Nama ”Trenggalek” Diusulkan Calon Sinuhun Amangkurat Jawi

cikal-bakal-kabupaten-trenggalek2
PENGARUH KEDIRI : Beberapa jenis kesenian tradisional seperti ''jaranan'' danj ''kethek ogleng'' yang berkembang di Kabupaten Ponorogo, jelas terpengaruh oleh peradaban Kediri dan Majapahit, karena kabupaten itu menjadi tempat singgah anak-anak Prabu Brawijaya V karena Keraton Majapahit runtuh. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kultur Berciri ”Mataraman” di Wilayah Barat Jatim (3-habis)

NAMA Trenggalek yang digabung dari Taranggana dan Golek sebagai nama kabupaten di wilayah barat Jawa Timur (Jatim), ternyata atas usulan Pangeran Suryaputra, kakak kandung Pangeran Taranggana, yang sama-sama sebagai putra Sinuhun Paku Buwono (PB) I.

Pangeran Suryaputra kelak menggantikan ayahandanya sebagai raja di Keraton Mataram Kartasura (1719-1726), bergelar Sinuhun Amangkurat Jawi.

Atas usul sang kakak atau calon Sinuhun Amangkurat Jawi itu, mulai saat itu wilayah di utara Kabupaten Ponorogo (kini Jatim) itu, resmi dinamakan Taranggana-Golek yang kemudian dikenal bentuk penyebutan yang lebih sederhana sebagai ”Trenggalek”.

Nama wilayah ”kademangan” yang dipimpin Demang Arya Menak Sopal itu, kemudian dinaikkan statusnya sebagai kabupaten otonom oleh Sinuhun Amangkurat Jawi.

Wajar Kalau Diprotes

Selain melakukan pemekaran wilayah yang sebelumnya kademangan, Sinuhun mengangkat/menetapkan sekaligus melantik sang adik yaitu Pangeran Taranggana, sebagai Bupati Trenggalek (yang pertama) pada tgl 31 Agustus 1721.

”Masyarakat di sana, merasa punya ciri-ciri kultur yang mirip bahkan sama dengan masyarakat di wilayah Keraton Mataram Kartasura (kini Mataram Surakarta), la kok mau dimasukkan ke wilayah yang kultur yang berbeda. Wajar saja kalau kemudian protes, menolak?”

cikal-bakal-kabupaten-trenggalek1
SEDIKIT BERBEDA : Walau sedikit berbeda cikal-bakal asal-usul dan lebih dulu kelahirannya dan terpengaruh peradaban Majapahit/Kediri, warga Kabupaten Ponorogo tetap memiliki lebih banyak ciri-ciri sosial kultural yang sama dengan Trenggalek yang sama-sama berada di wilayah ”Mataraman”.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Tetapi tidak elok dan tidak etis, kalau di zaman sekarang ada yang mau menganulir fakta sejarah itu. Pasti diprotes keras oleh masyarakat,” papar peneliti dan penulis sejarah Dr Purwadi MHum, yang juga anggota Pakasa Cabang Jogja itu, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Malah Menambah Semangat

Penyusun sejarah yang kini masih berstatus pengajar di FIB Universitas Negeri Yogya (UNY) itu, tak hanya menyusun naskah sejarah lahirnya Kabupaten Trenggalek.

Munculnya klaim sepihak pejabat di Kabupaten Trenggalek bahwa wilayahnya punya latarbelakang sejarah dengan eksistensi Keraton Jogja (SMS.Com, 24/6), sangat menjadi perhatiannya karena itu dinilai tidak benar, membelokkan sejarah dan menyesatkan.

Komentar pejabat dari Kabupaten Trenggalek yang dinilainya tidak etis itu, seakan menambah semangat untuk menuangkan hasil-hasil penelitiannya ke dalam bentuk naskah sejarah lahirnya kabupaten/kota di Jatim, termasuk Kabupaten Trenggalek, setelah semua kabupaten/kota di Jateng selesai.

Selain Kabupaten Trenggalek, Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) Jogja itu, sudah merampungkan naskah sejarah sejumlah kabupaten lain di Jatim seperti Ponorogo, Malang, Tulungagung, Kediri, Blitar dan Pacitan.

Dia berharap akan segera menyusun lengkap sejarah berdirinya semua kabupaten dan kota di wilayah Jatim, termasuk empat daerah yang ada di pulau Madura, yaitu Kabupaten Sampang, Pamekasan, Sumenep.

Bukan Pesanan Manapun

Dengan disusunnya naskah sejarah berdirinya wilayah-wilayah kabupaten dan kota di Jatim, nantinya bakal makin jelas asal-usul daerah/wilayah tersebut.

Sekaligus akan nampak jelas rangkaian atau kaitan sejarah yang melatarbelakanginya, dengan wilayah/daerah yang telah lahir di Jawa Tengah (Jateng).

cikal-bakal-kabupaten-trenggalek5
CONTOH PALING DEKAT : Kalangan anggota Pakasa Cabang Klaten, merupakan contoh paling dekat dari pusat peradaban ”Mataraman”, baik ketika keraton beribukota di Kartasura maupun saat sudah pindah ke Surakarta. Kesadaran dan kepedulian warga kabupaten itu, sudah tidak perlu diragukan lagi. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Setelah jelas kaitan dan hubungan latar belakang sejara dan ciri-ciri kultur ”Mataraman” daerah/wilayah di kedua provinsi, kemudian diharapkan akan bisa memperjelas berbagai hal.

Termasuk menjawab pertanyaan mengapa istilah wilayah ”Mataraman” masih sering muncul dan disebut-sebut di Jatim, utamanya ketika musim Pilkada dan Pilpres tiba.

Penyusunan sejarah semua wilayah/daerah di Jateng minus wilayah DIY yang dilakukan Dr Purwadi, sedang dituntaskan dengan menyusun sejarah wilayah/daerah di Jatim. Penyusunan sejarah itu, murni inisiatif pribadi dan bukan pemesanan pihak manapun serta semata-mata agar bisa menjadi pembanding seandainya sudah ada yang lebih dulu menyusun.

Ternyata ”Nyambung”

Penuntasan penulisan sejarah daerah-daerah di dua provinsi itu, diharapkan bisa menjelaskan perjalanan sejarah keraton-keraton di zaman peradaban sebelum Mataram (Majapahit dsb), yang ternyata ”nyambung” dengan keraton-keraton di zaman peradaban Mataram.

”Karena jelas sekali kaitan, hubungan dan kelanjutannya. Misalnya ketika kita menyebut Keraton Kediri, atau mundur lagi misalnya Keraton Kalingga. Ternyata urut mengalir melewati Majapahit, kemudian Demak, Pajang baru ke Mataram”.

”Keraton Mataram sendiri, juga mengalir melewati (beribukota di) Plered, Kutha Gedhe, Kartasura baru ke Surakarta. Saya yakin fakta yang diungkap pak Pur (Dr Purwadi-Red) yang kemudian disusun jadi naskah sejarah, merupakan revisi atas penulisan yang sebelumnya kurang jelas, atau malah dibelokkan”.

cikal-bakal-kabupaten-trenggalek3
DI ZAMAN MATARAM : Warga Kabupaten Trenggalek yang lahir di zaman Mataram Kartasura, secara sosial kultural nyaris tidak ada bedanya dengan warga di pusat peradaban baik ketika di Kartasura maupun setelah pindah di Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Tetapi, saya juga bisa memahami kalau ini tidak bisa mengganti kesalahan-kesalahan yang terus-menerus diwariskan setiap rezim pemerintahan. Karena berkait dengan urusan politik. Kalau sudah masuk ke urusan politik, yang lurus bisa jadi bengkok. Yang sudah ada, bisa jadi tidak ada dan sebagainya,”  jelas Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GKR Wandansari Koes Moertijah, yang dihubungi suaramerdekasolo.com di tempat terpisah, kemarin

Selain Kabupaten Trenggalek yang hendak dianulir latar belakang sejarah kelahirannya, daerah kabupaten/kota yang mengalami ”pengkaburan” adalah Kota Surakarta, sebagai ibu kota ”nagari” Mataram Surakarta Hadiningrat setelah pindah dari Kartasura di tahun 1745.

Pengkaburan yang Sistemik

Pengkaburan sejarah yang terjadi di pusat dan sumber terakhir peradaban/budaya ”Mataraman” itu, sungguh sangat sistemik. Karena pengkaburan yang arahnya ke dalam bentuk peniadaan fakta sejarah itu, terjadi di berbagai sisi, lini dan tingkatan.

”Termasuk Hari Jadi Kota Surakarta yang seharusnya 17 Sura (1745), tetapi dipahami sebagai 17 Februari itu. Apalagi yang terakhir, lebih ‘nggladrah’ lagi. La wong 17 Februari sudah salah, kok malah bergeser menjadi Hari Jadi Kutha Sala”.

”Yang dideklarasikan Sinuhun PB II 17 Sura atau 20 Februari (1745) itu Surakarta, bukan Kutha Sala. Pokoknya kalau sudah dibawa ke dalam urusan politik, semuanya jadi kacau. Rusak,” tunjuk  Pengageng Sasana Wilapa yang akrab disapa Gusti Moeng memberi salah satu contohnya.

Pengkaburan sejarah dengan meniadakan fakta tentang peran peradaban Mataram di balik sejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek, juga penetapan Hari Hadi Kota Surakarta yang berubah menjadi Hari Jadi Kutha Sala tiap tanggal 17 Februari melalui peraturan daerah (Perda), merupakan tanda-tanda pengkaburan dan peniadaan peradaban secara sistemik.

cikal-bakal-kabupaten-trenggalek1
IKUT TERPENGARUH : Kesenian tradisional ”jaranan” yang berkembang di Kabupaten Trenggalek, meski kerangka dasar gerak dan musik iringannya (gamelan) berasal dari peradaban Mataram Kartasura, tetapi ikut pengaruh oleh Majapahit/Kediri yang ditularkan melalui Kabupaten Ponorogo, karena bersebelahan.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Perlu Instrumen Destroyer

Namun, di balik upaya sistemik ke arah peniadaan sebuah peradaban khususnya Mataram, tidak semudah yang sudah bermunculan gejalanya di mana-mana di setiap sendi kehidupan bangsa ini.

Karena, dibutuhkan waktu yang sangat panjang dan instrumen ”destroyer” yang sangat lengkap, bisa bekerja masif tetapi dibutuhkan waktu puluhan hingga ratusan tahun, seperti ketika peradaban Mataram terbentuk.

Tetapi, sebelum semua instrumen ”destroyer” itu bekerja dengan efektif, bersama itu justru lahir kesadaran dan kepedulian di kalangan masyarakat yang semakin luas. Mereka sadar dan mencari sejatinya hidup sebagai ”wong” Jawa yang ”ganep” sesuai peradabannya.

Upaya-upaya pelestarian peninggalan Dinasti Mataram melalui Keraton Surakarta, akan menjadi perjalanan setelah sadar dan peduli. Khususnya untuk kepentingan edukasi yang baik, benar dan tepat tentang pelestarian budaya/peradabannya, seperti karya-karya yang dihasilkan Dr Purwadi MHum.(Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun