Banyak Kabupaten Terbentuk di Masa Mataram Kartasura

kultur-mataram3
URUSAN IKATAN BATIN : Upacara pelantikan pengurus Pakasa Cabang Trenggalek dan penyerahan tanda ikatan kekerabatan yang digelar di sebuah desa di wilayah barat Provinsi Jatim itu, adalah urusan memelihara ikatan batin dan kultural antara sesama warga Mataram,jauh dari urusan politik. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Kultur Berciri ”Mataraman” di Wilayah Barat Jatim (1-bersambung)

NYARIS di setiap menjelang momentum pemilihan kepala daerah (Pilkada) baik pilihan gubernur (pilgub), pilihan bupati (pilbup) maupun pilihan wali kota (pilwalkot) di wilayah Jawa Timur (Jatim), nama Mataram atau istilah ”Mataraman”selalu muncul disebut-sebut. Terutama oleh parapengamat politik, lembaga-lembaga yang berkait dengan pemilihan umum(Pemilu) seperti Komisi Pemilihan Umum (KPU), maupun para kandidat peserta maupun tim kampanye yang sedang berkampanye.

Istilah ”Mataraman” seolah-olah menjadi begitu bermakna bahkan berpengaruh, ketika masing-masing kandidat yang bersaing menyebut pentingnya istilah itu dalam pengertian wilayah pendukung atau potensi pemilih yang diharapkan.

Lalu, bagaimana sejatinya istilah yang terkesan berasal dari masa lalu sebelum NKRI ada, bisa muncul dan menjadi penting dalam kalkulasi politik di kancah pilgub, pilbup maupun pilwalkot khususnya di Jatim?.

Dalam sebuah wawancara dengan para awak media, Khofifah Indar Parawangsa sewaktu berkamanye dalam pencalonannya sebagai kandidat Gubernur berpasangan dengan Emil Dardak sebagai Cawagub dalam Pilkada Jatim 2018, menyebut bahwa masyarakat di wilayah barat Provinsi Jatim yang disebut sebagai wilayah ”Mataraman” termasuk basis pendukungnya.

kultur-mataram1
PRASASTI SILSILAH : Prasasti berisi susunan silsilah yang terpasang di makam Kanjeng Jimat di pinggir Kecamatan Kota Kabupaten Trenggalek, memang terlihat belum lama. Tetapi, isinya sangat meyakinkan bahwa masyarakat dan wilayah itu erat kaitannya dengan Keraton Mataram Kartasura yang sejak sejak 1745 pindah ke Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kini, pasangan Khofifah-Emil Dardak sudah setahun lebih menjalankan tugas sebagai Gubernur-Wagub. Tetapi persoalannya bukan itu, melainkan kata ”Mataraman” yang mereka sebut berulang-ulang, bahkan oleh banyak pihak saat itu.

Selalu Muncul Menjelang Pilkada

Penyebutan istilah ”Mataraman” itu bahkan sudah muncul pada Pilkada-pilkada sebelumnya, bahkan jauh sebelum itu, misalnya saat Pilpres 2014. Dan istilah itu ternyata untuk melukiskan (karakter) masyarakat yang mempunyai ciri-ciri kulturnya mirip yang dimiliki masyarakat zaman Keraton Mataram, meskipun secara geografis berada di ujung barat Provinsi Jatim.

Mengapa demikian? Salah satu jawabannya ada pada naskah yang disusun pemerhati sejarah Dr Purwadi MHum yang berjudul”Sejarah Kabupaten Trenggalek”. Naskah ini disebutkan sebagai embrio sebuah buku tentang sejarah lahirnya daerah kabupaten di wilayah Jatim itu, yang oleh penulis bisa dijadikan acuan pembanding dari sumber data/informasi yang sudah ada sebelumnya.

”Biar saja, yang sudah ada ya biar berjalan. Mungkin ada yang berbeda dari sumber yang sudah ada, biar jadi pembanding dan pertimbangan pihak yang berwenang menjalankan (pemerintahan di daerah yang sedang ditulis sejarah berdirinya)”.

”Yang saya tulis ini, intinya bertujuan agar generasi bangsa sekarang ini dan seterusnya, jangan pernah meniadakan yang sudah pernah dan sekarang masih ada,” harap Ketua Lembaga Olah Kajian (tentang) Nusantara (Lokantara) yang juga seorang pengajar di FIB UNY itu, ketika diminta konfirmasi suaramerdekasolo.com, kemarin, mengenai tulisan mengenai sejarah kabupaten-kabupten di Jateng dan Jatim yang sedang diusun.    

kultur-mataram2
JADI BUKTI SEJARAH : Di makam tokoh masyarakat Kabupaten Trenggalek yang bernama Kanjeng Jimat yang pernah diziarahi Gusti Moeng ini, menjadi fakta dan bukti sejarah bahwa masyarakat dan wilayah kabupaten ini memiliki latar belakang ikatan emosional, batin dan ikatan kultural sesabagai sesama warga ”Mataraman”. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dekat Mataram Surakarta

Sejarah berdirinya Kabupaten Trenggalek yang disusun seorang anggota Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Jogja itu, memang belum meyakinkan untuk menjawab pertanyaan mengapa daerah-daerah di wilayah barat Jatim disebut wilayah ”Mataraman”?

Karena, masih ada fakta-fakta lain yang bisa meyakinkan sekali untuk menjawab pertanyaan itu. Yaitu naskah yang sedang disusun dan menunggu giliran disusun, yang isinya menceritakan tentang sejarah berdirinya kabupaten dan kota-kota lain di Jatim.

Terutama yang berada di ujung barat, yang sangat dekat bahkan berbatasan dengan daerah-daerah di wilayah timur Provinsi Jateng, yang disebut Mataram Surakarta. Mataram Surakarta merupakan pindahan dari Mataram Kartasura di tahun 1745, tetapi saat berada di dalam NKRI, ”dimasukkan” ke dalam Provinsi Jateng.

Dilantik Raja Mataram

Ciri-ciri karakter dan latar belakang kultur yang mirip itu, menjadi kata kunci mengapa daerah-daerah di wilayah barat Provinsi Jatim disebut wilayah ”Mataraman”. Dan faktanya, Bupati Trenggalek pertama bernama Taranggana, yang dilantik oleh Sinuhun Amangkurat Jawi, Raja Mataram Kartasura (1719-1726), pada tgl 31 Agustus 1721.

Keraton atau kerajaan Mataram setelah beribukota di Plered dan Kutha Gedhe yang setelah ada NKRI secara geografis masuk wilayah DIY, ibukotanya terlebih dulu pindah ke Kartasura, sebelum pindah ke Surakarta.

kultur-mataram4
TANDA IKATAN BATIN : Kekancingan yang berisi gelar kekerabatan yang diberikan Ketua LDA (Keraton Surakarta) Gusti Moeng kepada warga Pakasa Kabupaten Trenggalek, beberapa tahun lalu, merupakan tanda ikatan batin untuk memelihara tali ikatan kultural yang sudah terbentuk sejak zaman Mataram Kartasura.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Nama Kartasura hingga kini tetap diabadikan sebagai nama aslinya, meskipun bukan sebagai ibu kota kerajaan, namun hanya sebatas nama kecamatan di dalam wilayah geografis Kabupaten Sukoharjo.

Terus-menerus Berbohong

Nama Kabupaten Trenggalek muncul ke permukaan berkait dengan istilah ”Mataraman”, kira-kira belum genap setahun. Keterkaitan antara keduanya muncul ke permukaan melalui internet, karena ada seorang pejabat dari kabupaten yang pernah didirikan Sinuhun Amangkurat Jawi itu, mengadakan audiensi ”politik” ke Keraton Jogja.

Berita atas peristiwa itu menyebar di internet, apalagi setelah itu diikuti dengan kegiatan kunjungan misi kebudayaan dari Keraton Jogja ke sejumlah daerah di Jatim yang akan menggelar Pilkada serentak tahun ini (dijadwal-ulang Desember-Red), termasuk Banyuwangi.

”Katanya,itu menjadi bagian dari program keistimewaan Jogja di bidang budaya, karena memang ada anggarannya. Tetapi itu tak ada pentingnya bagi kami (Keraton Surakarta). Yang kami kritisi, adalah adanya klaim bahwa Kabupaten Trenggalek merupakan bagian dari (bekas) wilayah Keraton Jogja”.

”Pernyataan tentang itu sudah kami somasi. Karena itu merupakan pembelokan fakta sejarah yang menyesatkan. Kasihan generasi anak-cucu kita nanti. Kok terus-menerus dibohongi…? Berganti-ganti pejabat dan rezim (pemerintahan), kok terus berbohong….?,” seloroh Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) maupun sebagai Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com di tempat terpisah, kemarin. (Won Poerwono-bersambung)  

kultur-mataram5
IKATAN KULTURAL : Penyerahan surat keputusan (SK) setelah Ketua Pusat Pakasa KPH Edy Wirabhumi melantik pengurus Pakasa Cabang Trenggalek, beberapa tahun silam. Ikatan kultural, ikatan batin dan emosional antara sesama warga ”Mataraman” itu tetap terjaga hingga kini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun