Walau Hanya Pentas ”Climen”, tak Mau Sekadar Tampil

streaming-ki-manteb5
MENGHARGAI KARYA DAN NAMA : Walau hanya pentas ''climen'', sajian seni pertunjukan pakeliran yang digelar Ki Manteb tak pernah mengorbankan simbol-simbol nama besarnya. Dalang senior itu selalu menghargai karya dan nama besarnya, walau hanya pentas di rumah dan harus mengikuti protokol Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana dalam Tekanan Pandemi Corona (2-bersambung)

PENTAS pakeliran yang digelar tiga kali di kediamannya Desa Doplang Sekiteran, Karangpandan, Karanganyar selama pandemi Corona mewabah di Tanah Air dalam 3-4 bulan ini (SMS.Com,12/5), boleh dibilang tatacara dan format pementasannya sangat santai versi seorang nama besar Ki Manteb Soedarsono.

Penyajian wayang kulit atau ”ringgit wacucal” hampir sama yang dilakukan beberapa nama dalang lain seperti Ki Anom Suroto, Ki Purbo Asmoro, Ki Warseno Slenk dan lainnya ketika menggelar pentas wayang di kediamannya untuk keperluan peringatan ”weton” kelahirannya.

Sekalipun format dan tatacaranya sangat santai, sederhana dan terkesan tidak resmi seperti format seni pertunjukan yang dilakukan tatkala ”ditanggap” diundang pentas di luar rumah, namun bagi Ki Manteb tetap punya batasan-batasan dalam standar etika seni pertunjukan pedalangan di atas rata-rata.

Baginya, sekalipun pentas hanya digelar di sebuah ruang latihan berukuran kecil di kompleks rumahnya, hanya ”climen” atau menyertakan sedikit personel (pengrawit dan pesinden) dan hanya ditonton kalangan kerabat sendiri plus beberapa orang yang sedang ”beronda malam”, tetapi standar etika seni pertunjukan pedalangan tetap dijunjung tinggi.

Wakil Masyarakat Wayang

Pentas ”climen” bagi dalang penerima penghargaan dari Unesco untuk mewakili masyarakat wayang Indonesia karena wayang ditetapkan sebagai heritage dunia tahun 2004, bukan sekadar tampil dan bukan pentas asal-asalan.

Sajiannya tetap terkonsep rapi, walau lakon Bisma Gugur atau Srikandi Senapati malam itu hanya disajikan dalam format garap padat berdurasi 2 jam lebih.

streaming-ki-manteb6
VERSI KI MANTEB : Pentas ”climen” versi Ki Manteb Soedarsono dalam suasana pandemi Covid 19, mungkin hanya berkurang ukurannya. Semua disajikan dengan format dan tata cara yang profesional dan sesuai kaidah estetika seni pertunjukan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Selain konsep sajian terutama content tetap dijaga keseriusan dan profesionalitasnya, pentas ”climen” bagi dalang bintang iklan obat  sakit kepala yang dikontrak seumur hidup itu, bahkan tidak sekadar tampil dengan busana rapi. Melainkan mengenakan stelan busana (kostum) adat Jawa yang disesuaikan dengan format dan ciri seni pertunjukan seni wayang kulit atau ringgit wacucal.

Karena itulah, di ruang latihan yang sudah penuh dengan perangkat gamelan Slendro, tetap ada panggung kecil untuk menggelar ”kelir” (layar) berukuran standar konvensional, lengkap dengan simpingan, masih dihiasi dengan perangkat sound system dan sejumlah kamera video.

Dalam format ”climen” sajian wayang kulit malam itu tanpa perangkat gamelan Pelog.Sebab itu, pergantian struktur pementasan mulai pathet enem (6), sanga (9) dan manyura, irama sulukan, irama karawitan iringan maupun gending sindenan juga hanya dipilih yang berirama Slendro.

Masker yang Membedakan

Format dan tatacara penyajian seperti ini sebenarnya sudah berlebih untuk keperluan pentas wayang ”climen”, bila dibanding dengan pentas peringatan ”weton” kelahiran yang biasa digelar Ki Manteb di rumahnya tiap malam Selasa Legi.

Tetapi mengapa Ki Manteb tampil dengan busana stelan beskap berkelas lengkap dengan kerisnya ? Begitu pula penampilan delapan orang pengrawitnya yang tampak beda? Terlebih ketika mencermati penampilan Nyi Eka, satu-satunya pesinden yang disertakan pada pentas ”climen” itu?

streaming-ki-manteb7
BERDANDAN CANTIK : Walau hanya sendirian menjadi pendukung dalam pentas wayang kulit ”climen”dalam suasana protokol Covid 19 di kediaman Ki Manteb, malam Minggu (9/5), pesinden Nyi Eka tetap tampil profesional sebagaimana mestinya, bahkan cantik serta meyakinkan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Adalah sehelai kain yang disebut masker yang terpasang di mulut Ki Manteb dan semua seniman pendukung pentas itu, yang membuat penampilan mereka dalam menyajikan seni pertunjukan wayang kulit malam itu menjadi sedikit berbeda.

Dan masker itulah yang menjelaskan bahwa pentas malam itu berada dalam suasana menghindari penyebaran virus Corona, karena siapa saja harus mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah,apalagi ketika terlibat dalam seni pertunjukan.

