Seni Pakeliran Cara Konvensional Mendokumentasi Bencana Pageblug

covid-19pageblug5
SIMBOL PENYATUAN : Tari Srimpi Ludira Madu, adalah salah satu karya tari yang dibuat semasa Sinuhun PB IV untuk mendokumentasi upaya penyatuan Madura ke dalam wilayah nagari Mataram Surakarta, dan secara harafiah melukiskan sejak itu ada darah Madura dalam diri keluarga Dinasti Mataram di Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Keraton Surakarta Sudah Mengalami Pageblug Sebelum Bergabung dengan NKRI (2-bersambung)

JANTURAN atau monolog seorang dalang wayang kulit yang biasa diucapkan di kala pentas pakeliran memasuki adegan Pathet Sanga (9), sebenarnya bisa disebut sebagai rekaman peristiwa yang pernah benar-benar terjadi yang disebut ”pageblug mayangkara”.

Karena, ”janturan” yang diucapkan sang dalang itu antara lain melukiskan terjadinya bencana penyakit yang melanda bangsa sebuah kerajaan atau negara dalam katagori ”nggegirisi” atau menakutkan, karena dahsyatnya korban yang ditimbulkan terutama dari sisi jumlah korban meninggal manusia yang begitu besar.

Dalam ”janturan” disebut telah terjadi ”pageblug mayangkara” yang ditandai dengan kondisi kehidupan serba sulit, pangan mahal, sandang mahal, pasar jadi sepi, banyak yang nganggur karena kehilangan pekerjaan dan orang meninggal di mana-mana. Ibaratnya ”……esuk lara, sore mati. Sore lara, esuk nemoni pati……” (pagi sakit, sorenya meninggal. Sore terdengar sakit, paginya kemudian meninggal).

Baca : Mbah Ning Berjuang untuk Bertahan dari Pandemi Corona

Di satu sisi, melalui medium seni pakeliran di saat dalang melakukan monolog ”janturan”, merupakan cara konvensional yang halus dan estetik dalam melukiskan sekaligus mendokumentasi sebuah peristiwa, misalnya bencana pageblug. Di sisi lain, dengan menyimak kalimat isi janturan itu, generasi yang hidup ratusan tahun kemudian seperti sekarang ini, bisa mengenali berbagai peristiwa bencana pageblug, meski tidak sempat ”terekam” secara rinci, komplet dan dipandang dari berbagai sisi.

Pageblug Mayangkara

Di antara pageblug yang pernah didokumentasi ”janturan” seni pakeliran, salah satunya diyakini adalah menyebarnya wabah Flu Spanyol yang awalnya berepisentrum di Eropa, dan menyebar ke Asia tenggara termasuk Nusantara. Bencana wabah di tahun 1918-1921 yang menyebar ke tanah Jawa di saat Sinuhun Paku Buwono X bertahta (1893-1939), dicatat seni pedalangan ini yang bersumber dari Serat Pustaka Raja (Keraton Mataram Surakarta) sebagai ”Pageblug Mayangkara”, karena kedahsyatannya hingga menewaskan 1,5 juta jiwa menurut film dokumenter ”Melawan Lupa” Metro TV medio Mei (bukan 1.500-Red SMS.Com, 19/5).

Baca : Keraton Surakarta Punya Sikap Spiritual Kebatinan untuk Menghadapi Pageblug Covid-19

covid-19pageblug6
DOKUMENTASI PERJANJIAN : Tarian Bedaya Ketawang merupakan salah satu karya tari yang sangat disakralkan di Keraton Surakarta, merupakan dokumentasi perjanjian antara Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dengan Kanjeng Ratu Kidul sebagai salah satu syarat mendirikan Keraton Mataram (Islam). .(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Apa saja yang merupakan data yang sering disebut-sebut dalam pentas seni pakeliran, hampir semuanya data fakta. Artinya, benar-benar pernah terjadi. Ya misalnya, kata-kata ”esuk lara sore mati’ dan sebagainya itu. Itu adalah lukisan dahsyatnya pageblug itu. Karena begitu dahsyatnya, maka disebut pageblug Mayangkara”.

”Rata-rata, data tentang peristiwa yang dilukiskan dan dikokumentasi seni pakeliran, tersimpan di tempat-tempat (institusi) tertentu, misalnya keraton. Karena, keraton adalah pemerintahan resmi yang punya pujangga, empu-empu dan orang-orang cerdik pandai, serta berbagai cabang seni budaya”.

”Seperti janturan yang melukiskan peristiwa ‘raja Astina Prabu Duryudana lenggah dampar ing pasewakan (Pendapa Sasana Sewaka). Lalu melukiskan Bangsal Marcukunda, bangsal pradangga, itu jelas ‘nyandra’ (melukiskan) bangunan-bangunan yang ada di kompleks kawasan kedhaton di keraton (Keraton Surakarta).

Baca : Heboh Perjanjian Giyanti di Medsos, Disikapi Serius Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta

Jadi intinya, seni pedalangan banyak mencatat peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di kawasan negara, bahkan dunia, di masa silam,” jelas Ki Manteb Soedarsono (72), seorang dalang senior asal Desa Doplang, Karangpandan, Karanganyar, mengisahkan hebatnya seni pedalangan di setiap setuasi zaman, ketika ditanya suaramerdedkasolo.com, belum lama ini.

Juga Seni Tari

Dalam hal mencatat sejarah yang di dalamnya terdiri dari berbagai peristiwa di lingkungan/wilayah negara/keraton maupun dunia, Keraton Surakarta sejak zaman Mataram Islam memang sudah membuktikan. Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta GKR Wandansari Koes Moertiyah, menyebut, banyak manuskrip yang tersimpan di Sasana Pustaka merupakan dokumentasi berbagai peristiwa, bahkan banyak pula yang masuk ke dalam lirik tembang macapat seperti tembang Dhandhang Gula yang melukiskan pindahnya Keraton Mataram dari Kartasura ke Surakarta di tahun 1745.

covid-19pageblug7
OPERASI INTELIJEN : Tari Srimpi Sangupati, adalah sebuah karya seni tari khas Keraton Surakarta yang mendokumentasi sekaligus melukiskan kecerdasan Sinuhun Paku Buwono IV yang melakukan operasi inteleijen untuk memata-matai gerak-gerik dan kekuatan Belanda. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Namun, yang khusus mencatat berbagai peristiwa bencana, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang akrab disapa Gusti Moeng itu memang belum menemukan. Tetapi diyakini, manuskrip yang tersimpan di Sasana Pustaka atau mungkin yang ikut terbakar saat kompleks ndalem Kepatihan dihancurkan akibat ekses persaingan suksesi bercampur imbas PKI Madiun (1948) yang terbungkus peristiwa serangan Belanda 4 hari di Kota Sala tahun 1949, mencatat peristiwa bencana pageblug Flu Eropa, pes dan sebagainya, bila mengingat janturan seni pakeliran saja telah mengisahkannya.

Baca : Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta Cabang Boyolali ”Cari Pemimpin”

”Banyak karya tari yang dijadikan cara dan alat untuk mendokumentasikan peristiwa lo. Meskipun bukan peristiwa bencana pageblug. Tari Srimpi Ludira Madu, itu dokumentasi peristiwa penyatuan Keraton Sumenep menjadi bagian Keraton Surakarta. Kemudian tari Srimpi Sangupati, yang melukiskan cara memata-matai kekuatan Belanda. Kemudian tari Bedaya Ketawang yang mendokumentasi perjanjian antara Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma dengan Kanjeng Ratu Kidul,” sebut Gusti Moeng selaku koreografer dan pimpinan Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta.

Wabah Kalagendheng

Kini, Keraton Mataram Surakarta kembali mencatat sejarah eksistensinya yang telah masuk ke abad milnium dan mendapat kesempatan mengalami pageblug Mayangkara seri 2 atau seri berapapun setelah pageblug Mayangkara tahun 1928-1921.

Pageblug Mayangkara seri 2 ini adalah wabah virus Corona yang sudah menelan korban jiwa di tanah air lebih dari seribu orang (sampai hari ini), meskipun secara spesifik organ-organ bagian dari kedaulatannya sudah tidak merasakan secara langsung terdampak akibat Covid 19 ini, mengingat posisinya sudah menjadi bagian dari NKRI.

Baca : Prinsip ”The King Can Do No Wrong” Bisa Menghindarkan Raja dari Jerat Hukum

Pemerhati sejarah keraton-keraton di Jawa dari Lembaga Olah Kajian Nusantara (Lokantara) Jogja, Dr Purwadi (ketua) menyebut, Yayasan Abdurahhman Baswedan.id punya catatan tentang Upacara Sesaji Rajawedha Tolak Balak Virus Kalagendheng pernah diadakan Sinuhun Prabu Hadi Hanyakrawati (RM Jolang), di kala memerintah Keraton Mataram Hindu (1601-1613) yang beribukota di Kutha Gedhe (kini masuk wilayah DIY). Entah apa namanya, tetapi yayasan itu menyebut wabah virus yang menyerang negara Mataram saat itu dengan nama ”Kalagendheng”.

covid-19pageblug8
TOKOH PENGINGAT : Dalang kondang Ki Manteb Soedarsono, menjadi salah satu tokoh pelestari seni pakeliran sekaligus tokoh pengingat bahwa seni pedalangan wayang kulit yang digelutinya selama ini, telah mencatat adanya pageblug yang melanda dunia dan selalu mengingatkan publik secara luas untuk waspada seperti saat dilanda Covid 19 sekarang ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Yang sekarang ini, bisa saya sebut Kalabendu. Seperti yang sudah pernah terjadi, sehabis ‘Kalabendu’ biasanya datang ‘Kalasuba’. Banyak yang memperkirakan, ‘Kalasuba” akan datang selepas tahun 2025, di mana zaman akan berubah menjadi kebalikan yang jauh lebih baik. Apakah itu yang dimaksud dengan suasana yang subur, makmur, murah sandang, murah papan, murah pangan, ayem-tentrem, kerta raharja, saya belum tahu. Mari kita saksikan bersama. Saya beruntung jadi salah satu dalang yang ‘menangi’ (menyaksikan) pageblug Corona,” sebut Ki Manteb. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : ”Sultan Sepuh Demak” Tidak Lepas dari Peran Seorang Produser, Sutradara dan Penulis Skenario

Editor : Budi Sarmun