Proses Belajar-Mengajar Sanggar Keraton Surakarta Terdampak Corona

pasinaon-keraton-kasunanan-terdampak-corona4
PELAJARAN LAKU DHODHOK : Di Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, juga diajarkan cara berjalan jongkok atau ''laku dhodhok'' sekadar sebagai pengetahuan. Karena, dalam budaya Jawa dikenal ''unggah-ungguh, udanegara, tata krama'' sebagai bagian dari sikap santun dan kepribadian peradaban Jawa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono).

*Saatnya Pendadaran dan Wisuda Purnawiyata

DUNIA pendidikan yang ikut menjadi korban karena terdampak pandemi Corona, ternyata juga dirasakan aktivitas Sanggar Pasinaon Pambiwara, sebuah lembaga pendidikan nonformal yang dikelola Yayasan Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta.

Apabila hampir semua yang berkait dengan dunia pendidikan harus terganggu proses belajar-mengajarnya sampai tertunda tahapan evaluasi dan penerimaan peserta didik barunya, hal serupa juga dialami Sanggar Pasinaon Pambiwara yang telah mencetak ribuan tenaga profesional di bidang MC berbahasa Jawa sejak tahun 1990-an itu.

Tetapi, ketika dunia pendidikan formal di bawah Kemendikbud mampu mencari solusi untuk mengatasi gangguan akibat pandemi Corona itu, sanggar yang dipimpin KPH Raditya Lintang Sasangka itu juga mengikuti jejak yang solutif itu.

Sanggar Bisa Sesuaikan

Artinya, kalau aktivitas belajar-mengajar hanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan sarana IT atau internet, sanggarpun bisa melakukan dan menyesuaikannya selama metode tatap-muka belum bisa dilakukan karena protokol kesehatan Covid 19 mengharuskan jaga jarak dan bermasker.

”Ya enggak masalah, kami bisa melakukan itu. Tapi, ya memang menguras energi. Karena harus melayani kebutuhan pembelajaran dengan teknologi medsos dengan segala kekurangannya”.

”Kebetulan, siswa sanggar babaran (angkatan) 37 ini melebihi babaran sebelumnya. Di sanggar ‘punjer’ (pusat-Solo-Red) saja, ada 90-an orang,” papar KRA Budayaningrat, dwija yang karena mengampu 4 mata pelajaran, menjadi guru paling sibuk melakukan proses belajar-mengajar lewat WA dan medsos lainnya, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com.  

pasinaon-keraton-kasunanan-terdampak-corona1
SIAPKAN SAMIR : Pangarsa Punjer (Ketua Pusat) Pakasa Keraton Surakarta, KPH Edy Wirabhumi menyiapkan samir yang akan dikalungkan kepada seorang wisuda purna wiyata siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara angkatan 36, tahun lalu. Upacara wisuda berlangsung di ndalem Jayakusuman. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Aktivitas belajar-mengajar Sanggar Pasinaon Pambiwara yang sedang berjalan agak tertaih-tatih akibat terdampak pandemi Corona ini, bisa dianggap menjadi satu-satunya aktivitas Keraton Surakarta yang masih bisa berjalan. Meskipun, kegiatan itu harus berjalan di luar kompleks bangunan inti keraton.

Tinggal Satu-satunya

Kegiatan lembaga sanggar harus berjalan di luar keraton, karena lembaga itu dan aktivitasnya sudah terlanjur melekat dengan keberadaan Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang dipimpin GKR Wandansari selaku ketuanya.

Termasuk hampir semua upacara adat di keraton, yang nyaris tak bisa dilakukan di dalam, karena Gusti Moeng dan hampir semua jajaran bebadan (departemen) yang mengurusinya berada di luar keraton.

Padahal, lembaga yang dipimpin Gusti Moeng itu, sejak April 2017 berada di luar keraton karena semua tenaga sanggar termasuk manajemennya, memilih mengikuti Gusti Moeng yang ”diusir” sekelompok kerabat yang berlindung di balik nama Sinuhun PB XIII dan melibatkan kekuatan dari luar yaitu ribuan personel Brimob dan TNI.

Bahkan tidak hanya ”sivitas akademika” sanggar, hampir semua bebadan atau anggota ”kabinet” yang dibentuk saat Sinuhun PB XIII mulai bertahta di tahun 2004, juga memilih mengikuti jejak Gusti Moeng berkegiatan sebisanya untuk keraton dan pelestarian budaya di luar keraton.

”Ya, memang tinggal Sanggar Pasinaon Pambiwara yang masih bisa berjalan baik dan melibatkan masyarakat luas. Kalau aktivitas Putri Narpa Wandawa ‘kan termasuk baru diaktifkan kembali setelah lama vakum. Beberapa hari lalu, baru saja peringatan hari jadi,” ujar Gusti Moeng, yang dihubungi suaramerdekasolo.com di tempat terpisah.

Komitmen Dipegang Teguh

Selaku Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabupayan Keraton Surakarta yang mengelola Sanggar Pasinaon Pambiwara, Gusti Moeng berkomitmen untuk terus menjalankan tugas dan kewajibannya agar sanggar terus berjalan, meski dengan segala keterbatasannya, apalagi kondisinya juga ikut terdampak pandemi Corona.

Komitmen itu selalu dipegang teguh, karena sanggar yang memperkenalkan budaya Jawa dan mendidik para siswanya menguasai budaya Jawa secara umum, juga ketrampilan sebagai juru pranatacara atau MC Jawa itu, melibatkan masyarakat luas dari berbagai elemen dan kelas sosial.

pasinaon-keraton-kasunanan-terdampak-corona2
WISUDA PURNA WIYATA : Acara wisuda purna wiyata siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta babaran 36 di tahun 2019, digelar di ndalem Jayakusuman, Gajahan, Pasarkliwon. Gusti Moeng berencana menggelar wisuda lulusan angkatan 37 di tempat yang sama Desember nanti. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Meski aktivitas belajar-mengajarnya terpaksa dilakukan di luar keraton, yaitu ndalem Kayonan dan sedang terdampak pandemi Covid 19, namun animo masyarakat untuk belajar justru makin besar. Dari hanya 50-an siswa babaran (angkatan) 36 yang diwisuda Desember 2019, untuk babaran 37 tahun ini siswanya bertambah menjadi 90 orang lebih.

Jumlah siswa angkatan 37 itu hanya di sanggar ”punjer” atau pusat. Kalau termasuk cabang-cabang lain seperti di Tulungagung, Malang, Kediri, Semarang dan Klaten, lebih dari 300 siswa. Jauh lebih banyak dibandingkan babaran sebelumnya yang hanya 200-an.

”Mereka sangat antusias, walaupun terganggu pandemi Corona. Tetapi proses belajar-mengajarnya bisa diatasi dengan internet. KRA Budayaningrat yang mengkoordinasi proses belajar-mengajar mdeol tanpa tatap muka ini,” tunjuk Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta itu.

Pelajaran Berziarah

Dalam kondisi tanpa gangguan apapun, kegiatan belajar-mengajar sanggar di cabang dan semua cabangnya, seharusnya sudah memasuki mata pelajaran pengenalan objek-objek yang berkait dengan latarbelakang kesejarahan peradaban/budaya Jawa.

Selain mengenal semua tempat-tempat penting secara fisik di kompleks Keraton Surakarta, sebenarnya di bulan-bulan ini sudah memasuki jadwal kunjungan ke makam raja-raja Mataram di Astana Pajimatan Imogiri, Bantul (DIY), kemudian makam raja-raja di Astana Pajimatan Tegal Arum, Kabupaten Tegal, lalu ditutup wisuda purnawiyata.

Selain diperkenalkan tokoh-tokoh yang ikut melahirkan peradaban/budaya Jawa, para siswa juga diperkenalkan tokoh-tokoh yang melegitimasi peradaban yaitu para pendiri Dinasti Mataram yang dimakamkan di Imogiri dan Tegalarum.

Pelajaran pengenalan semua tempat tokoh leluhur Mataram dan peradaban Jawa, khususnya yang berkait dengan pengetahuan sejarah Keraton Surakarta Hadiningrat, itu sangat penting karena keseluruhan struktur bangunan di keraton memiliki makna filosofi.

pasinaon-keraton-kasunanan-terdampak-corona3
PENDADARAN SISWA : Pendadaran atau ujian sebagai tahap akhir belajar para siswa sanggar, dilakukan secara serentak. KRA BUdayaningrat sebagai dwija pengampu 4 mata pelajaran sekaligus, tatkala menguji kemampuan siswa mengenal gending untuk iringan tahapan resepsi pernikahan, beberapa waktu lalu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jangan Melihat Wujudnya

Bangunan yang terhampar dari pintu masuk atau gapura utara (Gladag) yang tersambung ke Alun-alun Lor (utara), kemudian berakhir di gapura Gading setelah melewati Alun-alun Kidul (selatan), sejatinya   melukiskan perjalanan manusia hidup manusia dari lahir ke dunia hingga kembali ke hadapanNya.

Makna filosofi itu terkandung dalam bunyi sabda Sinuhun Paku Buwono X yang dikenal sebagai raja yang bijaksana. Penggalan sabda itu kurang lebih berbunyi :”…Karaton Surakarta haywa dinulu amung wujuding wewangunan kewala…..”.

Bunyi penggalan sabda itu kurang lebih bermaksud mengajarkan kepada semua anak peradaban kapanpun berada, agar jangan melihat keraton daru wujud bangunannya saja. Melainkan pahamilah bahwa itu merupakan pelajaran kehidupan dari lahir hingga kembali kepada Sang Khalik.

”Selain sebagai pengetahuan, tatacara bagaimana berziarah sesuai budaya Jawa, juga perlu diedukasi. Karena, busana adat Jawa ada aturan dan tatacaranya ketika digunakan dalam keseharian, resepsi, pisowanan maupun berziarah”.

”Ada sedikit perbedaan sesuai kebutuhannya. Ini juga harus diperkenalkan kepada para siswa,” jelas mantan anggota DPR RI dua periode terpisah yang mendapat penghargaan The Fukuoka Culture Prize Award di Jepang 2012 itu. (Won Poerwono)

pasinaon-keraton-kasunanan-terdampak-corona5
KEMAMPUAN BERPIDATO : Salah satu pelajaran yang diuji dalam bagian akhir kegiatan Sanggar Pasinaon Pambiwara Keraton Surakarta, adalah kemampuan ”hamicara” atau pidato berbahasa Jawa di depan publik. Ujian ini dilakukan bagi para siswa angkatan 36 tahun 2019 lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun