Nyanggit Lakon Carangan ”Semar Catur” untuk Bahas Pandemi Covid-19

streaming-ki-manteb13
BAGONGPUN BERMASKER : Tak hanya dirinya yang bermasker saat bertugas sebagai dalang untuk memenuhi aturan protokol Covid 19, sebagai simbol sekaligus siasat Ki Manteb Soedarsono menjaga eksistensinya, juga memasang masker pada wajah tokoh Bagong pada pentasdi rumahnya, Sabtu (9/5). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana dalam Tekanan Pandemi Corona (3-bersambung)

DALAM terminologi budaya Jawa khususnya dalam konteks berdiplomasi atau adu argumen, sangat sering kita dengar istilah atau pemeo ”Dalang Ora Bakal Kurang Lakon”. Dalam terminologi berbahasa Indonesia juga ada perbendaharaan kalimat yang berbunyi ”pandai bersilat kata”.

Antara kedua terminologi itu ada kemiripannya, yaitu untuk menggambarkan kelihaian seseorang atau kelompok dalam berdialog atau melakukan tanyajawab/komunikasi, hingga akhirnya diperoleh kata sepakat atau semacam ada pengakuan/sikap menerima kalimat/pernyataan orang atau kelompok lain, karena segala argumen atau penjelasannya dianggap masuk akal.

Di dunia kepengacaraan atau praktik adu argumen hukum secara teknis di forum persidangan di pengadilan, yang terjadi mungkin lebih tajam lagi. Tetapi di dunia seni pedalangan, diplomasi/adu argumen dalam konotasi dan konteks ”Dalang ora kurang lakon”, agak sedikit berbeda esensinya.

Yang dimaksud dengan ”Dalang ora kurang lakon” adalah keahlian seorang dalang dalam kreativitas menyusun atau merangkai kata, yang digunakan untuk menjelaskan atau membantah atau merubah tentang pernyataan mengenai situasi, atau menilai situasinya secara langsung.

Dan kemampuan mengkreasi dalam konteks ”Dalang ora kurang lakon” itu yang dimaksud adalah Ki Manteb Soedarsono orangnya. Kalimat yang berkonotasi kreativitas seorang dalang dalam mengkreasi atau ”nyanggit” lakon/cerita itu, adalah salah satu keahlian dalang yang hingga kini tinggal di Desa Doplang Sekiteran, Karangpandan, Karanganyar itu.

Banjaran Bima Awali Sukses

Namun, keahlian dalam ”nyanggit” lakon itu bukan bagian dari sukses yang didapat saat dikontrak untuk menggelar pentas wayang kulit serial ”Banjaran Bima” di Jakarta hingga 6 bulan di tahun 1980-an.

Sebab, sukses paling awal dalam perjalanan hidup Ki Manteb ini, karena sebagian besar lakon yang dipentaskan selama 180 hari itu benar-benar bersumber dari babon (induk/sumber baku) cerita pedalangan Maha Bharata yang sudah diadaptasi dalam buku Pustaka Raja Purwa karya empu dan pujangga Keraton Surakarta Hadiningrat.

Baca : Seni Pakeliran Cara Konvensional Mendokumentasi Bencana Pageblug

streaming-ki-manteb10
TAK PERNAH TERLEWATKAN : Dalang besar Ki Manteb Soedarsono, nyaris tak pernah terlewatkan oleh tiap tokoh penting pemimpin negara yang sedang berkuasa untuk ditanggap pentas. Misal di masa Presiden SBY berkuasa, Ki Manteb diundang pentas di RRI Jakarta. (suaramerdekasolo.com/dok)

Lalu apa hubungannya dengan ”Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana di Bawah Teknan Pandemi Corona?” Jelas sekali, hubungannya terletak pada teknis kemampuan mengkreasi yang dalam kosa kata seni pedalangan disebut ”sanggit”, atau kemampuan ”nyanggit”.

