Pentas ”Di Rumah Saja”, Saweran Malah Berdatangan

wayang-streamingan-ki-manteb1
DAFTAR PENYAWER : Ki Manteb mencermati run down urut-urutan tahap sajian pentas wayang ''climen di rumah saja'' yang disiarkan secara ''streaming'' dari rumahnya, Kamis malam Jumat (5/6) itu, karena ada sisipan pidato, sajian tari dan request gending dari para penyawer. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana dalam Tekanan Pandemi Corona (4-bersambung)

WALAU ada unsur-unsur ”siasat” ketika Ki Manteb Soedarsono menggelar pentas wayang kulit dalam format ”climen” secara streaming ”di rumah-(nya) saja”, Kamis malam Jumat (5/6), tetapi justru mendatangkan simpati dari berbagai pihak.

Maksud hati hanya untuk mengakomodasi ”tangisan” kalangan pengrawit dan crew kesenian Sanggar Bima miliknya yang sudah lebih sebulan ”libur” karena pandemi Corona, tetapi yang datang justru simpati dari sejumlah tokoh terpandang, di antara khalayak luas dari 3.500-an yang menonton siaran ”streaming” pentas ”climen” itu.

Maklum, sekitar 50-an anggota Sanggar Bima pendukung pentas Ki Manteb, hampir semuanya sudah berkeluarga, dan mereka itu adalah murni para pekerja seni yang bukan pegawai pemerintah atau karyawan instansi swasta/perusahaan.

Mengedukasi Seniman Lain

Tetapi, simpati itu memang agak beda, misalnya ketika dibanding konser virtual ”Raja Campursari” atau ”Raja Dangdut Jawa”Didi Kempot yang diinisiasi Kompas TV menjelang akhir hayatnya, beberapa waktu lalu. Konser amal itu murni untuk membantu penanganan dan dampak Covid 19, hingga bisa mengumpulkan donasi sebesar Rp 5,3 M.

Konser Didi Kempot dan kelompoknya, OKC Lare Jawi, menyuguhkan sekitar 10 lagu selama durasi 3 jam, dan akhirnya bisa mengumpulkan donasi sampai Rp 7 milyar lebih setelah waktu penerimaan donasi diperpanjang beberapa hari.

Sementara, simpati yang didapat Ki Manteb Soedarsono itu untuk memperjuangkan nasib kalangan seniman kelompoknya. Cara pentas seperti itu bisa mengedukasi kalangan seniman lain, dalam menyiasati situasi dan kondisi selama pandemi Corona.

Ada hal yang membedakan lagi, ketika Ki Manteb menggelar pentas penuh dengan ”siasat” itu. Selain hanya ”streaming” melalui medsos YouTube (bukan disiarkan TV), pentasnya digunakan untuk sosialisasi edukasi tentang nilai-nilai Pancasila, nasionalisme dan ekonomi kerakyatan ajaran Bung Karno.

wayang-streamingan-ki-manteb2
BINTANG TAMU : Pelawak senior asal Jogja, Marwoto Kawer, juga diundang untuk meramaikan pentas wayang ”climen” yang disiarkan secara ”streaming” dari kediaman Ki Manteb, Kamis malam Jumat (5/6) itu. Tetapi pentas itu tetap menyesuaikan protokol Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena, pentas yang berlangsung di kediaman Ki Manteb, Kamis malam Jumat (5/6) itu, dimaksudkan untuk menyambut peringatan hari lahirnya (harlah) Bung Karno, 6 Juni (1901). Juga untuk memperingati harlah Pancasila, 1 Juni (1945).

Disela Pidato dan Tarian

Bedanya lagi, pentas wayang dalam format ”climen” (terbatas) ini bukan ”ditanggap” tetapi hanya sekadar didukung penyelenggaraannya yang dikumpulkan dari ”saweran-saweran” beberapa tokoh terpandang, terutama dari keluarga besar DPP PDI Perjuangan.

Sebab itu, dari sudut ukuran tempat pentas, jumlah anggota ”crew” yang terlibat dan penonton yang secara fisik ada di lokasi pentas pentas, agak bertambah jumlah orangnya.

Selain pengrawit Slendro dan Pelog, jumlah menonton bertambah, walau semua rata-rata, memakai masker dan berpencar di sekitar kompleks rumah di Desa Sekiteran Doplang, Karangpandan, Karanganyar itu.

Karena untuk keperluan peringatan harlah Pancasila dan Bung Karno, maka tidak aneh di sela-sela pentas ada siaran streaming dari YouTube menyela. Isinya tentang pendapat beberapa tokoh pemuda mewakili kaum milenial.

Juga ada pidato Sekjen DPP PDIP Hasto Kristiyanto dan unsur pengurus DPP Djarot Syaiful Hidayat (mantan Gubernur DKI), serta keterlibatan kehadiran Badan Kebudayaan Nasional (BKN) DPP PDI Perjuangan. Sisipan itu didengarkan bersama oleh Ki Manteb dan ”crew” di tempat pentas berlalu sampai selesai, karenanya pentas wayang dihentikan.

wayang-streamingan-ki-manteb4
SISIPAN TARI : Di sesi adegan ”gara-gara Panakawan”, pentas wayang kulit ”climen” di rumah Ki Manteb, disisipi tari Gambyong Rujak Jeruk.Sajian tari di pentas ”di rumah saja”, Kamis malam Jumat (5/6) itu menambah durasi pentas ”climen” dari 3 jam menjadi 5 jam. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Request Gending Penyawer

Daftar nama-nama yang bersimpati ”nyawer”, malam itu langsung dibacakan yang disebut Ki Manteb malam di adegan ”gara-gara Panawakan”. Bahkan ada yang menyusul request gending sekaligus ”nyawer”, melalui kontak telepon atau WA panitia pentas yang tak lain adalah keluarga Ki Manteb sendiri.

Dari yang dibaca Ki manteb, saweran yang diantar langsung melalui kurir, lewat transfer dan didahului berita acara disebutkan paling sedikit Rp 1,5 juta. Tidak disebutkan berapa jumlah sawerannya, tetapi Ketua DPR RI Puan Maharani yang request gending ”Numpak Prahu Layar” (Ki Nartosabdo), juga langsung dilayani dan diperdengarkan.

Pihak-pihak yang ”nyawer” itu, kebanyakan dari keluarga besar DPP PDI Perjuangan seperti Puan Maharani (Ketua DPR RI), Djarot Syaiful Hidayat (mantan Gubernur DKI), Hasto Kristiyanto (Sekjen DPP), Aryo Bimo dan Rano Karno (Ketua dan Wakil BKN), Kepala BKKBN dan sebagainya.

”Ya maklum, bengi iki wektune rada mundur utawa dawa sithik, merga akeh sing ngersakne mundhut gending. La iki sawerane ya eneng. Gilo….gilo….saka mbak Puan Maharani,” ungkap Ki Manteb sambil memperlihatkan secarik kertas yang menyebut besarnya ”saweran” itu agar Ki Manteb menyajikan gending ”Numpak Prahu Layar”(Ki Nartosabdo).

”Orasah Kesusu Dibubarke”

Mendengar pernyataan bergaya kelakar di adegan ”gara’gara” yang memang menjadi sesi bercengkerama atau ”guyon maton” di dalam struktur pakeliran padat malam itu, pelawak senior Marwoto Kawer dari Jogja juga langsung merespon.

wayang-streamingan-ki-manteb3
CLIMEN YANG LONGGAR : Pentas wayang kulit ”climen” yang digelar Ki Manteb ke lima dalam dua bulan terakhir, Kamis malam Jumat (5/6), agak longgar. Misalnya durasi waktu, juga iringannya menjadi Slendro dan Pelog, meski tetap menyesuaikan protokol kesehatatan Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Yen ngono, pentase orasah kesusu dibubarkae. Pak Manteb, pentase diulur-ulur mawon. Mbok menawa tasih enten sing ajeng nyawer. ‘Kan mesakne, wong arep berbuat apik kok ora diwenehi kesempatan. Enggih mboten….?” seloroh Marwoto yang disambut tertawa ngakak semua pengrawit, crew penyiar streaming dan beberapa penonton di luar ruang, termasuk perwakilan Paguyuban Sutresna Manteb Soedarsono (PSMS) ”Oye”.

Dialog segar antara Ki Manteb dan mantan anggota Ketoprak Plesetan Marwoto Kawer melalui tokoh Gareng, Petruk dan Bagong yang dibumbui sedikit ”eyel-eyelan” itu, membuat suasana pentas khusus adegan intermeso itu menjadi meriah. Terlebih karena Marwoto mendapat informasi bahwa Ki Manteb punya HP (andoid) baru.

”Wahhh….HPne anyar…. Alesane ‘di rumah saja’ perlu HP sing isa nggo WA…. wahhh… ndrawasi iki…. Ning aku meling, yen arep takon-takon carane ndudul, njaluk tulung anake sing cilik wae”.

” Aja takon Putut. Sida kelangan geden-geden yang urusan karo kuwi (Ki Putut, dalang keponakan Ki Manteb),” celetuk Marwoto yang langsung direspon Ki Putut sambil tertawa ngakak, dengan tersipu-sipu berlari ke luar ruangan.

Ada PSMS ”Oye”

Pentas ”climen” secara streaming, disebutkan ditonton sekitar 3.500 yang terlihat membuka aplikasi YouTube. Di antara mereka, banyak juga anggota komunitas PSMS ”Oye” yang tersebar luas di Tanah Air.

Anggota Paguyuban Sutresna Manteb Soedarsono (PSMS) ”Oye” yang mirip supporter sepakbola itu, tersebar di berbagai daerah, di dalam dan di luar pulau Jawa. Mereka adalah para pecinta wayang kulit, yang setia menyaksikan, bahkan mengikuti di manapun Ki Manteb pentas.

wayang-streamingan-ki-manteb5
KUMBAKARNA GUGUR : Tokoh raksasa Kumbakarna yang sedang ”diranjap” anak panah, diperlihatkan Ki Manteb sebagai contoh patriotisme dan nasionalisme yang menjadi tema dalam lakon ”Kumbakarna Senapati”. Pentas wayang kulit ”climen di rumah saja”, Kamis malam Jumat (5/6) itu, dilakukan Ki Manteb itu, untuk memperingati hari lahir Bung Karno dan Pancasila. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Meski ”di rumah saja”, mereka itu merasa terhibur, bahkan bisa teredukasi mengenai protokol kesehatan Covid 19 maupun nilai-nilai ajaran Bung Karno serta Pancasila, yang dilukiskan Ki Manteb melalui lakon ”Kumbakarna Senapati” atau ”Kumbakarna Gugur” itu.

Pentas ”climen” untuk menyiasati ”’di rumah saja” yang justru menuai saweran itu, sedianya hanya digelar sesuai format garap padat sekitar 3 jam, seperti durasi empat pentas sebelumnya.

Namun, karena ada sisipan dalam rangka harlah Bung Karno dan harlah Pancasila, pentas itu memanjang durasinya menjadi 5 jam, dimulai pukul 21.00 dan berakhir pukul 02.00 dini hari. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun