Dampak Corona, Sadranan di Cepogo Digelar Terbatas

sadranan-cepogo
SADRANAN: Kegiatan sadranan digelar warga Desa Sukabumi, Kecamatan Cepogo di makam dukuh setempat pada bulan Ruwah tahun lalu. (suaramerdekasolo.com/Joko Murdowo)

Acara Saling Kunjung Warga Ditiadakan

BOYOLALI,suaramerdekasolo.com – Dampak virus corona dirasakan hingga masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi-Merbabu. Dipastikan, acara sadranan digelar terbatas.

Tradisi kirab grebeg sadranan yang biasa diikuti warga se wilayah Kecamatan Cepogo, tidak digelar. Bahkan, acara open house atau saling berkunjung antar warga juga tak diadakan. Hal itu bertujuan untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

Kepala Desa Gubug, Muhkamed mengaku sudah berkoordinasi dengan tokoh-tokoh masyarakat setempat. Untuk mencegah wabah virus corona, kegiatan open house yang biasa diselenggarakan tiap bulan Ruwah pada penanggalan jawa, untuk tahun ini ditiadakan.

“Ini semata untuk mencegah dampak negatif yang lebih besar. Jadi, kegiatan silaturahmi atau saling berkunjung ditiadakan dulu,” katanya.

Pasalnya, kegiatan saling berkunjung antar warga ini tak hanya dilakukan warga Desa Gubung atau dari Kecamatan Cepogo saja. Melainkan juga diikuti oleh warga dari luar Kecamatan Cepogo, bahkan dari luar kota.

Sehingga warga yang berkunjung ke Desa Gubug ini tak bisa dideteksi apakah aman dari virus corona atau tidak. Apalagi, pemerintah pusat juga sudah meminta untuk mengurangi kerumunan masa dalam jumlah banyak.

Meski tak mengadakan kegiatan open house, namun kegiatan kenduri di makam-makam tetap dilaksanakan. Sebab, meski melakukan pengumpulan masyarakat, namun teknisnya bisa diatur. Ini sekaligus sebagai wujud bakti warga kepada para leluhur.

“Desa-desa lain juga sudah mengambil kesepakatan dengan warga untuk tak mengadakan acara silaturahmi ini.”

Ketua Paguyuban Kepala Desa Kecamatan Cepogo, Komedi menambahkan, sejak tahun 2019 lalu ada dua sadranan. Yang pertama yakni grebeg sadranan yang diadakan 15 desa di Kecamatan Cepogo.

Grebeg Sadranan yang diadakan pertama kali pada tahun 2019 lalu itu bertujuan untuk membuka acara sadranan Ruwahan di setiap desa. Selain itu juga untuk kegiatan pariwisata. Rencananya grebek sadranan ini dilaksanakan pada 4 April 2020.

Tetapi setelah keluar surat edaran Bupati Boyolali tanggal 19 Maret 2020 yang intinya untuk pencegahan penyebaran virus covid-19, corona. Maka Paguyuban Kepala Desa dalam rapat sepakat tidak ada grebeg sadranan kali ini.

Kemudian untuk acara sadranan di tiap-tiap desa, lanjut Komedi, untuk diadakan musyawarah bersama BPD, RT/RW, tokoh agama dan tokoh masyarakat di masing-masing desa setempat. Musyawarah tersebut juga untuk menindaklanjuti SE Bupati Boyolali.

“Sebanyak 8 desa sudah mengadakan musyawarah dan diputuskan tetap menggelar sadranan di makam dan doa. Tetapi tidak menggelar open house di rumah,” tegas Komedi yang juga Kepala Desa Genting ini. (Joko Murdowo)

Editor : Budi Sarmun