Dengan kemampuan ”sanggit” lakon carangan atau lakon yang dikarang/diadaptasi di luar babon cerita aslinya itu, Ki Manteb menyiasati jalan cerita pentas wayang kulit yang digelarnya, bahkan sampai berlangsung lebih tiga kali sejak Pageblug Mayangkara virus Corona terjadi melanda Tanah Air sejak Februari hingga kini.

Hebatnya Wayang Kulit

Kemampuannya menggelar pentas wayang kulit di tengah suasana Pageblug Mayangkara virus Corona, dalang yang dikenal sebagai bintang iklan obat sakit kepala dengan sebutan ”Ki Dalang Oye” itu, bahkan punya kreativitas ”nyanggit” carangan atau lakon yang dikarang yang kurang lebih melukiskan suasana kehidupan yang sedang dilanda pageblug.

Baca : Keraton Surakarta Punya Sikap Spiritual Kebatinan untuk Menghadapi Pageblug Covid-19

Konteks tempat dan kehidupan yang dilanda pageblug yang dilukiskan adalah negara Astinapura, tempat Prabu Duryudana bertahta sebagai rajanya. Karena yang disanggit adalah cerita pewayangan dari kisah Maha Bharata, maka tentu dikisahkan pula bagaimana kehidupan bangsa Amarta atau Pandawa saat dilanda wabah ”Covid 19” itu.

streaming-ki-manteb11
KEBUTUHAN SENDIRI : Menjadi dalang besar seperti Ki Manteb, selain pandai menyiasati situasi dan kondisi, juga pandai mencukupi kebutuhan pentasnya dengan membuat sendiri, semisal tokoh/anak wayang, yang jumlahnya lebih dari 300-an karena ”wanda” tiap tokoh wayang bisa sampai 3 atau empat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dua bangsa ini selalu berkait ketika digelar dalam seni pertunjukan, selain babon ceritanya menyebut kehidupan dua negara itu semasa atau dari sumber kitab yang sama, antara bangsa Astina atau Kurawa dengan Amarta atau Pandawa sejatinya masih bersaudara karena berasal dari satu keturunan darah ”Kuru”.

Tetapi, memang di situlahnya hebatnya seni pertunjukan wayang kulit atau ”ringgit wacucal”, yang mampu menyesuaikan diri dengan berbagai situasi zaman yang sudah berganti abad demi abad, hingga jenis kesenian tradisional ini terkesan eksis sepanjang masa.

Baca : Heboh Perjanjian Giyanti di Medsos, Disikapi Serius Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta

Namun, di situlah hebatnya pula para empu-empu pedalangan dan para seniman dalang yang terus berganti, bahkan turun temurun sejak Keraton Mataram, hingga sekarang ini menyisakan banyak generasi dalang, di antaranya generasi Ki Manteb Soedarsono (72).

Dalang Kurang Lakon?

Kini, Ki Manteb itu yang memperlihatkan kepiawaiannya menyiasati keadaan di bawah tekanan Pageblug Mayangkara Covid 19, yaitu menggelar pentas yang disiarkan secara streaming lewat dua chanelnya selain ahli ”nyanggit” lakon.

Dia masih punya job pentas lebih dari lima kali sejak medio Maret hingga Jumat malam ini (5/6), bahkan mampu berkreasi memunculkan lakon ”Semar Catur” yang khusus membahas situasi wabah virus Corona.

”Dalang ora kurang lakon”, begitulah kalimat yang punya konotasi sebuah aktivitas pencarian dan berkreasi menciptakan cara beradaptasi dengan segala situasi yang dialami, termasuk dalam ”nyanggit” lakon virus Corona yang dilakukan Ki Manteb.

streaming-ki-manteb12
KREATIVITAS MENCIPTA : Untuk memenuhi dan mendukung kebutuhan pentasnya, Ki Manteb harus berkreasi menciptakan tokoh wayang yang bisa digunakan dalam adegan perang, posisi tetap prima tetapi tidak meninggalkan kekhasan ciri gaya pakeliran yang dimilikinya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Hi…hi….hi…… Dalang kok kurang lakon. La masang Semar dadi tokoh sing isa ngomongake akeh-akeh soal apa wae, kalebu soal virus Corona iki, lak genah pas ta…? La Semar genah dewa ampuh”.

”Posisine netral di antara Pandawa karo Kurawa, merga deweke isa mewakili rakyat cilik. Lak ya cocok ta yen crita (virus) Corona…,” jelas Ki Manteb dengan beberapa pertanyaan yang bermaksud meyakinkan pernyataannya, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com via telepon tadi sore.

Baca : Kartonyono Medot Janji Meriahkan Wonogiri

Siasati Aturan

Lakon ”Semar Catur” yang secara khusus membahas akibat terjadinya pageblug virus Corona terhadap kehidupan itu, sudah digelar Ki Manteb dalam sebuah pentas ”climen” di rumahnya, Kamis 7/5 atau sebelum lakon ”Srikandi Senapati” (Sabtu, 9/5). Pentas itu juga disiarkan secara streaming lewat medsos, untuk menyiasati aturan ”di rumah saja”.

Dalam lakon ”Semar Catur”, dikisahkan negara Pandawa dan Astina sama-sama dilanda pageblug yang dilukiskan dengan tingkat kematian tinggi ibrat ”esuk lara, sore mati” dan ”sore lara, esuke mati. (Pagi sakit, sorenya meninggal. Sore sakit, paginya meninggal).

Pandawa menyikapi pageblug itu, berusaha dengan caranya untuk mencari tahu sumber datangnya penyakit atau wabah, lalu mencari cara atau obat untuk mengatasi atau menyembuhkan. Sedang Kurawa, justru menyebar fitnah, menuduh para Pandawa yang menjadi sumber penyakit dan sengaja menyebarkan wabah itu ke Kurawa.

Ajak untuk Arif dan Bijak

Dalam posisinya sebagai dewa bernama Sang Hyang Ismaya adaik Bathara Guru, di situlah dia memberi pencerahan dan saran-saran, untuk mencari solusi tanpa berperang dan menyebar fitnah. Titisan Dewa Wisnu, Prabu Kresna sengaja ”disanggit” tidak ditampilkan, untuk mengedukasi masyarakat penggemar wayang dalam soal upaya menghindari keberpihakan, mengingat Prabu Kresna adalah dewan penasihat Pandawa.

streaming-ki-manteb11
MENUTUP DENGAN MASKER : Menutup sebagian wajah dengan masker tatkala berkostum lengkap megah sebagai dalang, adalah bagian dari siasat Ki Manteb Soedarsono untuk menjalankan pentas wayang kulit secara ”climen” di rumahnya, juga untuk menyiasati aturan ketat protokol Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebagai seorang tokoh mewakili rakyat, bapaknya Gareng, Petruk dan Bagong yang akrab disapa Kyai Badranaya itu banyak melancarkan kritik kepada pemerintah masing-masing. Karena, aturan yang dikeluarkan satu masing-masing organ pemerintah berbeda, begitupun aturan di tingkat pemerintah daerah, bahkan terkesan tumpang-tindih.

Baca : ”Sultan Sepuh Demak” Tidak Lepas dari Peran Seorang Produser, Sutradara dan Penulis Skenario

”Akibat itu, rakyat menjadi bingung. Terlebih ditambah dengan kesan menakut-nakuti rakyat. Kira-kira benar apa enggak yang saya kupas di pakeliran? Lo, saya berani mengritik. Tetapi bukan menghujat, bukan fitnah atau berniat buruk”.

”Karena di situ saya mengajak berpikir arif dan bijak, dalam menyikapi situasi apa saja. Dalam kesulitan apa saja. Bagi siapa saja, khususnya para pemimpin kita,” papar ”Dalang Setan” sesuai buku biografi yang mengisahkan keahliannya olah sabet gerak wayang secepat kelebat setan itu. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun