Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta Cabang Boyolali ”Cari Pemimpin”

pakasa1
RAPAT KONSOLIDASI : Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa ketika berbicara di forum rapat konsolidasi pengurus Pakasa Cabang Boyolali, karena sudah vakum sejak tahun 2018. Di forum yang digelar di Pesanggrahan Pracimaharja, Paras, Boyolali itu pula, Ketua LDA itu menyampaikan pesan Ketua Pakasa Pusat, agar segera dibentuk panitia dan digelar pemilihan untuk mendapatkan pengurus cabang baru dan ketua Pakasa baru. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Sebagai Organisasi Setara Ormas yang terdaftar di Kemenkumham

KEBEBASAN berserikat ternyata bukan barang baru atau baru ada setelah era perang dunia (PD) II berlalu atau negara-negara baru berhimpun dalam Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Walau NKRI belum lahir dan sebagian besar tanah di Jawa berada di bawah kekuasaan kerajaan ”nagari” Surakarta Hadiningrat atau Keraton Mataram Surakarta, Sinuhun Paku Buwono (PB) X di tahun 1932 justru sudah memberi kebebasan kawulanya berserikat, yaitu dengan menginisiasi lahirnya organisasi Pakempalan Kawula Surakarta (Pakasa) yang dipandu putra mahkotanya yang bernama KGPH Hangabehi (sebelum jadi PB XI-Red).

Di akhir jumenengnya Sinuhun Paku Buwono XII (1945-2004), organisasi itu berubah nama menjadi Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta, tetapi dengan singkatan yang sama (Pakasa) dan beranggotakan berbagai elemen masyarakat yang sama ketika pertama lahir. Kini, Pakasa yang berkantor pusat atau ”punjer” di Keraton Surakarta atau Kutha Sala punya pengurus lengkap dengan ketua atau pangarsa KPH Edy Wirabhumi, yang juga pimpinan Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS).

Bersamaan dengan lahirnya Pakasa di saat jumenengnya Sinuhun PB X dan sepak terjang sang putera mahkota yaitu KGPH Hangabehi (nama sebelum jumeneng sebagai Sinuhun PB XI-Red), telah lahir pula organisasi sejenis khusus untuk kerabat wanita yang disebut Putri Narpa Wandawa. Namun, baru belakangan setelah Pakasa berkembang pesat dengan sejumlah cabangnya, organisasi Putri Narpa Wandawa juga mengalami penguatan di bawah kepemimpinan GKR Sekar Kencana, kakak kandung GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng.

Kini Berkembang Pesat

pakasa2
SEBAGIAN KOMPLEKS : Sebagian bangunan di kompleks Pesanggrahan Pracimaharja di Desa Paras, Boyolali, berupa pendapa yang sudah direkonstruksi sejak belasan tahun lalu, dijadikan pusat kegiatan Pakasa cabang setempat dan kegiatan-kegiatan seni budaya yang berkait dengan upacara adat Keraton Surakarta. Rapat konsolidasi pengurus Pakasa cabang yang dipimpin Gusti Moeng, tampak sedang berlangsung, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kini, Pakasa yang sudah terdaftar di Kemenkumham, memiliki AD/ART dan sejumlah cabang di berbagai daerah seperti Jogja (DIY), semua daerah di wilayah Surakarta (Solo Raya), beberapa daerah di luar Surakarta seperti di sepanjang Panutura, beberapa di provinsi Jatim seperti Ponorogo, Trenggalek, Malang dan Tulungagung. Di setiap Pakasa cabang, juga semakin banyak memiliki pengurus Pakasa ranting di tiap kecamatan, bahkan sudah berkembang di tiap kelurahan.

Perkembangan Pakasa yang begitu cepat di wilayah yang cukup luas, ternyata disebabkan oleh pertumbuhan aktivitas Sanggar Pasinaon Pambiwara yang makin meluas di berbagai daerah di Jateng, Jatim dan DIY. Sanggar pembelajaran hal-ikhwal tentang budaya Jawa serta pengetahuan sekitar peradaban Mataram/Jawa, banyak melahirkan para sukarelawan yang punya latarbelakang berbagai profesi, yang kemudian bergabung ke dalam pengurus Pakasa yang sudah terbentuk di masing-masing daerah.

Tak terkecuali Pakasa Cabang Boyolali yang berdiri sejak lebih 15 tahun lalu, sempat memiliki anggota aktif mendekati angka 10 ribu orang yang semuanya berstatus abdidalem yang setiap berlangsung upacara adat di Keraton Surakarta, mereka pasti sowan ngalab berkah. Namun, seiring dengan friksi yang terjadi antara keluarga sepeninggal Sinuhun PB XII (2004), soliditas kalangan anggota Pakasa Cabang Boyolali terpesah menjadi tiga. Ada sebagian yang tetap mengabdikan diri lewat Pakasa, ada yang masuk ke organisasi baru bentukan ”para pembisik” Sinuhun PB XIII dan tidak sedikit yang memilih pasif atau tidak bergabung kepada siapapun.

Cabang Boyolali Vakum

pakasa3
BARU SEBAGIAN : Meski yang hadir pada rapat konsolidasi pengurus Pakasa cabang Boyolali di Pesanggrahan Pracimaharja, Paras, belum lama ini ada sekitar 100-an orang, namun itu sudah mewakili belasan pengurus ranting yang sudah ada di tiap kecamatan. Karena anggota Pakasa cabang ada ribuan orang, Pakasa Pusat di Sala berharap semua kecamatan yang berjumlah 22 di Boyolali, bisa terbentuk pengurus ranting. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Kepemimpinan KRRA H Marjito Hadinagoro sekitar 5 tahun hingga tutup usia belum lama ini, sebenarnya sudah menampakkan hasil terjaganya soliditas anggota Pakasa yang memilih tetap eksis bersama Pakasa, dan sedikit demi sedikit menarik kembali yang bergabung kepada organisasi tandingan sejenis maupuan yang pasif. Tetapi, ketua yang berjasa menampung serta memelihara belasan ekor keturunan mahesa Kyai Slamet di kediamannya, Desa Dawar, Teras, Boyolali itu, kini seakan memupuskan harapan bangkit dan solidnya kembali seluruh warga Pakasa secara utuh.

Melihat situasi dan kondisi itu, KPH Edy Pangarsa Pakasa Punjer (walau saat itu absen) dan GKR Wandansari Koes Moertijah selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sekaligus Pengageng Sasana Wilapa Keraton Surakarta, segera mengambil langkah cepat untuk melakukan konsolidasi Pakasa Cabang Boyolali. Dalam sebuah pertemuan di Pesanggrahan Pracimaharja, Paras, Boyolali, belum lama, hadir sekitar 100 orang yang merupakan pengurus cabang dan ranting, untuk membahas kekosongan jabatan ketua cabang, bahkan kevakuman kepengurusan yang terjadi sekitar 2 tahunan karena kepemimpinan KRRA Marjito Hadinagoro berakhir di tahun 2018 belum ada forum semacam, musyawarah untuk mencari pemimpin baru, bahkan mantan ketua itu meninggal dunia, belum lama ini.

”Karena Kanjeng Marjito sakit hingga jabatannya berakhir 2018, kemudian meninggal beberapa waktu lalu, kepengurusan Pakasa Cabang Boyolali kosong. Bahkan bisa dikatakan vakum. Karena Pakasa sudah terdaftar di Kemenkumham sebagai setara ormas yang punya AD/ART, maka kepengurusan di tingkat cabang harus diaktifkan. Kemarin itu tiap ranting mengusulkan lima wakilnya untuk dijadikan calon ketua lalu dipilih semua perwakilan ranting. Mudah-mudahan dalam waktu dekat ada forum pemilihan pimpinan dan susunan pengurus baru juga terbentuk,” jelas GKR Wandansari Koes Moertijah yang akrab disapa Gusti Moeng, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, tadi pagi.

Hancur Karena ”Diselamatkan”

pakasa4
CABANG PERCONTOHAN : Pengurus Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim) dan warganya yang berjumlah sekitar 5 ribuan pantas menjadi cabang percontohan, karena termasuk cabang yang paling aktif dalam berkegiatan pelestarian adat, seni dan budaya, baik di daerahnya maupun yang berlangsung di Keraton Surakarta. KPH Edy Wirabhumi (Pangarsa Punjer) dan Gusti Moeng, berfoto setelah pelantikan pengurus beberapa ranting, beberapa waktu lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Antara Pakasa dengan Putri Narpa Wandawa, dengan Pesanggrahan Pracimaharja (Paras), memang merupakan tiga hal terpisah, namun menjadi satu bingkai peristiwa karena ada momentum serangkaian pertemuan warga Pakasa yang hendak mencari pemimpin baru organisasi cabangnya di tempat bersejarah yang punya banyak cerita itu. Karena, pesanggrahan di atas tanah luas dan berhawa sejuk itu, dibangun saat Sinuhun PB X jumeneng nata (1839-1936), semula memiliki tata ruang mirip vila yang dilengkapi tempat meditasi/bersembahyang/salat.

Namun, ketika agresi Belanda berlangsung beberapa tahun setelah Proklamasi Kemerdekaan RI, oleh warga setempat diselamatkan dari aksi pendudukan Belanda tetapi dengan cara dibakar yang mirip gerakan umi hangus seperti yang dilakukan para pejuang dan laskar-laskar perintis kemerdekaan, waktu itu. Langkah ”penyelamatan” itu, telah menghancurkan bangunan utama pesanggrahan dan hanya menyisakan tempat salat/bersembahyang, tetapi di tahun 1970-an dilakukan renovasi atas inisiasi Sinuhun PB XII dan merekonstruksi kembali bangunan pendapa atas inisiasi Gusti Moeng.

”Pendapa yang lumayan besarnya itu, kini bisa dijadikan pusat kegiatan Pakasa Cabang Boyolali, selain kegiatan-kegiatan keraton dan keperluan sosial lainnya. Tetapi, prinsipnya tempat itu adalah pesanggrahan yang tetap dimuliakan. Karena dulu, selain menjadi tempat Sinuhun (PB X) bermeditasi/sembahyang, juga tempat beristirahat. Bahkan, ketika menerima tamu kehormatan juga di situ. Mudah-mudahan, kita bisa memaknai lebih baik lagi, agar bermanfaat bagi kehidupan secara luas,” pinta Gusti Moeng. (Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun