluhurnya.

Tetapi, apa yang sedang dialami masyarakat adat Mataram Surakarta sekarang sepertinya sebagai akibat terlambat mengantisipasi datangnya noda-noda pageblug itu? Benarkah demikian?

Punya Kiai Singkir

Secara spiritual kebatinan, mungkin bisa benar demikian. Mengingat, upacara adat kirab pusaka yang selalu diagendakan setiap menyambut Tahun Baru Jawa 1 Sura, menjadi agenda penting warga Mataram Surakarta yang tak pernah dilewatkan.

Namun, begitu peta manajemen internal berubah sejak Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari Koes Moertiyah dan para pendukungnya, disingkirkan secara militer menggunakan 2.000 personel Brimob dan 400 personel

TNI pada 15 April 2017, nyaris semua jenis upacara adat asal berjalan, jauh dari kerangka aturan adat yang berlaku di situ.

Dalam wawancara suaramerdekasolo.com dengan GKR Wandansari Koes Moertiyah yang akrab disapa Gusti Moeng itu, disebutkan bahw keraton punya pusaka Kiai Singkir, yang seharusnya dikeluarkan pada situasi dan kondisi bangsa sedang kritis.

”Saya enggak tahu, pada kirab 2019 pusaka itu dikeluarkan apa tidak? Karena pusaka itu untuk tulak-balak. Yang disebut tulak- balak, bisa untuk menghadapi bahaya atau datangnya sesuatu yang buruk. Tetapi bisa juga, untuk segera menyingkirkan hal-hal buruk yang sedang melanda, misalnya pageblug Corona ini”, sebut Gusti Moeng.

Kualitas Manusianya

Tetapi benar apa kata mantan anggota DPR RI dua periode terpisah yang memiliki segudang penghargaan itu, bahwa semua kembali kepada orang-orang yang ada di dalam (keraton) itu.

Ambisi dan niat awal memaksakan diri untuk masuk keraton tujuannya apa, dan untuk apa? Karena kalau sudah begini ini, yang menjadi korban dan tercoreng buruk namanya adalah institusi keraton.

labuhan-corona-keraton-surakarta10
KEMARAHAN PEDAGANG : Kemarahan para pedagang Pasar Klewer di tempat relokasi, Alun alun-Lor, tak semata-mata karena kompleks itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Tetapi, semua kembali pada kualitas manusianya, layak atau tidak mereka berada di dalam? Apa yang bisa mereka lakukan untuk warga bangsa yang sedang kesusahan seperti ini?

”Kalau sudah berani menduduki dan mengatasnamakan institusi keraton, berarti harus bisa mengakomodasi ekspektasi masyarakat luas. Ikut mengatasi situasi bangsa terutama yang berakit pageblug (pandemi Corona) ini.

”Karena, masih banyak di antara warga bangsa ini meyakini bahwa keraton bisa berperan sebagai simbol pusat budaya spiritual kebatinannya. Oleh karenanya, publik berharap keraton bisa tampil ikut mengatasi situasi bangsa, terutama yang berkait pageblug (pandemi Corona) ini,” tunjuk Ketua Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta itu.

Sukerta Ontran-ontran

Seperti diketahui, begitu pageblug Corona melanda, kali pertama yang terdampak di Keraton Surakarta adalah upacara adat tingalanjumenengan yang digelar dalam suasana aneh dan sangat jauh dari kata sakral, pada bulan Maret lalu.

Upacara itu hanya dihadiri kira-kira 50-an orang, yang sama sekali tanpa kehadiran orang-orang penting seperti Ketua MPR RI Bambang Soesatyo, walau sudah diberi undangan dan seragam secara khusus.

Berikutnya, adalah operasional Museum Art Gallery Keraton Surakarta yang langsung ditutup. Ini berarti, semua pekerja museum dan juga orang-orang yang direkrut Sinuhun PB XIII untuk bekerja di dalam, tak bekerja alias menganggur.

Di satu sisi, pageblug Corona yang melanda keraton bisa untuk mengukur kemampuan pribadi-pribadi orang yang ada di dalam keraton tentang apa yang bisa dilakukan? Tetapi, dari sisi lain ketika berkombinasi dengan noda atau sukerta ”ontran-ontran”, menjadi menambah daya rusak yang luar biasa terhadap kekerabatan masyarakat adat dan aset-asetnya.

Kondisi Tidak Normal

Semua itu, memang terkesan karena pageblug Corona. Sama-sama terkena dampak, sangat beda halnya dengan yang dialami Gusti Moeng dengan semua pendukungnya. Walau berada di luar karena tidak boleh masuk dan tidak boleh menjalankan tugas dan kewajiban adat di dalam, tetapi justru bisa banyak bergerak di luar.

Dan berkait dengan semua yang sudah terlanjur datang bersama pageblug Corona, sudah tidak masuk akal untuk bertanya apakah terlambat mengantisipasi? Karena, langkah antisipasi hanya bisa dilakukan ketika semua masih berada dalam kondisi dan situasi normal.

labuhan-corona-keraton-surakarta9
TIDAK BERJALAN NORMAL : Ketika Keraton Surakarta tidak berjalan normal akibat kombinasi sukerta ”ontran-ontran” dan pageblug Corona sekarang ini, yang terjadi adalah perbuatan yang kehilangan kendali seperti rencana pasar malam yang akan dibuka di Alkid tetapi ditutup Satpol PP, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Padahal, sejak tahun 2017, Keraton Surakarta bersama Sinuhun PB XIII dengan sejumlah orang-orang di sekitarnya, sudah dalam keadaan tidak normal. Dalam posisi seperti itu, makanya tidak aneh apabila baru-baru saja ada insiden yang melukiskan perbuatan dalam suasana tidak normal.

Yaitu penutupan pasar rakyat yang sedianya hendak dimulai pada saat para petugas Satpol PP Pemkot melakukan penutupan kegiatan di Alun-alun Kidul (Alkid) itu, belum lama ini.

Pasar malam yang terkesan nekat melawan kondisi luar biasa (KLB) Covid 19 di kota yang sudah berstatus zona ”hitam”, disebut-sebut karena mendapat izin seseorang abdidalem yang mengaku kepercayaan Sinuhun PB XIII.

Jelas Melawan KLB

Hiburan di ruang terbuka yang biasanya mengundang orang dalam jumlah banyak itu, sedianya akan berlangsung selama sebulan sampai saat upacara adat kirab pusaka menyambut 1 Sura tiba, 20 Agustus.

Namun, Pemkot dan beberapa simbol lembaga kepolisian dan militer yang ”dicatut” sepertinya tidak berkenan, lalu menutup kegiatan itu. Namun anehnya, pintu keluar-masuk kompleks Baluwarti di ujung selatan yaitu Kori Brajanala Kidul, juga ditutup

Kemudian, menyusul insiden penutupan kios-kios darurat di Alun-alun Lor yang menyebut-nyebut nama seseorang abdidalem kepercayaan Sinuhun PB XIII itu.

”Karena kami sejak 2017 ada di luar keraton, ya kurang tahu bagaimana ceritanya, kok semua itu bisa terjadi. Kalau menyangkut nama orang kepercayaan Sinuhun itu, saya tahu betul itu bukan siapa-siapa. Dia sama sekali bukan kerabat”.

labuhan-corona-keraton-surakarta7
RITUAL DOA : Gusti Moeng bersama para penari Bedaya Ketawang, melakukan ritual doa di sanggar pamujan kawasan pantai Parangkusuma, Bantul, DIY, sebagai bentuk sikap spiritual kebatinan Jawa di kalangan masyarakat peradaban Mataram, menghadapi pageblug, Maret lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Yang berkait dengan suasana yang kini malah jadi KLB, kami semua yang tergabung dalam Lembaga Dewan Adat (LDA), mendukung sepenuhnya langkah-langkah yang diambil pemerintah dalam mengatasi pandemi Corona. Kalau ada aturan protokol kesehatan, itu yang kami dukung dan lakukan, untuk menjaga semuanya.

”Yang berkait dengan KLB itu pula, memang sebaiknya keraton tidak mengadakan apa-apa dulu. Garebeg Besar nggak ada, ya enggak apa-apa. Yang penting, kita tetap siap dengan hewan kurban,” ujar Gusti Moeng yang masih berduka atas meninggalnya abdidalem ulama KRT Pujo Setiyonodipuro, belum lama ini. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun