”Trenggalek” Berasal dari ”Taranggana” dan ”Rara Golek”, Cikal Bakal Nama Trenggalek

cikal-bakal-trenggalek5
LEBIH TUA : Kabupaten Ponorogo (Jatim) lahir di zaman Keraton Demak (abad 15), usianya lebih tua dari Kabupaten Trenggalek yang lahir di zaman Keraton Mataram Kartasura. Tetapi Bupati Ponorogo dan warganya, merasa lebih dekat dengan Mataram Surakarta sebagai kelanjutan dari Mataram Kartasura. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kultur Berciri ”Mataraman” di Wilayah Barat Jatim (2-bersambung)

KARENA sebagian besar wilayah di Nusantara ini punya latar belakang sejarah eksistensi lebih dari 250 kerajaan, yang sudah ada ratusan tahun sebelum NKRI lahir, tidak aneh kalau kini masih banyak dijumpai sisa-sia peradaban masa lalu itu ada di mana-mana.

Baik nama suatu tempat, objek fisik situs peninggalan sejarah, bahasa, aksara, karya sastra, karya seni budaya dan berbagai hal yang berkait dengan eksistensi sebuah kehidupan pada peradaban masa lalu.

Yang menyangkut nama tempat, bahkan sangat banyak yang kemudian diabadikan bersama oleh warga peradaban saat itu, setelah itu atau berikutnya, termasuk nama wilayah yang diabadikan menjadi nama kabupaten, kota, kecamatan, desa/kelurahan dan sebagainya.

Termasuk di dalamnya, adalah nama-nama kabupaten atau kota yang tersebar di hampir sebagian besar pulau Jawa, terutama di wilayah Jawa Tengah (Jateng) dan Jawa Timur (Jatim).

Mengingat dua wilayah yang sejak NKRI ditetapkan menjadi wilayah regional administratif pemerintahan, dan diberi nama provinsi Jatim dan Jateng itu, sebenarnya merupakan pusat-pusat peradaban pada zamannya.

Catur Sagatra

Wilayah yang menjadi pusat-pusat peradaban itu bisa disederhanakan pembagiannya, yaitu peradaban zaman sebelum Mataram yaitu Majapahit, Kediri, Demak, Pajang dan sebagainya, kemudian peradaban pada zaman (mulai) Mataram yang akhirnya menyisakan empat lembaga masyarakat adat mulai 1945 atau di masa NKRI.
 Empat lembaga masyarakat adat itu adalah Catur Sagatra, dua berada di Solo (Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran) dan dua di Jogja (Keraton Jogja dan Pura Pakualaman).

cikal-bakal-trenggalek1
STELAN BUSANA : Melihat ”syile” stelan busana adat seperti yang banyak dikenakan warga Kabupaten Trenggalek dalam foto itu, tidak mungkin berkait dengan kultur di luar peradaban Keraton Mataram Kartasura atau Surakarta. Terlebih ketika berkalung samir kombinasi dua warna itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Keberadaan tiga provinsi lain yang menyertai terbentuknya Jateng dan Jatim seperti DIY, DKI, Jabar dan Banten di masa NKRI, memang juga menjadi fakta yang begitu adanya.

Fakta bahwa beberapa provinsi itu, ternyata juga pernah memiliki hubungan dengan peradaban Mataram dan peradaban sebelum Mataram sebelum NKRI ada.

Karena, di wilayah Jabar ada sejumlah peradaban ketika Kerajaan Pajajaran, Kesultanan Banten dan Keraton di Kota dan Kabupaten
Cirebon yang hingga kini masih eksis sebelum abad 15 atau 16.

Bagian Karya Peradaban

Melihat proses terjadinya wilayah-wilayah dengan semua peradabannnya yang mengatur kehidupan waktu itu, warga peradaban sekarang ini dan generasi peradaban di masa mendatang, bahwa eksistensi lahirnya nama-nama tempat itu merupakan bagian dari karya peradaban.

Artinya, hampir semua nama tempat yang terabadikan menjadi nama wilayah kota, kabupaten, kecamatan, desa/kelurahan bahkan nama provinsi, adalah produk peradaban yang sejak ratusan tahun sudah ada.

Para pewaris peradaban kini dan sampai kapanpun, tinggal menjaga dan memelihara kelestariannya saja, sebagai bentuk penghargaan dan rasa hormat terhadap karya-karya para leluhur peradaban itu, serta tidak perlu menghapus atau meniadakan.

Begitu pula proses terjadinya nama-nama tempat yang terkandung dalam fakta-fakta latar belakang sejarahnya, rasanya tidak bijaksana kalau ada yang berani menghapus atau meniadakan.

cikal-bakal-trenggalek4
TANDA KEDEKATAN : Kekancingan (surat keputusan) tentang gelar kekerabatan, diberikan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa kepada Bupati Ponorogo Ipong Muchlisoni, sebagai tanda kedekatan kultural antara warga di wilayah Jatim itu dengan penerus Mataram di Surakarta.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kunjungan Silaturahmi ”Politik”

Seperti disebutkan dalam tulisan ini sebelumnya (SMS.Com, 24/6), di internet muncul pemberitaan tentang kunjungan seorang pejabat dari Jatim ke Keraton Jogja, beberapa waktu lalu.

Kunjungan yang dikesankan sebagai bentuk bersilaturahmi itu menjadi aneh, ketika berkait dengan upaya mencari dukungan (sosial kultural) untuk pencalonan di Pilkada yang sedianya digelar April lalu, tetapi ditunda serentak Desember nanti.

Yang membuat banyak pihak bereaksi, sehabis berkunjung itu sang pejabat mengklaim bahwa wilayahnya (Kabupaten Trenggalek) punya hubungan sejarah alias terlahir dari Keraton Jogja.

”Maka terlalu berani ketika ada yang mencoba menganulir Kabupaten Trenggalek dari latar belakang kesejarahannya, bahwa yang membentuk kabupaten di Jatim itu adalah Keraton Mataram Kartasura. Pantas saja kalau ada warganya protes keras”.

”Karena faktanya Kabupaten Trenggalek lahir karena Sinuhun Amangkurat Jawi, raja Keraton Mataram Kartasura (1719-1726). Waktu itu, Keraton Jogja belum ada. Jadi, Kabupaten Trenggalek lahir sebelum ada Keraton Jogja,” tegas Dr Purwadi MHum selaku penyusun sejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

cikal-bakal-trenggalek3
PENELITI/PENULIS : Peneliti sekaligus penulis naskah sejarah Kabupaten Trenggalek dan daerah-daerah lain se Jateng dan Jatim, Dr Purwadi MHum, saat berbicara di depan kalangan anggota Pakasa Cabang Klaten di Pesanggrahan Tegalganda, Klaten, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Gabungan Dua Nama

Dalam naskah sejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek yang disusun Dr Purwadi MHum, hasil penelitiannya menyebutkan bahwa nama Trenggalek berasal dari gabungan dua nama yaitu ”Taranggana” dan ”Rara Golek”.

Taranggana adalah nama seorang Pangeran, putra Sinuhun Paku Buwana atau Pakoe Boewana atau Paku Buwono (PB) I. Sampeyan Ingkang Sinuhun Kangjeng Susuhunan (SISKS) PB I adalah raja Mataram yang beribukota di Kartasura atau Mataram Kartasura (1708-1719).

Pangeran Taranggana lahir dari istri Sinuhun yang bernama Kangjeng Ratu Mas (Hemas) Balitar, seorang anak dari Bupati Madiun. Waktu itu, Pangeran Taranggana memiliki kedudukan tinggi dalam struktur Keraton Mataram.

Sedangkan ”Rara Golek” adalah putra dari seorang Demang di kawasan Gunung, Gunung Gemblung, Gunung Banyon dan Gunung Prongos yang bernama Arya Menak Sopal, tokoh yang sangat dikenal karena banyak predikat, termasuk berilmu tinggi karena merupakan salah seorang murid Ki Ageng Sela dan juga murid Syekh Siti Jenar.

Pada tahun 1718, Pangeran Taranggana menikahi Rara Golek yang diketahui sudah dibekali berbagai ilmu sang ayah. Pesta pernikahan mereka berlangsung meriah hingga lima hari, ”nanggap” berbagai kesenian tradisi yang sudah ada saat itu seperti wayang kulit, ketoprak, ludruk dan wayang wong.

Dalam naskah Dr Purwadi selaku Ketua Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) itu disebutkan, pada tanggal 31 Agustus 1718 nama pasangan (Pangeran) Taranggana dan (Rara) Golek, resmi dijadikan nama sebuah wilayah yang sebelumnya masuk daerah Kabupaten Ponorogo. (Won Poerwono-bersambung)

cikal-bakal-trenggalek2
TAK LUPA BERZIARAH : Setiap kali melakukan kunjungan yang berkait dengan eksistensi Keraton Mataram Surakarta sebagai pusat dan sumbernya budaya Jawa, selaku Ketua LDA Gusti Moeng tak pernah lupa berziarah di makam-makam para leluhur Mataram, seperti yang dilakukan di Kabupaten Trenggalek, beberapaq waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun