Hikmah dan Jaminan Kelangsungan Memasuki Perubahan

konflik-keraton-surakarta11
AKTIF MEMPERBAIKI : Begitu dipercaya sebagai Pengageng Sasana Wilapa sejak 2004 dan Ketua Lembaga Dewan Adat, Gusti Moeng mengerahkan segala kemampuan dan sumber dayanya untuk memperbaiki dan menata ulang kerusakan-kerusakan yang terjadi di Keraton Surakarta. Hari-harinya selalu diisi kegiatan renovasi bangunan dan restorasi aset-aset benda budaya seperti koleksi kereta kuno. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Konflik dan Friksi Menuju Gerbang Keemasan Mataram? (3-habis)

WALAU sudah membuat keluarga besar trah darahdalem dan warga Pakasa sedikit ayem dan tenang, tetapi penjelasan Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) dan KPH Edy Wirabhumi selaku Ketua Pusat Pakasa sekaligus Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS), masih tampak belum sepenuhnya bisa dipahami makna harafiahnya oleh kalangan pengurus Pakasa cabang yang hadir di ndalem Kayonan, Baluwarti, siang itu.

Bukan persoalan pilihan bahasa komunikasi yang digunakan yang menjadi penyebabnya, tetapi banyak hal yang dimaksud dua tokoh itu memang belum bisa dibuka lebar dan secara vulgar. Ada batas-batas yang harus ditaati, karena memang belum saatnya apa yang dimaksud dalam sebagian judul di atas dibuka di depan publik.

”Ya memang belum saatnya untuk dibuka. Karena situasinya belum tepat. Sebagai masyarakat adat, katanya harus tahu adat, misalnya ‘ngenteni sangat’. Jangan sampai nggege mangsa. Itulah kearifan lokal masyarakat adat yang harus kita hormati”.

”Meskipun, apa yang disebut hikmah itu merupakan jaminan penuh bagi kelangsungan masyarakat adat yang tidak perlu dicemaskan lagi,” tegas KPH Edy menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com saat menggelar konferensi pers membahas berbagai hal yang menyangkut nama Keraton Surakarta, di sebuah rumah makan, kemarin petang.

Menjawab pertanyaan para awak media, Ketua Harian MAKN juga banyak menjelaskan apa yang sebelumnya disampaikan di depan para pengurus Pakasa dari sejumlah cabang di Solo Raya, Jateng, DIY dan Jatim yang mengadakan pertemuan kali pertama di ndalem Kayonan, Baluwarti, sejak 4 bulan libur akibat pandemi Corona.

konflik-keraton-surakarta10
PILAR BARU : Organisasi Putri Narpa Wandawa yang belum genap 10 tahun di aktifkan kembali dan diketuai GKR Sekar Kencana, memperingati ultahnya ke-89 secara sederhana di ndalem Kayonan, Baluwarti, belum lama ini, akan menjadi pilar penyangga Mataram Surakarta selain Pakasa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Efek Sampingnya Hikmah

Di forum konferensi pers itupun, KPH Edy hanya menyebut bahwa ”ontran-ontran” yang terjadi di keraton di tahun 2004 dan 2017, di satu sisi ada skenario untuk menenggelamkan kapal ”Mataram Surakarta”, tetapi yang terjadi adalah Lembaga Dewan Adat dan bersatunya keraton-keraton se-Nusantara yang terwadahi dalam MAKN dan FKIKN.  

Sisi positif sebagai ”efek samping” (side effect) dari tekanan-tekanan berbagai kepentingan yang bergabung itu, disebut hikmah dan lahirnya kesadaran di kalangan keraton-keraton se-Nusantara untuk bersatu dan kuat. Hikmah bagi Mataram Surakarta selain beberapa hal di atas, diyakini menjadi kekuatan untuk melangkah sebagai titik awal menuju zaman perubahan yang disebut zaman keemasan.

”Lahirnya MAKN dengan potensi dan peran yang dimiliki sekarang ini, juga akan menjadi titik awal menuju zaman keemasan keraton se-Nusantara. Karena, di situlah negara dan bangsa ini membutuhkan pertolongan keraton-keraton se-Nusantara, karena merekalah yang punya kekayaan budaya dan SDA yang menjadi modal dasar serta ketahanan nasional sebuah bangsa dan negara,” jelas KPH Edy lagi.

Beberapa hal itu, disebutkan juga sudah disampaikan di forum dengar-pendapat pengurus MAKN dengan Komisi X yang diketuai Dede Yusuf di ruang sidang komisi Gedung DPR RI, Senin (5/7). Kebetulan, bersama itu juga hadir pengurus FKPPI  yang diketuai Ponco Sutowo, Aliansi Kebangsaan dan Yayasan YSBN yang menyampaikan usul-usul untuk penyusunan RUU sistem pendidikan nasional.

Karena persoalannya bersangkut-paut dengan sistem pendidikan nasional, penganggaran pemberdayaan potensi budaya, bidang hukum dan pemerintahan (dalam negeri), dengar- pendapat ditutup dengan kesepakatan untuk membentuk panitia kerja (panja), yang pembahasannya akan melibatkan Komisi II dan Komisi III DPR RI,  yang akan dijadwalkan kemudian.

konflik-keraton-surakarta9
SERAHKAN CATATAN : KPH Edy Wirabhumi selaku Ketua MAKN yang juga pimpinan LHKS, menyerahkan catatan tentang profil keraton-keraton anggota MAKN kepada Ketua Komisi X Dede Yusuf. Dalam dengar pendapat MAKN dengan Komisi X itu, juga dilaporkan janji-janji Presiden Jokowi untuk menyelesaikan konflik di Keraton Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jaminan Kelangsungan Eksistensi

Sampai di situ, hal-hal yang strategis menyangkut jaminan kelangsungan dan eksistensi keluarga besar Mataram Surakarta termasuk di dalamnya warga Pakasa, memang masih sulit melihat hubungan antara beberapa variabel penting yang sebenarnya ada titik temunya. Misalnya soal kapal Mataram dan sekoci, hubungannya dengan gerbang keemasan Mataram dan zaman keemasan keraton-keraton se-Nusantara.

Masyarakat adat Jawa yang menjadi bagian dari peradaban Mataram, memang selalu mengedepankan sikap positif, terutama ketika berurusan dengan ”sangat” dan ”nggege mangsa”. Sikap-sikap seperti itulah yang diperlihatkan kalangan pengurus Pakasa cabang yang telah lama kehilangan kesempatan bertemu di keraton di hari Minggu Kliwon, akibat pandemi Corona.

”Pertemuan siang menika keleresan mboten pas Minggu Kliwon. Nanging Minggu Wage. Menawi ngentosi Minggu Kliwon ingkang bade dumugi, kedangon. Salajengipun, pepanggihan rutin saben Minggu Kliwon bade kasambet malih”.

”Mugi-mugi situasi pandemi Corona enggal sae lan suasana pulih malih kados wingi-uni, supados sadaya kegiatan saget mlampah lancar malih,” jelas Ketua LDA yang juga Pengageng Sasana Wilapa dan akrab disapa Gusti Moeng itu, sambil memberi ucapan selamat secara khusus atas kedatangan pengurus Pakasa Trenggalek.  

Suasana pertemuan pengurus Pakasa cabang yang terkumpul sekitar 70 orang siang tadi, seperti suasana melepas rasa kangen di antara para pengurus dan ada beberapa anggota organisasi yang pernah didirikan Sinuhun Paku Buwono X pada tahun 1931 itu.

Naik Motor 3 Jam

Dari gerak-gerik dan bahasa tubuh serta ungkapannya, bisa melukiskan kegembiraan dan mengungkapkan rasa kangen, setelah berbulan-bulan tidak bisa berkumpul akibat pandemi Corona.

Pertemuan yang terjadi tadi siangpun, selain terlihat lebih longgar karena tiap cabang hanya dibatasi 5 orang unsur pengurus, juga tampak mengikuti protokol kesehatan Covid 19, baik jarak duduk maupun masker yang menutup sebagian ekspresi kegembiraannya.

Memang, dari catatan panitia diperkirakan ada 100-an orang yang merupakan unsur-unsur pengurus cabang yang diperkirakan hadir. Tetapi, sampai pertemuan dimulai sekitar pukul 10.30 WIB, yang hadir mencapai 70-an orang, termasuk pengurus Pakasa Cabang Trenggalek (Jatim).

konflik-keraton-surakarta8
PILAR MATARAM : Gusti Moeng dan KPH Edy Wirabhumi berbicara di depan para pengurus Pakasa cabang yang menjadi bagian pilar penyangga Mataram Surakarta. Pertemuan di ndalem Kayonan, Baluwarti, belum lama ini, membahas berbagai agenda kegiatan adat Mataram. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Pengurus Pakasa Cabang Trenggalek yang dipimpin ketuanya, KRT Hasta Surantara, menunjukkan antusiasmenya untuk datang pada pisowanan di ndalem Kayonan. Mereka sangat bersemangat, karena datang dengan naik motor dan berangkat dari rumah mereka pukul 02.00 WIB.

”Nggih mas. Menika sampun kangen sanget pinanggih kanca-kanca wonten parepatan Pakasa Punjer. Mila kula sarencang nekat goncengan motor saking Trenggalek. Bidal jam 02.00, amargi kedah mampir tuwi sederek sakit wonten Solo mriki,” ungkap KRT Hasta bersemangat.

Begitu pula pengurus Pakasa Cabang Ponorogo yang dipimpin ketuanya, KRA Gendut MN Wreksodiningrat, tampak tetap bersemangat mengikuti pertemuan walau harus menempuh perjalanan lebih 3 jam untuk sampai di ndalem Kayonan.

Agenda Nyadran dan Labuhan

Pertemuan para pengurus Pakasa cabang ini memang sebagai bentuk upaya konsolidasi internal, karena selain berbulan-bulan tidak bisa bersilaturahmi akibat pandemi Corona, juga karena ada beberapa cabang Pakasa yang vakum, setengah jalan atau stagnan dan ada yang aktif serta berkembang pesat seperti Pakasa Cabang Ponorogo.

KPH Edy Wirabhumi selaku Ketua Pakasa Pusat berpesan untuk melakukan konsolidasi di tingkat pengurus cabang. Sementara Gusti Moeng meminta untuk warga Pakasa untuk bersiap-siap, seandainya situasi pandemi Corona sudah reda, akan segera mengikuti jadwal agenda kegiatan nyadran (ziarah) menyabut 1 Sura dan ”labuhan” ke pantai Parangkusuma (DIY).

”Dua agenda itu yang ingin saya sampaikan, agar panjenengan semua sudah menyiapkan diri. Mudah-mudahan situasi Covid 19 segera reda, dan suasana menjadi lebih longgar, sehingga kita bisa beraktivitas kembali, menggelar upacara adat”.

” Seperti labuhan, sudah lewat setahun tidak dilakukan. Padahal, labuhan selambu Sinuhun Amangkurat Agung, adalah kewajiban yang harus dilakukan. Karena itu, jadwal nyadran dan labuhan saya susulkan nanti. Kebetulan waktunya (1 Sura), masih kira-kira sebulan,” ujar Gusti Moeng.

konflik-keraton-surakarta7
KONFERENSI PERS : KPH Edy Wirabhumi selaku Pimpinan LHKS yang juga Ketua Harian MAKN, berbicara menjawab pertanyaan para awak media dalam konferensi pers tentang berbagai persoalan yang menyangkut nama Keraton Surakarta, di sebuah rumah makan, kemarin. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jadi Contoh Model

Memasuki zaman perubahan yang bisa jadi ditandai dengan pandemi Corona ini, tak terasa juga terjadi di tubuh keluarga besar peradaban Mataram. Kini, kapal besar Mataram Surakarta itu secara tegas punya lembaga berbadan hukum (LDA) yang menjaga paugeran/tata nilai adat,  masyarakat adat dan aset-asetnya.

Dengan begitu, figur Sinuhun Paku Buwono semakin dipertegas posisinya sebagai simbol yang representatif dan bukan eksekutor atas semua kebijakan yang terbungkus dalam ”sabda pandita ratu”. Dia didukung lembaga yang kuat dan berbadan hukum, yaitu LHKS, LDA dan Pakasa, bahkan tidak lama lagi komunitas Putri Narpa Wandawa akan menyusul.

Masih banyak bagian yang sudah menyesuaikan tuntutan legal standing sesuai dengan kebutuhan perubahan, semisal beberapa yayasan yang diinisiasi Gusti Moeng seperti Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta.

Dengan begitu, seandainya benar dalam satu dekade ke depan menjadi awal era keemasan Mataram Surakarta, kesiapan itu sudah dimiliki. Apa yang sudah dimulai Mataram Surakarta, sangat mungkin menjadi contoh model yang bisa memberdayakan semua keraton yang ada di Nusantara.

Karena sudah ada FKIKN yang mempercayakan Gusti Moeng sebagai Sekjen, kemudian MAKN yang menempatkan KPH Edy Wirabhumi sebagai ketua hariannya. Melalui potensi itu, sangat mungkin zaman keemasan keraton-keraton di Nusantara menjadi kenyataan, karena beberapa modal utamanya sudah dimiliki.

Kalau sudah begitu, cita-cita NKRI menjadi negara yang kuat dalam segala hal dan berdikari dalam segala hal,  seperti yang dilukiskan dalam janturan wayang kulit akan menjadi kenyataan pula. (Won Poerwono-habis)