Mbah Ning Berjuang untuk Bertahan dari Pandemi Corona

derita-pelukis-mbah-ning1
PERLIHATKAN PENGHARGAAN : Mbah Ning (69) memperlihatkan penghargaan yang diterimanya dari Kemendikbud 2018 sebagai maestro pelukis wayang beber. Di masa pandemi Covid 19 ini, dia seperti tak ada bedanya dengan warga miskin biasa yang serba sulit dan kurang beruntung walau untuk bisa makan untuk sekadar bertahan hidup. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Tak Berani Keluar Rumah untuk Cek Tensi dan Diabetesnya

SAAT suasana masih normal tak ada gangguan wabah virus Corona, wanita pelukis otodidak spesialisasi wayang beber Hermin Istiariningsih (69) sudah merasa hidup dalam himpitan ekonomi yang sulit, selama 4 bulan ini seakan ”dipaksa” harus berjuang untuk sekadar bertahan hidup. Aturan protokol yang membatasi gerak tiap orang, membuatnya takut keluar dari rumah untuk keperluan rutin tiap bulan yang seharusnya cek kesehatan di Puskesmas atau rumah sakit, akibat penyakit yang dideritanya, tensi tinggi sekaligus diabetes.

Mungkin karena kurang begitu paham terhadap apa yang sebenarnya terjadi dengan wabah virus Corona ini, sehingga yang didengar wanita pelukis yang akrab disapa mbah Ning itu, adalah sesuatu yang sangat menakutkanm sehingga untuk melakukan kewajiban cek kesehatan saja takut keluar rumah. Satu-satunya cara untuk memenuhi kewajiban itu, hanyalah dengan mengundang tenaga kesehatan dari sebuah apotek untuk sekadar mengukur suhu badan, tensi dan cek gula dalam darah, sekaligus mendapatkan obat ringan sesuai yang pernah ditulis pada resep dokter yang diperoleh saat cek kesehatan akhir tahun lalu.

Baca : Digelar Selasan, Kolaborasi Ketoprak Milenial “Hasthalaku”

Namun, entah bagaimana prosesnya, selama ”bertapa” di rumah empat bulan ini justru mendapat keterangan yang menenteramkan ketika cek kesehatan melalui tenaga kesehatan apotek yang diundang. Karena hasil tes suhu badan selalu normal-normal saja, pada kisaran 35 derajat celcius, tensinya ya rata-rata 145 serta kadar gula dalam darah selalu di bawah 150.

”Awak kula nggih rasane penak mawon, senadyan penak kanggone wong sing empun umur lagi lara-laranen kaya kula. Ning pokoke mboten nggliyer, mboten panas banget, mboten lemes, pipi kula mboten kaku-kaku kados kala emben nika. Enggih empun, entene nggih mung klekaran kalih nonton acara TV sing warnane molah-malih niki. Ajeng neruske nyorek, kok aras-arasen. Kula mandeg nyorek empun wiwit Februari nika,” ujar mbah Ning dalam bahasa Jawa campuran krama inggil dan madya, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com yang menyambangi di kediamannya Kampung Wonosaren, Jagalan, Jebres, kemarin.

Tak Ada Biaya Berobat

Karena takut keluar rumah dan malas untuk kembali melukis, praktis mbah Ning tak punya penghasilan sama sekali. Sementara, di rumahnya masih ada sekitar 30 lukisan wayang beber terdiri dari beberapa judul yang hanya disimpan saja di almari. Padahal, persediaan untuk kebutuhan hidup ada di rekening yang jadi tempat menyimpan hasil penjualan lukisan sebagai sumber penghasilan satu-satunya.

derita-pelukis-mbah-ning3
VERSI WAYANG BEBER : Lukisan berjudul ”Perjamuan Terakhir” yang dipesan seseorang sudah mulai diwarnai oleh mbah Tris, dan rencananya akan diberi ornamen versi wayang beber oleh mbah Ning. Tetapi keduanya seakan putus asa dan menyatakn gantung kuas akibat pandemi Covid 19 ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kini, mbah Ning dan sang suami, mbah Tris (81), hampir selama dua bulan ini hanya makan dari belas kasihan para koleganya yang peduli, karena diakui ada beberapa orang yang selama ini ikut membantu menjualkan lukisan karyanya, masih punya kewajiban untuk melunasi kekurangan pembayarannya. Atau ada satu atau dua orang yang pernah membeli karyanya, kemudian mengirim uang untuk membayar kekurangan dari harga untuk lukisan yang dibeli.

”La nika, ketoke tesih enten tabungan Rp 200 ewu. La namung empun kalih wulan langkung mboten diisi, napa (rekening kula) hangus nggih? La pripun, wong nggih mboten enten lukisan sing pajeng. Mboten enten tamu siang ajeng tumbas lukisan kok. Upami hangus enggih empun, mboten napa-napa. Pasa-pasa, gek malah ajeng bakda, kok malah enten Corona. Nggih empun. Mangan nggih sak entene,” ujar mbah Ning yang dibenarkan mbah Tris.

Konsumsi Beras Merah

Bila mencermati penjelasannya soal jumlah tabungan, mbah Ning tidak melakukan cek kesehatan rutin dalam 4 bulan ini sangat mungkin karena sudah kehabisan tabungan. Uang pemberian beberapa kolega yang peduli, terkesan hanya cukup untuk keperluan makan. Meskipun, keduanya mengaku mendapat bantuan paket sembako dari kelurahan dua kali, berupa beras, mie instan, gula dan kecap.

Baca : Bertahan Hidup dengan ”Tabungan” Kanvas dan Kain Sutra

Namun, bantuan itu diperlihatkan mbah Ning dalam keadaan sebagian besar masih utuh saat SMS.Com mengunjunginya. Karena, mbah Ning tidak mengonsumsi beras putih, melainkan beras merah yang rendah kadar gula. Otomatis, kecap, gula dan mie instan juga tidak makan. Sementara, mbah Tris lebih suka makan nasi dengan telur godog.

Menyaksikan kehidupan pasangan seniman lukis yang usianya sudah lanjut itu, mungkin tidak jauh beda dengan warga kebanyakan yang masuk kategori tidak mampu. Tetapi yang membedakan, mbah Ning adalah salah seorang seniman yang tercatat sebagai aset bangsa karena diakui negara sebagai maestro lukis wayang beber, terbukti dari penghargaan (pin dan piagam) yang diterima dari Kemendikbud 2018.

derita-pelukis-mbah-ning2
VERSI YANG ADA : Lukisan ”Perjamuan Terakhir” versi yang ada dan dikenal publik secara luas, sudah tampak hampir selesai. Namun mbah Tris, yang bertugas membuat karya itu juga memutuskan untuk berhenti karena mbah Ning menyatakan gantung kuas akibat pandemi Covid 19 ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Jare Mboten Ngapusi?

Dalam posisi seperti itu, agaknya ironis kalau wanita seniman langka ini sampai hidupnya tidak terurus bahkan kurang beruntung dibanding warga miskin biasa yang masih bisa mendapatkan bantuan BLT, sembako, proyek rumah tidak layak huni (RTLH) dan sebagainya. Mbah Ning agaknya terlewatkan dari keberuntungan itu, bahkan bantuan renovasi rumah yang sudah dijanjikan sendiri oleh Gubernur Ganjar Pranowo sudah dua tahun ini tidak ada wujudnya.

Baca : Surat Wasiat Mbah Tris Bagi Maestro Wayang Weber

” Mila, kula enggih mboten percaya, jare semboyane ‘Mboten Korupsi, Mboten Ngapusi’. La terus buktine napa yen jare ‘mboten ngapusi’? Jare arep mbantu renovasi, nganti direwangi entek-entekan nggo balik nama sertifikat, nganti dienteni 2 tahun, nggih mboten enten wujude. Sakniki nasib kula kaya ngeten, ya ora dipikir. Pun ditrimak-trimakne mawon. Gusti Allah sing mbales,” keluh mbah Tris memupus semua harapan dan nasib yang sekarang disandang.

Walau mbah Ning istirtahat total dari kegiatannya melukis wayang beber selama 3-4 bulan ini, tetapi mbah Tris masih mau mencoba melukis untuk memenuhi permintaan seseorang yang sudah membantunya. Yaitu ingin merampungkan lukisan berjudul Perjamuan Terakhir di atas kanvas ukuran 175 X 50 cm, dan membuat sketsa lukisan tema yang sama yang akan difinishing dengan ornamen versi wayang beber oleh mbah Ning, tetapi mbah Ning sudah memutuskan gantung kuas selama pandemi Covid 19 ini. (Won Poerwono)

Baca : Keraton-keraton di Jalur Mataram Sebelum Surakarta Hadiningrat, Sudah Tamat dan Selesai

Editor : Budi Sarmun