Ki Manteb Bikin Lagu Saat Negara Punya Keperluan

wayang-streaming-ki-manteb-sudharsono1
PENGHARGAAN DARI BPIP : Di antara segudang penghargaan, Ki Manteb mendapatkan penghargaan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) tahun 2019. Dia dipandang sebagai tokoh seniman yang selalu mengenalkan dan menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila melalui seni pakeliran. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana dalam Tekanan Pandemi Corona (5-habis)

GARA-GARA pentas ”climen” yang disiarkan secara streaming untuk peringatan hari lahir (harlah) Bung Karno (6 Juni) dan harlah Pancasila (1 Juni), Ki Manteb Soedarsono terpaksa ”membongkar” rahasianya sendiri yang begitu bangga, cinta dan kagum terhadap Bung Karno.

Walau semula hanya sekadar menyiasati ”kebuntuan”akibat pandemi Corona, dengan menggelar wayang kulit di rumahnya Desa Sekiteran Doplang, Karangpandan, Karanganyar, Kamis malam (5/6) itu, Ki Manteb malah merasa mendapat kesempatan untuk mencurahkan isi hatinya (curhat).

Baca : Nyanggit Lakon Carangan ”Semar Catur” untuk Bahas Pandemi Covid-19

Di adegan ”gara-gara Panakawan” pentas ringgit wacucal itu, Secara blak-blakan dia menyatakan sangat bangga, cinta berat dan kagum terhadap seorang proklamator yang disebut ”Sang Fajar” itu.

Walau job pentas dengan pilihan lakon ”Kumbakarna Senapati” itu terkesan ”dadakan” datangnya, bagi Ki Manteb jelas jelas bukan masalah, karena dirinya punya prinsip ”Dalang ora kurang lakon”.

wayang-streaming-ki-manteb-sudharsono5
KALIBER TELADAN : Banyak alasan mengapa Ki Manteb tak mau menciptakan lagu seheboh dan sensasif ”Cendol Dawet”. Karena dalang yang satu itu adalah sekaliber tokoh-tokoh religius nasional yang dijadikan teladan khalayak luas, semisal Rhoma Irama. (suaramerdekasolo.com/dok)

Sebagai dalang senior yang berkualitas dan berkaliber, dia sangat ahli dalam ”sanggit lakon”, sehingga mampu membeber lakon ”Kumbakarna Senapati ” dengan baik, tepat dan ”semu” sesuai versinya, terlebih di situ malah  berkesempatan curhat.

Menolak Dibayar

Dalang yang dikenal spesialisasi ”sabet” itu, menguraikan beberapa alasannya mengapa dirinya bangga, cinta dan kagum pada Bung Karno, sehingga tidak bersedia dibayar tiap ”ditanggap mayang” (diundang pentas) di acara peringatan harlah BUng Karno.

Baca : Walau Hanya Pentas ”Climen”, tak Mau Sekadar Tampil

Pengakuan tentang itu, sekaligus untuk merespon isi pidato Djarot Syaiful Hidayat, mantan Wali Kota Blitar yang juga mantan Gubernur DKI yang kini menjadi fungsionaris DPP PDI Perjuangan.

Menurut Djarot, Ki Manteb tak pernah mau atau menolak dibayar jika diundang pentas dimakam Bung Karno, Blitar (Jatim), untuk memperingati harlah Bung Karno tiap tanggal 6 Juni.

wayang-streaming-ki-manteb-sudharsono2
KESEMPATAN YANG SAMA : Sebagai dalang yang senior, Ki Manteb sangat bijak dalam mengelola sumber daya pendukung aktivitas profesinya. Walau serba terbatas dalam suasana pandemi Corona, dia bisa memberi kesempatan yang sama menikmati hasil pentas pada semua pengrawitnya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Karena, pak Manteb merasa pernah diberi wayangnya (koleksi) Bung Karno. Selain itu, kalau hanya soal marhenisme dan bagaimana prinsip-prinsip ajaran Bung Karno tentang marhen, pak Manteb sangat paham,” ujar Djarot ketika berpidato melalui siaran streaming di tengah pentas Ki Manteb, malam Jumat itu.

Tak hanya sebatas tidak meminta bayaran saat diundang pentas di makam Bung Karno, Ki Manteb juga punya beberapa rahasia lagi yang terpaksa diungkap karena sudah didahului Djarot Syaiful Hidayat.

Kelakon Dibedil ”Endhasku”

Di antaranya adalah penciptaan karya gending yang di antaranya dulu ”terpaksa” dirahasiakan di masa pemerintahan Orde Baru. Gending langgam berjudul ”Sang Proklamator”, diciptakan di tahun 1988-an, tetapi baru kali pertama diperdengarkan dalam resepsi peringatan Kemerdekaan RI di Jakarta tahun 1999, sekitar setahun setelah pergolakan dan krisis sosial ekonomi 1998.

Baca : Jalin Kerjasama Berbagai Pihak untuk Gelar Pentas Live

Ketika sudah mulai diperdengarkan secara bebas di ruang publik di berbagai tempat, terutama melalui pentas wayang kulitnya, banyak orang yang menyanjung bahwa lagu langgam itu sangat bagus. Tetapi banyak yang bertanya mengapa tidak dari dulu diperdengarkan kepada publik?.

”La piye, wong wektu isih zaman Orde Baru lak ya kaya ngana kae ta. Upama tak tokne ndhisik, ya kelakon dibedil endhasku. Isa ngono tenan. Bener kuwi,” ungkap Ki Manteb menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin, membenarkan apa yang diucapkan saat adegan ”gara-gara Panakawan” pada pentas Kamis malam Jumat (5/6) itu.

Soal rahasia tentang gending ciptaannya, mengapa sampai tidak berani memperdengarkan ke ruang publik? Jawabannya adalah berkait dengan kesetiaan, kecintaan, kebanggaan dan kekaguman Ki Manteb terhadap figur Bung Karno. Padahal, hampir semua yang berbau Bung Karno, seakan menjadi sesuatu yang terlarang di masa rezim Orde Baru itu.

Baca : DMI Kota Jambi Ingin Belajar Dari Masjid Al Falah

Tidak Sampai Hati

Padahal, tak hanya langgam ”Sang Proklamator”, masih ada sejumlah gending yang diciptakan Ki Manteb berkait dengan kekagumannya terhadap Bung Karno, atau setidaknya sebagai ekspresi rasa simpatinya kepada partai berlabel PDI dan bersimbol banteng itu.

wayang-streaming-ki-manteb-sudharsono3
IKUT MEMANTAU LANGSUNG : Begitu pecah kerusuhan di Kota Solo untuk menggulingkan rezim Orde Baru, Mei 1998, Ki Manteb turun ke jalan ikut memantau situasi sekaligus memberi dukungan kepada para aktivis yang berdemo. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain gending-gending itu antara lain, berjudul ”Semangat Juang ’45”, ”Empat Pilar” dan sebagainya, banyak lagi gending baik berlaras Slendro maupun Pelog didendangkan. Karena pentas ”climen” malam itu agak longgar, gamelan iringan dilengkapi dua pangkon Slendro dan Pelog, walau tanpa bonang dan gambang.

Selain itu, di adegan intermeso jeda Pathet sanga (9), banyak sekali request gending yang datang, termasuk gending-gending Ki Nartasabda seperti ”Gugur Gunung” dan ”Numpak Prahu Layar” yang dipesan secara khusus dengan saweran bernilai jutaan rupiah.

Baca : Makna Simbolik Lukisan Raden Saleh

”Rata-rata gending sing tak gawe, mesti pas eneng keperluane negara. Ning yen arep gawe lagu kaya ‘Cendol-Dawet’, atike kok ora mentala. Ben cah-cah enom kuwi wae sing gawe”.

”Aku ora perlu melu-melu ngono, arepa saiki iki jamane lagi laris yen gawe lagu-lagu ngono. Aku wis duwe enggon dewe,” ujar Ki Manteb yang mengaku tidak sampai hati jika ikut-ikutan bikin lagu memenuhi selera zaman milenial sekarang ini.

Mendirikan SMA Bung Karno

Setelah penciptaan gending, Ki Manteb membongkar rahasianya punya sekolah yang dibangun dengan biaya sendiri di atas tanah pribadinya, yang berada sekitar 500 meter dari rumahnya, yang masih di desa dan kecamatan yang sama, Karangpandan, Karanganyar.  

Sekolah itu diberi nama SMA Bung Karno Bumi Nasonalis, yang pengelolaannya diserahkan kepada sebuah yayasan. Itu semua karena kecintaan, kebanggaan dan kekagumannya kepada Bung Karno.

Padahal, tanah itu dibeli dan kompleks bangunan sekolahan yang didirikan di atasnya itu, dibiayai dengan uang hasil menjual enam buah mobilnya yang tergolong mewah di awal tahun 2000-an.  

”Yen ora ngandel, mengko yen kowe mulih wis tekan dalan gede, mlakua ngetan. Kira-kira 300 meter, terus noleh nengen. Mengko lak eneng kompleks sekolahan SMA Bung Karno Bumi Nasionalis”.

Baca : Melukis Berbahan Pewarna Hasil Bumi Ala Ki Djoko Sutedjo

”Ya kuwi darma bektiku marang bebrayan, marang tanah wutahku. Ben bangsaku pinter, ben maju. Ya kuwi wujud tresnaku marang Bung Karno,” ucap Ki Manteb untuk menjawab pertanyaan nakal pelawak senior Marwoto Kawer, saat adegan ”gara-gara Panakawan”, malam itu.

wayang-streaming-ki-manteb-sudharsono4
BERAGAM KAPASITAS : Ki Manteb Soedarsono sering diminta mengisi acara tayangan di beberapa TV nasional tentang berbagai hal yang dipandang dari kemampuannya sebagai dalang senior, haji, sesepuh pecinta motor antik, dosen luar biasa, berbagai penghargaan untuk beragam kapasitas dan sebagainya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Begitulah kira-kira keputusan yang pernah diambil Ki Manteb, seorang dalang yang sudah punya kualitas dan kaliber, bahkan masih diberi kesempatan sampai usia 72 tahun ini tetap produktif dan aktif berkarya di bidangnya.

Dalang dengan sejumlah penghargaan dan prestasi itu, selalu tampil di kala ”negara punya keperluan”, seperti saat menghadapi pandemi virus Corona sekarang. Di saat masyarakat perlu hiburan, sekaligus sesuluh tuntunan, sekaligus sebagai sebuah siasat. (Won Poerwono-habis)

Baca : 7 Alat Musik Unik dari Berbagai Belahan Dunia

Editor : Budi Sarmun