Masker yang membuat penampilan wajah mereka menjadi ”wagu” itulah yang menjelaskan, bahwa pertunjukan wayang kulit ”climen” itu sebagai  sebuah cara untuk menyiasati pandemi Covid 19 yang oleh Ki Manteb disebut dengan bencana Pageblug Mayangkara.

Junjung Kaidah Estetika

Walau hanya ”climen”, pentas malam itu tetap menjadi seni pertunjukan yang punya kaidah estetika tinggi, bahkan menjadi sebuah siasat yang punya efek dahsyat malam itu.

Sebab, selain tidak meninggalkan semua syarat profesionalitas dan kaidah-kaidahnya, pentas itu disebarluaskan secara streaming ke media sosial (medsos) melalui  Manteb Soedarsono Chanel dan Sanggar Bima Chanel yang dikelola salah  seorang anaknya, Danang Suseno yang juga dalang.

streaming-ki-manteb8
FORMAT STANDAR ”WOW” : Bagi dalang yang punya nama besar seperti Ki Manteb Soedarsono,dalam kondisi normal pentas seni pertunjukan wayang kulit yang selalu disajikannya adalah yang punya format berstandar”wow” untuk menjaga ”kebesarannya. Lihat saja jumlah pesindennya. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sebuah cara termasuk jitu yang banyak dilakukan kalangan seniman tradisional termasuk dalang wayang kulit, untuk menyebarluaskan karyanya, kemampuannya, spesifikasinya, spesialisasinya dan keahliannya dalam soal olah gerak ”sabet” macam yang dimiliki Ki Manteb.

Ketrampilan Ki Manteb dalam soal sabet yang begitu atraktif dan mulai dikagumi publik pecinta wayang secara luas, hingga kini tampak masih sering diperlihatkan dengan trengginas, cepat dan akurat.

”Ya seperti inilah wayang ‘climen’ yang saya gelar. Walau hanya ‘climen’, saya tidak mau kalau asal tampil. Apalagi disiarkan secara streaming. Saya tetap minta untuk tampil sesuai kaidah seni pertunjukan ringgit wacucal. Ya dengan seragam Jawi jangkep, komplet (dengan blangkon dan keris),” tegas Ki Manteb menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com sebelum naik panggung memulai tugasnya.

Tampil Bergiliran

Apa yang disajikan Ki Manteb malam itu, walau hanya di ruang yang sempit, namun tidak mengurangi kaidah estetika pertunjukan dan profesionalitasnya sebagai dalang yang sudah punya nama besar.

Selain komitmen pribadi untuk menjaga wibawa, tata cara dan format penyajian seperti itu digelar karena ada beberapa pihak yang mendukung secara finansial, meski bisa disebut sekadar uang transpor pengrawit, misalnya dari Komda Pepadi Jateng.  

Dukungan finansial dari beberapa pihak itu, dibagi kepada semua anggota kelompok Sanggar Bima yang mendukung kerja profesional pertunjukannya yang jumlahnya lebih dari 50 orang.

Tetapi karena aturan protokol kesehatan Covid 19 melarang orang berkumpul dalam jumlah banyak, pementasan ”climen” yang berlangsung lebih dari 3 kali di rumah Ki Manteb dan beberapa tempat lain itu juga menuntut sang dalang selaku manajer untuk berlaku bijak.

Yaitu menggilir semua anggota crewnya, sehingga secara bergantian bisa tampil kurang lebih 10 orang tiap pentas. Termasuk pesindennya yang bisa tampil bergantian 2 orang tiap pentas, dan pengrawitnya bisa tampil separo-separo.

streaming-ki-manteb9
KEMEGAHAN SELASA LEGEN : Walau hanya untuk memperingati weton kelahirannya, pentas wayang kulit Selasa Legen tetap disuguhkan Ki Manteb sangat tidak mengecewakan, bahkan bisa dibilang menjadi salah satu ciri kemegahan (pentas) Selasa Legen. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Iki lagi kena pageblug, ya pada prihatin sik. Wong yen lagi payu kaya 30 tahun kepungkur, arep leren ngliyep wae ora isa. La wong enem sasi mayang tanpo leren wis tau nglakoni kok. Sak jroning 180 dina, mung kalong 19 dina pas weton karo merga eneng keperluan keluarga. Lak ya sengkleh nyang awak ta?.”

”La kae, wartawan sing motret tanggalan 6 sasi kebak (tanggapan) isih urip. Takonana dewe, wonge neng mburi kae.Tanggapan 6 sasi muput mung leren 19 dina, wis didokumentasi wektu arep gawe buku ndisik,” jelas Ki Manteb sambil menoleh ke belakang ke arah penulis, pentas di malam Minggu itu”.

”Saiki wis telung sasi mung mayang ping 5, ya isih mending. Pancen lagi dikon prihatin. Ya wis dilakoni wae kanthi sabar. Apa meneh iki wancine pasa. Ngiras-ngirus kanggo lelaku,” papar penerima penghargaan Nikkei Prize Award di Jepang awal tahun 2000-an yang akrab disapa ”Ki Dalang Oye” itu. (won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun