Larungan Jadi Objek Wisata Spiritual yang Berkembang

labuhan-corona-keraton-surakarta1
NYADRAN SURA : Gusti Moeng dan beberapa pimpinan bebadan serta kerabat, bersama beberapa pejabat Pemkab Tegal tampak nyekar atau nyadran menyambut 1 Sura, sesudah mengganti langse penutup makam Sinuhun Amangkurat Agung Astana Tegalarum, Kabupaten Tegal. Langse makam yang sudah dilepas, selanjutnya dilabuh di pantai Parangkusuma, DIY, Bantul. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Sukerta Corona dan ”Ontran-ontran” di Keraton Harus Dilabuh (1-bersambung)

MENGHADAPI datangnya bulan suci bagi warga peradaban Jawa yang bertepatan dengan datangnya Tahun Baru Jawa, 1 Sura, yang jatuh pada tanggal 20 Agustus mendatang (kalender nasional-Red), Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta sudah menjadwalkan beberapa agenda kegiatan upacara adatnya.

Agenda itu antara lain, labuhan atau larungan yaitu ”membuang” (menghanyutkan) barang-barang bekas yang dianggap sebagai kotoran atau anasir jahat yang dalam bahasa spiritual kebatinan disebut ”sukerta”.

Seperti yang sudah dilakukan secara turun-temurun oleh warga Dinasti Mataram, bahkan sejak raja Mataram Panembahan Senapati, ”sukerta” itu akan dilabuh di laut selatan melalui pantai Parangkusuma, Kabupaten Bantul, yang sejak 17 Agustus 45 masuk ke wilayah Provinsi DIY.

Meski labuhan ke laut selatan melalui pantai Parangkusuma adalah bagian dari kesepakatan adat antara raja Mataram (Islam) Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma untuk dilakukan semua keturunan Dinasti Mataram.

Namun tidak termasuk Pura Pakualaman (Jogja) dan Pura Mangkunegaran (Solo) yang lahir sejak perjanjian Salatiga, beberapa tahun setelah perjanjian Giyanti di Karanganyar tahun 1755.

Labuhan ke laur selatan, selama ini hanya dilakukan oleh Keraton Mataram Surakarta dan Keraton Jogja, yang selalu diahului dengan doa wilujengan di sebuah tempat upacara yang ada di lokasi, kurang lebih berjarak 500 meter dari bibir pantai Parangkusuma.

labuhan-corona-keraton-surakarta2
DENGAN PROSESI : Selambu (langse) baru penutup makam Sinuhun Amangkurat Agung di Astana Raja-raja Tegalarum (Kabupaten Tegtal), diantar dengan sebuah prosesi arak-arakan yang melibatkan abdidalem dan prajurit dari Keraton Mataram Surakarta. Langse lama selanjutnya dilabuh di pantai Parangkusuma, Bantul, DIY, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Khusus untuk langse atau selambu yang ada di makam Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma yang meninggap pada tahun 1645, kewajiban labuhan rutin secara bergantian tiap tahun harus dilakukan Keraton Mataram Surakarta dan Keraton Jogja.

”Labuhan selambu makam eyang Amangkurat Agung di Astana Tegalarum (Kabupaten Tegal), seharusnya juga dilakukan giliran antara Solo dan Jogja. Tetapi, selama ini yang aktif hanya Keraton Mataram Surakarta,” jelas GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Khusus untuk Keraton Mataram Surakarta, upacara adat labuhan yang sampai sekarang masih dilakukan utamanya melabuh langse Sinuhun Amangkurat Agung (1645-1677).

Karena, tiap tahun LDA menggelar upacara adat ”larab langse” atau ganti selambu makam penerus Dinasti Mataram setelah Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (1613-1645).

Upacara adat itu sejak satu dekade terakhir menjadi destinasi wisata spiritual yang berkembang pesat dan positif, karena didukung dengan bantuan APBD Kabupaten Tegal yang diupayakan Ki Enthus Susmono, dalang terkenal asal setempat yang pernah menjabat bupati sampai akhir hayat sebelum masa bhaktinya berakhir kira-kira  dua tahun lalu.

labuhan-corona-keraton-surakarta3
DIDUKUNG SEMUA KOMPONEN : Upacara labuhan sukerta di pantai Parangkusuma yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta, sebelum 2017, tampak berbaris berarak-arakan panjang karena didukung semua komponen termasuk kalangan warga Pakasa sejumlah cabang di Jateng/DIY dan Jatim serta organisasi Putri Narpa Wandawa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Ramainya upacara adat larab langse Sinuhun Amangkurat Agung, selain ada ritual kirab yang didukung utusan dalem dan beberapa bregada prajurit dari Keraton Mataram Surakarta, juga dihadiri warga trah darahdalem mulai dari keturunan Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun Paku Buwono XIII yang terwadahi dalam LDA.

