Jalin Kerjasama Berbagai Pihak untuk Gelar Pentas Live

streaming-ki-manteb1
SESUAI PROTOKOL : Walau pentas ''live'' hanya ''climen'' dan ''garap padat'' 3 jam di rumahnya melibatkan lebih dari sejumlah orang, Ki Manteb tetap tampil sesuai aturan protokol penanganan Covid 19. Tak hanya dirinya yang mengenakan, tetapi pengrawit, pesinden, teknisi sound system dan kalangan keluarga serta beberapa tetangganya yang ikut menyaksikan lakon ''Srikandi Senapati'' di rumahnya, Sabtu malam (9/5) itu, juga mengikuti aturan mengenakan masker. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Cara Ki Manteb Menyiasati Suasana dalam Tekanan Pandemi Corona (1-bersambung)

BENCANA yang meluas sampai lebih dari separo jagat sekarang ini, adalah wabah virus Corona yang diberi nama Covid-19. Nama wabah yang sudah menjadi pandemi di 209 negara ini, diberi nama itu sesuai masa/zaman terjadinya di tahun 2020 ini. Bencana ini melumpuhkan segalanya, bahkan meluluh-lantakkan semua sendi kehidupan manusia di bumi yang dilanda, termasuk yang dialami rakyat dan bangsa Indonesia.

Salah satu sendi kehidupan yang dilanda, adalah kehidupan berkesenian. Namun, kalau almarhum Didi Prasetyo ”Kempot” masih bisa bergerak mengekspresikan kemampuannya berkesenian campursari beberapa saat menjelang akhir hayatnya, kisah pengalaman sang maestro campursari beserta kelompoknya asal Solo itu adalah satu di antara beberapa kejadian yang perlu dikecualikan. Sebab, secara umum sendi kehidupan berkesenian benar-benar terpuruk, baik kesenian modern maupun tradisional.

Satu lagi yang bisa dikecualikan, adalah sendi kehidupan berkesenian tradisional yaitu seni pedalangan atau wayang kulit. Sebab, ternyata masih ada dua atau tiga nama dalang ringgit wacucal (seni pakeliran) yang tetap bisa bergerak, walau ikut mendapat tekanan oleh situasi dan kondisi yang sedang berlangsung pembatasan yang dilakukan pemerintah untuk menangani wabah Covid-19.

streaming-ki-manteb2
MENDADAK LATIHAN : Karena job pentas didapat mendadak saat di rumah saja di tengah suasana pandemi Covid 19, latihanpun terpaksa diadakan secara mendadak. Tetapi, latihan menjelang pentas ”live” secara ”’climen” Sabtu malam (9/5) itu bukan hal sulit bagi dalang profesional sebesar Ki Manteb Soedarsono. Malam itu, pentas berdurasi 3 jam tetap berlangsung, disiarkan secara streaming dan didukung beberapa pihak yang bekerjasama. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Salah satu dalang yang masih bisa bergerak itu, adalah Ki Manteb Soedarsono (72), meskipun pergerakan itu hanya bisa dilakukan di kediamannya, Desa Sekiteran Doplang, Karangpandan, Karanganyar.

Dia memang baru mengakhiri kebebasannya melayani ”tanggapan” (job pentas) di masa pandemi Corona, 14 Maret di pulau Batam, tetapi bekerja ”Di Rumah Saja” bukan berarti hanya iseng untuk sekadar melepas rindu berekspresi.

Menghasilkan Uang

Bagi Sang Maestro Sabet yang terkenal dengan sebutan ”Dalang Oye” itu, bekerja di rumah sudah dibuktikan beberapa kali dan tiga kali di antaranya benar-benar menghasilkan uang, terutama bagi kalangan anggota kelompok karawitan yang biasa mengiringi pentasnya, yang tergabung dalam ”Sanggar Bima”.

Karena ternyata, masih ada pihak-pihak yang peduli kepada nasib para seniman tradisional, yang rata-rata sudah tidak mendapat akses jaminan kesejahteraan dari berbagai pihak khususnya pemerintah, khususnya yang menyangkut eksistensi profesinya sebagai seniman tradisional yang tidak punya ikatan/hubungan kerja profesional dengan pihak manapun.

Pihak-pihak yang masih peduli ketika diajak kerjasama Ki Manteb itu, adalah lembaga Pepadi (Jateng), yang kebetulan diketuai eks Bupati Sragen, Untung Wiyono Soekarno. Juga BRI dan beberapa lembaga lain, yang rata-rata memiliki latarbelakang hubungan emosional, yaitu sama-sama ingin menjaga kelestarian seni tradisional wayang kulit, sekaligus peduli terhadap nasib seniman yang hanya mengandalkan hidupnya dari hasil ”mengamen”.

”Ya, coba perhatikan, kalau para karyawan dan pegawai (pemerintah), masih ada pengusaha dan pemerintah yang menanggung kebutuhan hidupnya. Bagaimana dengan kami, juga kalangan seniman lain, khususnya seniman tradisional. Siapa yang menanggung dan menjamin kehidupan? Tidak ada!. Kami harus berjuang sendiri”.

streaming-ki-manteb2
YA NYINDEN, YA NJOGET = Pentas ”climen” dan garap padat selama 3 jam yang digelar Ki Manteb di kediamannya, Sabtu malam (9/5), memaksa pesinden satu-satunya yang diajak, yaitu Nyi Eka, harus berjoget Lengger Banyumasan, ketika pentas wayang kulit memasuki adegan ”gara-gara Panakawan”. Pentas yang disiarkan secara streaming itu, mengikuti aturan protokol penanganan Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Padahal, katanya kami-kami ini bagian dari budaya bangsa. Bagian dari benteng ketahan budaya nasional. Kami memaklumi, dalam situasi pageblug seperti sekarang ini, pemerintah memang repot mengurusi rakyatnya, terutama yang miskin. Tetapi, seniman yang tidak pernah minta-minta, tidak pernah ngrepoti dan tidak pernah ngrusuhi pemerintah, juga butuh makan, butuh perlindungan.

Karena kami adalah bagian dari rakyat Indonesia juga lo,” tegas dalang yang pernah mendapat julukan ”Dalang Setan” karena ketrampilan sabetnya secepat gerak setan, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, menjelang pentas wayang kulit yang disiarkan secara ”streaming” di kediamannya, Sabtu malam Minggu (9/5).

Hanya Climen

Malam itu, untuk kali ketiga pentas ”ringgit wacucal” yang sajiannya dengan format ”climen” (ala kadarnya) yang disiarkan secara ”streaming” atas dukungan kerjasama dengan beberapa pihak di atas, mengambil lakon ”Srikandi Senapati” atau (Resi) ”Bisma Gugur”.

Pentas wayang kulit yang durasinya dikemas dalam format ”garap padat” (tiga jam) itu, hanya diiringi separo dari seperangkat gamelan iringan lengkap, yaitu hanya gamelan slendro, tanpa gamelan pelog.

streaming-ki-manteb4
PESAN SOSIAL : Meski format pentasnya di rumah saja yang ”climen” dalam garap padat 3 jam, Ki Manteb selalu tidak lupa menyelipkan pesan-pesan moral dan sosial, karena pentas Sabtu malam (9/5) disiarkan melalui ”streaming”. Misalnya, ketika para tokoh Panakawan hadir di adegan ”gara-gara” Pathet 9, tokoh Bagong juga mengenakan masker sebagai wujud patuh aturan protokol penanganan Covid 19. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Karena model ”garap padat” dan format ”climen”, maka pentas itu hanya diiringi 7 pengrawit yang menabuh rebab, gender, gong, kenong, 2 demung dan ricikan ditambah seorang pesinden (Nyi Eka) dan istri Ki Manteb yaitu Nyi Hj Suwarti yang bertugas ”nyinden” di saat Nyi Eka harus menari Lengger Banyumas, ketika pentas memasuki pathet 9 yang ditandai hadirnya para tokoh Panakawan.

Pentas ”live” dengan berbusana kostum Jawa lengkap itu, dimulai sekitar pukul 21.00 WIB dan berakhir menjelang pukul 00.00 WIB. Semula, pentas garap ”padat tiga jam” dengan alur cerita sesuai struktur pementasan semalam suntuk itu, hanya ditonton beberapa anak cucu Ki Manteb yang tidak lebih dari lima orang.

Namun, pementasan yang menyesuaikan format protokol penanganan Corona itu, juga ditonton beberapa tetangga Ki Manteb, utamanya yang sedang beronda malam dan berjaga di pos penjagaan jalan masuk desa ke arah kediaman Ki Manteb. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun