Pageblug Mayangkara Corona ”Membantu” Proses Pelemahan

covid-pageblug8
TAK BERANI HADIR : Meski institusi yang dipimpinnya punya otonomi penuh, tetapi Ketua MPR RI Bambang Susatyo tidak memenuhi undangan hadir di acara tingalan jumenengan Sinuhun PB XIII, akhir Maret lalu, karena menghormati protokol kesehatan Covid 19 yang sedang diberlakukan pemerintah.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Keraton Surakarta Sudah Mengalami Pageblug Sebelum Bergabung dengan NKRI (3-habis)

DINAMIKA sosial di Tanah Air yang terjadi selama 3-4 bulan ini, memang mencerminkan kesibukan pemerintah dalam menangani pandemi Corona yang bisa disebutkan hendak menuju puncaknya.

Kegiatan perang melawan Covid 19 ini terkesan merata di seluruh Tanah Air, bersamaan dengan dinamika kegiatan ”kucing-kucingan” sebagian rakyat di beberapa wilayah yang mengakhiri perayaan Idul Fitri dan sedang melakukan arus balik ke tempat masing-masing.

Kesibukan dalam rangka perayaan Lebaran yang dilakukan ”kucing-kucingan”, sangat mengesankan bahwa banyak sendi-sendi kehidupan memang sedang ”mandeg” atau ”tiarap”. Termasuk sendi kehidupan ekonomi di sektor pariwisata yang jelas sangat terpukul, karena aktivitas yang bersifat kerumunan atau berkumpulnya banyak orang jelas menjadi larangan keras di saat perang melawan Covid 19 ini.

Dalam dinamika seperti itu, banyak tempat menjadi tampak tidak biasa, sepi, nyaris tak ada kehidupan, bahkan tampak kotor terbengkalai. Salah satu tempat itu adalah institusi Keraton Surakarta bersama kompleks dan aset-aset budaya pengisinya, meski di sekitar kompleks bangunan bersejarah itu tidak seburuk banyak tempat lain yang tidak terurus akibat ”pageblug Mayangkara” pandemi Corona (SMS.Com, 21/5).

Tanda dan Simbol

Kesan tidak terurus di luar kompleks bangunan keraton memang hampir tidak kelihatan, tetapi bila dilihat dari keseluruhan dinamika kehidupannya, mungkin sama dengan tempat lain seperti gedung-gedung pertunjukan seni, fasilitas olah raga dan sebagainya.

covid-pageblug9
TIGA BULAN TUTUP : Sudah tiga bulan sejak Februari, pintu masuk dan halaman di dalam pagar Museum Art Gallery Keraton Surakarta tampak sepi dari lalu-lalang wisatawan pengunjung dan aneka jenis kendaraan parkir di depannya. Sejak pandemi Corona mewabah di Tanah Air, objek wisata keraton memang ditutup untuk umum tanpa ada pemberitahuan resmi. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Keraton yang sejak 17 Agustus 1945 hanya bisa dikenali dari aktivitas seni-budayanya untuk melihat apakah didalamnya ada kehidupan, kini seperti benar-benar sudah kelihatan tanda-tanda itu.

Setidaknya dimulai dari penyelenggaraan upacara adat ”tingalan jumenengan” yang berlangsung akhir Maret lalu, ketika pageblug Mayangkara virus Corona mulai meluas di Tanah Air.

Tata laksana penyelenggaraan ritual peringatan ulang tahun tahta Sinuhun Paku Buwono XIII ini, terkesan hanya digelar secara ”climen” alias ala kadarnya.

Sejumlah tamu penting yang diharapkan bisa hadir, tak satupun ”berani” datang di keraton untuk menghadiri upacara itu, karena sangat diduga saat itu semua pejabat pemerintah apalagi pejabata tinggi setingkat menteri, sudah tidak diizinkan meninggal tempat bertugas.

Sebab itu, Ketua MPR RI Bambang Susatyo yang sudah ”disowani” istri Sinuhun untuk menyerahkan undangan dan seragam, jelas tidak tampak hadir, begitu pula Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini yang sebelumnya datang ke keraton untuk menerima gelar, juga tidak kelihatan.

Bedaya Ketawang ”Sewaan”

Pisowanan ”tingalan jumenengan” siang itu, praktis hanya didatangi sekitar 50 orang yang sebagian adalah para pengikut Sinuhun, sebagian abdidalem karawitan dan penari Bedaya Ketawang yang ”sewaan”.

covid-pageblug9
HALAMAN KAMANDUNGAN : Di tahun-tahun lalu, pada H +5 dari Lebaran seperti sekarang ini, halaman Kamandungan Keraton Surakarta selalu dipadati parkir aneka jenis kendaraan dan lalu-lalang pengunjung/wisatawan. Tetapi, yang terlihat kemarin tampak sepi, karena objek wisata keraton ditutup sejak pandemi Corona mewabah 3 bulan lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Lainnya adalah beberapa ”abdidalem binaan” sang istri Sinuhun dari sebuah desa di Sragen, mengingat istri yang sebelumnya adalah abdi dalem yang bertugas di Sasana Putra yang berasal dari sebuah desa di Sragen itu.

”Dari laporan abdidalem, termasuk rekaman videonya, Sinuhun hanya duduk di kursi di teras Prabasuyasa. Bedaya Ketawangnya ya kurang dari 60 menit. Semua yang masuk ke Pendapa Sasana Sewaka (tempat upacara), dicek suhunya dan cuci tangan. Sudah mengikuti protokol kesehatan yang ditentukan pemerintah. Ya…kesannya, seperti bukan tingalan jumenengan,” ketus Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Yang digambarkan GKR Wandansari Koes Moertiyah atau Gusti Moeng yang juga Pengageng Sasana Wilapa itu, adalah salah satu aktivitas seni budaya di dalam keraton yang dilakukan ketika memasuki suasana pandemi Corona. Sedangkan aktivitas layanan museum keraton, sudah sebulan sebelumnya ditutup alias tidak lagi bisa dikunjungi publik.

Sisan sing Njembrung

Aktivitas keraton di masa pageblug Corona lain, sebenarnya merupakan peristiwa penting dalam kehidupan sosial budaya sebagai benteng terakhir dan menjadi ciri maupun simbol keraton.

Yaitu ketika memasuki bulan puasa, karena biasanya ada tiga peristiwa penting yaitu ritual ”Malem Selikuran”, penyerahan zakat fitrah dan ritual prosesi gunungan ”Garebeg Syawal” bersamaan dengan datangnya Lebaran, yang semuanya berlangsung di keraton maupun di kagungandalem Masjid Agung.

covid-pageblug10
TAHAN UJI : Beberapa di antara sentana dalem dari kantor Pengageng Kusuma Wandawa, tetap eksis meski kena dampak pageblug Mayangkara yang ikut melanda Keraton Surakarta selama tiga bulan ini. Mereka adalah pengikut Gusti Moeng yang tetap eksis meski sejak April 2017 dilarang masuk. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Namun, semua itu tak kelihatan ada tanda-tanda dilaksanakan, terutama ketika mencermati situasi dan kondisi Masjid Agung yang pernah dibangun mulai Sinuhun Paku Buwono IV itu. Sampai Lebaran berlalu, tanda-tanda ”open house” yang biasanya terjadi bersamaan dengan datangnya tamu bersilaturahmi untuk berhalalbihalal.

Yang mencolok sekali, sejak hari pertama Lebaran pertama, Minggu (24/5), Masjid Agung sepi tanpa prosesi gunungan dan halaman sekitar museum juga sepi dari lalu-lalang wisatawan dan parkir ratusan kendaraan, karena pintu museum tertutup rapat.

”Pokoknya libur panjang. Sementara biar tutup dulu. Ben prei sik. Sisan sing jembrung. Semua ditiadakan. Kecuali kantoran di sini, masih bisa dilakukan dengan protokol kesehatan Covid 19,” tambah Gusti Moeng, penerima ”The Fukuoka Culture Prize Award” dari Jepang 2012 itu.

Ujian untuk Eksis

Mengikuti perjalanan Keraton Surakarta ketika memasuki zaman republik dan kini bahkan diberi kesempatan merasakan pageblug seri kesekian yang disebut Covid 19 sejak Flu Spanyol di tahun 1918-1921, dalam perspektif lain bisa memberi sebuah gambaran dan analisis yang menyangkut eksistensi institusi penerus Dinasti Mataram itu.

Yaitu ada sebuah momentum yang secara kebetulan berkait dengan ketidakjelasan sikap pemerintah dalam menyelesaikan perselisihan di kalangan keluarga besar di keraton, yang sudah berjalan sejak 2004 hingga kini.

Analisis tersebut melukiskan, datangnya pandemi Corona sekarang ini seakan membantu atau memberi daya dukung terhadap proses pelemahan, karena sikap pemerintah yang terkesan tidak peduli dengan kehancuran keraton akibat konflik berkepanjangan di antara keluarga besar putra/putri Sinuhun Paku Buwono XII.

covid-pageblug11
BAGIAN YANG DIUJI : Gusti Moeng atau GKR Wandansari Koes Moertiyah dan kakaknya (GKR Retno Dumilah) yang mengenakan protokol kesehatan Covid 19, adalah bagian dari eksistensi institusi Keraton Surakarta penerus Dinasti Mataram yang sedang diuji oleh dahsyatnya pageblug Mayangkara sekarang ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Membiarkan keraton hancur dengan sendirinya karena keluarga besar di dalamnya dibiarkan bertikai,ditambah datangnya bencana wabah Corona yang tidak bisa diprediksi kapan akan berakhirnya, dalam logika yang berlaku secara umum bisa memperparah kondisi keraton bahkan mempercepat proses kehancuran keraton.

”Kami bersama sebagian besar para pengageng bebadan serta abdidalem garap dan Pakasa, masih solid. Kami memilih diam dan tiarap, meski sampai kapan kami tidak tahu. Yang jelas, kami semua mencermati apa yang sebenarnya sedang terjadi. Karena mungkin saja, ini jalan yang harus dilalui keraton dan ujian yang harus dihadapi keraton untuk tetap eksis,” tegas Ketua Yayasan Sanggar Pawiyatan Kabudayan Keraton Surakarta yang pernah dua periode (terpisah) menjadi anggota DPR RI itu. (Won Poerwono-habis)