Selain itu, pilar-pilar LDA dari Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) dari semua cabang di Jateng/DIY dan Jatim, juga berdatangan mendukung.

Begitu juga organisasi Putri Narpa Wandawa yang sama-sama didirikan Sinuhun Paku Buwono X dengan Pakasa di tahun 1931, sejak beberapa tahun lalu bangkit juga dan dipimpin GKR Sekar Kencana, ikut aktif meramaikan upacara itu.

”Jadi, selain warga Kabupaten Tegal sendiri dan dari daerah sekitarnya, rombongan dari Keraton Mataram Surakarta sendiri juga banyak berdatangan. Karena, ada acara pendukungnya selain larab selambu”.

labuhan-corona-keraton-surakarta4
DOA PELEPASAN UBA RAMPE = Sebelum dihanyutkan, semua barang-barang dan ubar-rampe simbol sukerta didoakan untuk pelepasannya yang berlangsung persis di bibir pantai Parangkusuma, Bantul, DIY. UPacara labuhan itu dipimpin Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua LDA GKR Wandansari Koes Moertiyah, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Di dalam pagar ada ziarah, pengajian akbar, lomba lagu-lagu religi, di luar pagar ada pasar malam yang dulu diramaikan dengan pentas wayang kulit, dalangnya mas Enthus (alm)”.

”Jadi, nyadran menyambut 1 Sura yang menjadi mata pelajaran wajib bagi para siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara, ikut menjadi daya dukung upacara adat sekaligus wisata spiritual yang digelar bersama antara Pemkab Tegal dan Keraton Mataram Surakarta itu,” tunjuk Ketua LDA yang akrab disapa Gusti Moeng itu.

Sepeninggal Ki Enthus Susmono, memang tidak ada tanda-tanda kerjasama penyelenggaraan wisata spiritual berbasis upacara adat di Astana Sinuhun Amangkurat Agung itu akan berhenti. Karena, ritual yang digelar LDA tahun lalu, masih bisa terwujud dan mendapat dukungan bantuan APBD
setempat.

Namun, hingga bulan Sura akan segera tiba di tahun ini, rupanya upacara itu ikut menjadi korban akibat pandemi Corona. Karena, Pemkab Tegal sudah memberi kabar tidak bisa memberi bantuan untuk penyelenggaraan event larab selambu bersama keramaian pendukungnya.

Tiadanya bantuan dari APBD, tidak akan membuat upacara adat yang sudah menjadi kewajiban penerus Dinasti Mataram itu menjadi libur. Karena Gusti Moeng sudah mengumumkan di depan para pengurus Pakasa Cabang dan para siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara, bahwa ritual itu harus tetap dijalankan.

labuhan-corona-keraton-surakarta5
SEBAGIAN SUKERTA : Sebagian dari hal-hal yang bersifat buruk secara fisik sekaligus menjadi simbol sukerta secara nonfisik, tampak terbungkus beberapa kardus disertai berbagai jenis uba-rampai dari Keraton Mataram Surakarta, saat hendak dihanyutkan pada upacara adat labuhan di Parangkusuma, sebelum 2017. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Nyekar menyambut 1 Sura itu akan tetap kami adakan sebelum 19 Agustus. Itu kewajiban kami. Nanti setelah itu dilanjutkan labuhannya. Yang jelas, mudah-mudahan situasi pandeminya semakin baik. Agar kita semua lebih tenang dan bisa bersama-sama menjalankan upacara adat”.

”Karena dalam doa penyuwunan kami, ya termasuk memohon agar Tuhan Yang Maha Agung, segera memberi terang kepada bangsa Indonesia. Pageblugnya biar segera lenyap dari bumi Nusantara,” pinta Pengageng Sasana Wilapa yang mendapat penghargaan dari Malaysia selaku Tokoh Pejuang/Pembela Budaya Keraton Suarakarta tahun 2018 itu. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun