Kentongan Masih Dilestarikan di Desa Gubug Cepogo

alat-keamanan-kentongan
PUKUL KENTONGAN: Sejumlah warga Dukuh Gunung Wijil, Desa Gubug, Kecamatan Cepogo bersemangat memukul kentongan dengan nada berirama.(suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Meskipun alat komunikasi sudah demikian maju, namun kentongan masih tetap dimanfaatkan warga. Seperti di Dukuh Gunung Wijil, Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, kentongan dimanfaatkan sebagai alat komunikasi warga.

Utamanya sebagai pemberitahuan jika ada bencana. Lihat saja semangat warga pada Minggu (22/3) pagi. Sejumlah warga dikaki gunung Merbabu nampak bersemangat memukul kentongan bambu dengan nada berirama.

Kentongan digunakan sebagai alat komunikasi, utamanya saat terjadi bencana tanah longsor. Mengingat dukuh tersebut memiliki kemiringan yang tajam karena berada di kawasan pegunungan. Apalagi, longsor masih mengancam saat ini.

“Begitu ada kejadian bisa membunyikan kentongan, sehingga warga lain bisa cepat memberi bantuan. Kentongan merupakan bantuan tokoh masyarakat dan pemdes setempat,” ujar Kepala Desa Gubug, Kecamatan Cepogo, Muhkamed.

Dijelaskan, kentongan tak sekedar alat komunikasi semata. Di Desa Gubung, kentongan atau biasa disebut warga sebagai klatung ini sudah menjadi adat budaya masyarakat. Sayangnya, akhir-akhir, keberadaan kentongan sudah mulai ditinggalkan.

“Jadi, kami ingin kembali menggalakkan budaya kentongan sebagai warisan nenek moyang.”

Untuk itu, tiap rumah akan diberi sebuah kentongan. Kentongan tersebut bisa dipukul untuk memberitahu warga lainnya. Tak hanya masalah kejadian pencurian atau bencana, sekaligus sebagai alat komunikasi jika ada warga sakit.

“Ada sandi-sandi dalam kentongan itu, satu, dua atau tiga bunyi kentongan itu soal kejadian apa dan seterusnya. Apalagi sebentar lagi datang bulan Ramadan, jadi kentongan bisa dimanfaatkan untuk membangunkan warga sahur.”

Tokoh masyarakat setempat Putut Tetuko menambahkan, kentongan sudah menyatu dengan masyarakat sebagai alat komunikasi. Pihaknya juga menginisiasi terbentuknya relawan Security Gunung Wijil.

“Relawan yang berjumlah 15 orang ini dilengkapi dengan alat komunikasi handy talky (HT).”

Jika terjadi bencana alam atau tindak kriminal, maka relawan akan maju sebagai garda terdepan guna memberi pertolongan kepada warga. Upaya ini diharapkan mendukung suasan kondusif masyarakat Dukuh Gunung Wijil.

“Meski kita semua tentu berharap tidak terjadi bencana atau tindak kriminal di tengah masyarakat,” tegasnya. (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun