Keraton Surakarta Punya Sikap Spiritual Kebatinan untuk Menghadapi Pageblug Covid-19

covid-19pageblug1
BAGIKAN ZAKAT : Meski dalam situasi sulit terdampak pandemi wabah Corona, tetapi Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta masih bisa memikirkan orang-orang yang selama ini berjasa menjaga pelestarian dan eksisteni keraton. Ketua LDA GKR Wandansari Koes Moertiyah didampingi Pengageng Pasiten GKR Retno Dumilah, menyerahkan paket zakat kepada salah seorang abdidalem garap di kantor Badan Pengelola Keraton dengan tetap mengikuti protokol Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Keraton Surakarta Sudah Mengalami Pageblug Sebelum Bergabung dengan NKRI (1-bersambung)

KISAH bencana dan kala bendu atau pageblug yang sudah lebih dari satu kali dialami bangsa Indonesia selain wabah virus Corona atau pandemi Covid 19 seperti yang sekarang melanda.

Bahkan nyaris rata di 209 negara (catatan WHO) dalam sekitar 4 bulan ini, ternyata sudah dialami masyarakat di beberapa belahan dunia beberapa waktu lalu.

Dalam berbagai jenis, bencana wabah penyakit dan jenis-jenis bencana lain itu bahkan disebut beberapa ahli dan dokumen sejarah dunia bisa dibilang muncul (nyaris) tiap 100 tahun sekali atau siklus 100 tahunan.

Atas dasar analisis di atas, bangsa Indonesia yang baru berusia 75 tahun itu kini terhitung sudah mengalami siklus 100 tahunan yaitu dilanda bencana wabah Covid 19. Dan seperti yang terlihat, bangsa Indonesia memiliki gaya dan cara menyikapi datangnya wabah Corona, meskipun pemerintahnya sudah lebih dulu menentukan gaya dan cara penganganan yang disebut mengacu pada protokol yang ditentukan WHO.

Pahit-Getirnya Zaman

Ada di antara 270-an juta warga NKRI, ada Keraton Surakarta yang merupakan penerus misi dan eksistensi Keraton Mataram, tak terasa juga ”masih diberi kesempatan” untuk mengalami bencana wabah penyakit yang menelan korban jiwa lebih 1.000 (sampai Senin 18/5), serta menghancurkan sendi-sendi kehidupan bangsa Indonesia, terutama sendiri kehidupan ekonomi.

Baca : SAM Jadi Pasar Penjualan Karya Seni Kota Solo

Bila keraton-keraton yang berjumlah lebih 250-an masih utuh sekarang ini, pasti juga merasakan pahit-getirnya perjalanan zaman dan bisa mengenang jenis-jenis bencana yang pernah mnelanda institusi atau peradabannya, di saat menghadapi wabah Corona sekarang ini.

covid-19pageblug2
ARA DAN GAYA KERATON : Kirab pusaka menyambut datanganya Tahun Baru Jawa 1 Sura, biasanya mengeluarkan beberapa jenis pusaka yang diyakini berkait dengan situasi kondisi yang terjadi. Upacara adat yang juga berfungsi untuk tolak balak, sudah sejak lama dilakukan di Keraton Surakarta ketika menghadapi pageblug yang terjadi mirip wabah Covid 19 sekarang ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mungkin saja, dengan melihat tayangan sebuah program ”Melawan Lupa” di Metro TV beberapa hari lalu, sisa-sisa keraton pendiri NKRI yang tinggal berjumlah 48 anggota Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN) dan 40-an keraton anggota Majlis Adat Keraton se-Nusantara (MAKN) ini, menjadi ingat ketika mengalami serangan wabah Flu Spanyol yang melanda Nusantara di tahun 1918-1921.

Sebab, selama tiga tahun dilanda flu yang dibawa orang-orang Belanda dan Eropa lainnya yang berniaga sampai Asia tenggara ini, sampai menewaskan 1.500 orang. Padahal jika diakumulasi, jumlah warga/rakyat dari 250-an keraton yang tersebar di Nusantara saat itu populasinya belum lebih dari 50 juta.

Data-data dari tayangan peristiwa sejarah itu bisa menjadi bandingan tentang banyak hal, yang setidaknya untuk membandingkan bagaimana institusi keraton dan rakyatnya waktu itu dalam menyikapi datangnya bencana wabah Flu Spanyol di satu sisi, dan bagaimana pemerintah RI dan bangsanya menyikapi Covid 19, termasuk pula bagaimana keraton-keraton yang tersisa sekarang ini menyikapinya.

Baca : Penyebab Keraton Surakarta Sepi Seperti ”Dead Monument”

Tentu saja, termasuk Keraton Surakarta yang telah mengalami perjalanan panjang sejak masih bernama Keraton Mataram dan beribukota di Plered yang dibangun Sultan Agung Prabu Hanyakrakusuma (1613-1646), sebelum dipindah ke Kartasura oleh Sinuhun Amangkurat II (1677-1703).

Disikapi dengan Tolak Balak

Penanganan wabah Covid 19 secara resmi dipandu oleh Satuan Gugus Tugas yang dibentuk pemerintah, dan bangsa ini diminta mengikuti segala aturan yang diterbitkan pemerintah dan dikelola Satgugas itu, agar semuanya bisa segera diatasi dan pulih kembali.

Di sisi lain, keraton-keraton yang telah mengalami beberapa kali bencana wabah, Flu Spanyol 1918 yang terhitung paling besar sebelum Covid 19, juga memiliki gaya dan cara versinya dalam menghadapi wabah itu, misalnya seperti diperlihatkan kirab prajurit Keraton Yogyakarta yang membawa pusaka (konon tombak Kiai Setan Kober) untuk tolak bala (balak), dalam tayangan dokumen film program ”Melawan Lupa” itu.

covid-19pageblug3
SESAJI MAHESA LAWUNG : Upacara adat Sesaji Mahesa Lawung yang dipimpin Gusti Moeng dan calon putra mahkota KGPH Mangkubumi di hutan Krendawahana, beberapa waktu lalu, adalah ritual yang tiap tahun rutin dilakukan Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang sekaligus bisa berfungsi untuk tolak balak yang dihadapi keraton dan warga bangsa secara luas seperti pandemi Covid 19 seperti sekarang ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dalam program tayangan film dokumenter itu tidak disebutkan bagaimana Keraton Surakarta menyikapi wabah Flu Spanyol (1918), padahal Sinuhun Paku Buwono X (1893-1939) saat memerintah dikenal raja paling kaya, karena pada masanya memerintah secara kebetulan pas jatuh tempo menerima pembayaran semua kontrak sewa lahan yang dilakukan dengan Belanda dan punya SDM hebat dan sumber daya ekonomi berlimpah.

Baca : ”Konstitusi” Dinasti Mataram Tidak Pernah Mengenal ”Impeachment”

Seandainya ada dokumen manuskrip atau audio visual, sangat diyakini kalangan kerabat keraton saat ini, pasti Sinuhun Paku Buwono X melakukan hal yang sama dengan sikap spiritual ”kejawen”’sesuai yang diajarkan peradaban Jawa/Mataram, dalam menyikapi bencana penyakit itu.

”Saya belum menemukan dokumen-dokumen terutama manuskrip tentang itu. Tetapi, selama Keraton Mataram berdiri hingga berada di Surakarta Hadiningrat sekarang ini, saya banyak mendapat penjelasan dari kalangan pinisepuh keraton. Bahwa keraton sudah berkali-kali menghalami pageblug bencana penyakit macam itu. Bahkan, di saat Sinuhun Paku Buwono IV, juga sudah mengelami pageblug penyakit. Jenis wabah penyakitnya apa, saya kurang tahu,” jelas GKR Wandansari Koes Moertiyah selaku Pengageng Sasana Wilapa, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, di sela-sela membagikan paket zakat kepada 400 abdidalem garap di kantor Badan Pengelola Keraton Surakarta, tadi siang.

Baca : Prinsip ”The King Can Do No Wrong” Bisa Menghindarkan Raja dari Jerat Hukum

Pertanda Tetap Eksis

Secara umum, datangnya pageblug wabah penyakit Corona, memang membuat penderitaan hampir warga bangsa, tak terkecuali Keraton Surakarta yang setidaknya kini memiliki kekuatan riil kalangan abdidalem garap, sentanadalem, abdidalem anggota Pakasa di berbagai daerah lintas provinsi serta keluarga-keluarga trah darahdalem keturunan mulai Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun Paku Buwono XIII.

Di satu sisi, datangnya pageblug ini berakibat kurang lebih seperti yang dialami Keraton Surakarta dan keraton-keraton lain anggota FKIKN dan MAKN di Nusantara sejak ratusan tahun sebelum NKRI ada.

covid-19pageblug4
SEMENTARA LIBUR DULU : Upacara adat menyambut turunnya wahyu Illahi atau lailathul qadar yang disebut Malem Selikuran seperti yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta tahun lalu, ditiadakan untuk tahun ini. Hampir semua ritual menyambut puasa dan lebaran (Garebeg Syawal) ditiadakan alias suntuk sementara libur dulu karena mengikuti protokol penanganan Covid 19.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dilanda bencana pageblug itu, rata-rata membuat roda ekonomi mandeg, semua sendi kehidupan kacau, kurang beruntung dan rakyat kecil makin menderita. Namun di sisi lain, siapapun yang berada di tahun kembar 2020 di abad milenium ini, apalagi generasi penerus Keraton Mataram Surakarta yang sedang berada di masa ”mengambang” di bawah Sinuhun Paku Buwono XIII ini, mendapat keberuntungan karena mengalami dan merasakan pageblug yang datang kurang lebih tiap 100 tahunan itu.

Baca : Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta Cabang Boyolali ”Cari Pemimpin”

”Ya, secara kelembagaan, keraton masih mendapar kesempatan mengalami pageblug. Itu pertanda Keraton Surakarta masih eksis. Sejarah akan mencatat. Kami sampai sekarang memang masih berada di luar (keraton). Tetapi, malah bisa bergerak bebas. Kami juga melakukan sikap spiritiual untuk menghadapi pandemi Corona ini. Meskipun, saya tidak semuanya melakukan sendiri, tetapi mengutus abdidalem”.

”Keraton juga punya senjata tolak balak, yaitu Kiai Singkir. Tetapi, apakah pada kirab menyambut 1 Sura 2019 lalu dikeluarkan atau tidak?, saya tidak tahu. Yang jelas, kami tetap melakukan dengan sikap spiritual kebatinan dalam menyikapi pageblug seperti ini, seperti yang dilakukan eyang-eyang leluhur Mataram. Sebagai warga bangsa NKRI, kami juga melakukan aturan protokol penanganan Covid 19. Pakai masker, jaga jarak, cuci tangan dengan sabun dan sebagainya,” tegas Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang akrab disapa Gusti Moeng itu. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : Heboh Perjanjian Giyanti di Medsos, Disikapi Serius Lembaga Dewan Adat Keraton Surakarta

Editor : Budi Sarmun