Penyebab Keraton Surakarta Sepi Seperti ”Dead Monument”

pemikiran-keraton-surakarta1
SELALU MENGINGATKAN : Upacara spiritual keagamaan memperingati hari meninggalnya Sinuhun Paku Buwono XI yang sejak tahun 2004 digelar sebagai bagian dari aktivitas adat di keraton oleh Gusti Moeng, walau terpaksa menggunakan ndalem Kayonan, Baluwarti haul/khol itu tetap digelar. Di situ, Pengageng Sasana Wilapa itu selalu mengingatkan semuanya untuk tetap menjalankan tugas, kewajiban dan tanggungjawab sebagai kerabat penerus Dinastri Mataram. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Pelanggaran Adat, Pemikiran Radikal atau Nut Jaman Kelakone? (1-bersambung)

SISI timur ruang Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, siang sekitar pukul 13.00 kemarin bergetar, riuh dan heboh karena bersampur antara canda-tawa dengan tepuk tangan kurang-lebih 300 orang yang berkumpul dengan duduk lesehan di atas tikar. Wajah-wajahnya tampak penuh suka-cita, walau hanya menyantap hidangan segelas air putih dan ”sebutir” arem-arem.

Meski hanya berlangsung sekitar 5 menit, tetapi ruang itu mirip seperti suasana kelas (I) siswa SD sedang menjalankan tugas rutin menyanyikan lagu-lagu nasional, sebagai syarat ketika hendak bubaran sekolah.

”Sorak-sorak bergembira…….bergembira semua……..Indonesia merdeka……Indonesia merdeka……menuju bahagia….menuju bahagia…..dan seterusnya”. Begitulah kira-kira syair satu lagu yang disebut secara spontan GKR Wandansari Koes Moertijah, tetapi kemudian dinyanyikan bersama-sama dengan penuh semangat dan sukacita.

Baca : Masyarakat Adat tak Perlu Ditakuti, Karena Bukan Kelompok Anarkis dan Sparatis

Tentu saja, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang akrab disebut Gusti Moeng itu, yang bertindak sebagai dirigen untuk memandu beberapa putra/putridalem Sinuhun PB XII, juga dari PB XIII, kalangan sentanadalem pengageng bebadan dan kalangan abdidalem garap untuk bernyanyi sampai satu lagu selesai.

”Kados pundi..? Bahagia mboten….? Sami bahagia nggih…..?,” goda Gusti Moeng dengan pertanyaan untuk mendapatkan respon tentang beberapa hal yang sebelumnya dijelaskan, yang pada intinya merupakan kabar atau sesuatu yang membuat semuanya bahagia, gembira atau membuat semuanya bersemangat dan penuh pengharapan. Sambil tertawa suka-cita, semua yang merasa ditanya langsung menjawab serentak secara koor ”…bahagia….”. ”… inggih….”. ”…bahagia….”.

Baca : Keraton Surakarta Sangat Tidak Suka Penyelesaian dengan Pendekatan Militer

Meninggalkan yang Mendukungnya

Minggu siang (16/2) itu, adalah satu hari dari waktu sebulan yang disepakati bersama di antara mereka untuk berkumpul dan saling bersilaturahmi. Dan pisowanan sekali dalam sebulan itu, juga merupakan kesepakatan bersama yang sudah berjalan sejak peristiwa insiden 15 April 2017 terjadi, yang membuat semua pintu tertutup untuk Gusti Moeng dan hampir semua sentanadalem, pengageng bebadan dan para abdidalem garap.

pemikiran-keraton-surakarta2
SUASANA HAUL : Suasana jalannya upacara spiritual keagamaan memperingati meninggalnya atau haul/khol Sinuhun Paku Buwono XI di ndalem Kayonan, Baluwarti, Minggu pagi (15/2), tampak begitu egaliter yang nyaris tanpa sekat yang membuat jarak. Selaku Ketua LDA, Gusti Moeng duduk di kursi di antara para tamu dan para abdidalem ulama yang memanjatkan doa, tahlil dan dzikir yang juga duduk di kursi, siang itu.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Soal tempat yang dipakai bertemu, bisa berpindah-pindah, mulai dari Pendapa Sitinggil, Pendapa Pagelaran, Ndalem Kayonan dan sebagainya, tetapi intinya di luar (bangunan inti) keraton.

Pisowanan rutin itu biasanya digelar untuk membangun konsolidasi agar soliditas di antara kerabat LDA yang menjadi ”nyawa” Keraton Surakarta itu tetap terjaga.

Tetapi, pertemuan yang selalu diakhiri dengan tanda-tangan absensi itu juga sebagai syarat untuk mendapatkan gaji yang selama ini tetap diterima rutin tiap bulan, walau jumlahnya rata-rata sangat jauh dari UMR, dan hampir semua pekerjaannya dilakukan di luar keraton.

Baca : Keraton Surakarta Sangat Mengapresiasi Keteladanan Bupati Blora, Kenakan Stelan busana ”Bupati Manca”

Tetapi, pisowanan yang rata-rata dihadiri 3/4 jumlah berbagai komponen yang diwadahi dalam Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta yang diketuai Gusti Moeng itu, bukan satu-satunya kegiatan yang bisa dilakukan sebagian besar berbagai komponen yang pernah mendukung penuh jumenengnya KGPH Hangabehi menjadi Sinuhun Paku Buwono (PB) XIII.

Pisowanan rutin yang ditetapkan di hari Minggu kedua atau ketiga itu, adalah satu di antara berbagai kegiatan yang selama ini dilakukan orang-orang yang ditinggal Sinuhun PB XIII bergabung dengan kelompok pendukung seorang pesaing yang kemudian menjadi ”mantan Sinuhun PB XIII”.

Malah Padat Kegiatan

Karena, selain upacara adat yang bisa dilakukan di luar keraton seperti ”Malem Selikuran”, ”Sesaji Mahesa Lawung”, ”Wilujengan Nagari Pengetan Adeging Surakarta Hadiningrat” dan sebagainya, banyak sekali kegiatan di luar keraton yang diorganisasi dan melibatkan kalangan masyarakat adat yang dipimpin Gusti Moeng.

Mulai dari proses belajar-mengajar sampai wisuda siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara, wisuda anggota Pakasa Cabang hingga peresmian cabang dan anak cabang baru, upacara adat merawat makam leluhur, berbicara di forum-forum seminar seni budaya hingga mendukung pelaksanaan hari jadi kota/kabupten dan kegiatan-kegiatan peduli budaya Jawa yang bermunculan di berbagai wilayah sangat luas.

Baca : Keraton Surakarta Mengedukasi dari Cara Berbusana sampai Mengenali Jatidiri

Sebelum pisowanan rutin hari Minggu kemarin, para kerabat habis mengikuti upacara spiritual keagamaan haul atau khol meninggalnya Sinuhun PB XI yang meninggal beberapa bulan sebelum kemerdekaan RI diproklamasikan pada 17 Agustus 1945.

pemikiran-keraton-surakarta3
MEMIMPIN PERTEMUAN : Di depan para kerabat sentanadalem dan abdidalem garap, GKR Wandansari Koes Moertijah yang memimpin pertemuan silaturahmi di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa, Minggu siang (15/2), menyatakan bahwa dirinya sejak kecil sudah dibekali kekuatan ayahandanya (Sinuhun PB XII) sebagai pemimpin pelestari adat, seni, budaya peradaban Dinasti Mataram di Keraton Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Doa, tahlil dan dzikir ayahanda Sinuhun PB XII yang diikuti sekitar 100 kerabat itu, berlangsung di ndalem Kayonan, Baluwarti, rumah tinggal GKR Ayu Koes Indriyah (eks anggota DPD RI), Minggu pagi sebelum pindah ke acara pisowanan di Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa.

Padahal, Sabtu (15/2), dari pagi hingga petang Gusti Moeng selaku Ketua LDA bersama kerabat dan abdidalem sekitar 50 orang, memenuhi undangan warga Pakasa Cabang Klaten yang menggelar upacara wisuda siswa sanggar dan Pakasa baru sebanyak 160 orang di rumah seorang warga di Desa Sidorejo (Kemalang).

Dari situ, semua menuju Pesanggrahan Deles, situs peninggalan Siunuhun PB X yang dulu sering digunakan untuk bermeditasi dan memantau aktivitas gunung Merapi, karena bangunan pesanggarahan itu habis direnovasi untuk kesekian kalinya akibat tertimpa guguran erupsi beberapa waktu lalu.

Baca : Perlu Berapa Puluh Tahun Lagi, Proses Idealisasi Hubungan antara Negara dengan Keraton?

”Nanggap” Bedaya Ketawang

Melihat aktivitas yang justru makin padat untuk ukuran komunitas yang berada di luar keraton, menjadikan pemandangan sangat kontras bahkan bertolak-belakang ketika dibandingkan dengan yang bermukim dan berada di dalam keraton. Karena sejak insiden evakuasi dengan gaya militeristik yang melibatkan 2.000 personel Brimob dan 400 personel TNI pada15 April 2017, di dalam keraton sepi, lengang, nyaris tak terdengar ada kehidupan dan seakan mati dan bisa masuk kategori ”dead monument”.

Baru beberapa bulan kemudian, geliat tanda-tanda masih ada kehidupan terlihat, ketika museum kembali dibuka untuk umum. Tetapi, suasana di sekitar Pendapa Sasana Sewaka hingga Pendapa Magangan, tetap lengang dan sepi mirip, bahkan semak-belukar sempat tumbuh tinggi, meskipun ada upacara tingalan jumenengan dengan ”nanggap” tari Bedaya Ketawang, dan kantoran beberapa abdidalem seminggu sekali tiap Kamis.

pemikiran-keraton-surakarta4
SUASANA PISOWANAN : Baik ketika memulai mendukung kepemimpinan Sinuhun Paku Buwono XIII sejak 2004 sampai harus berjuang di luar keraton, sebagai Ketua LDA maupun Pengageng Sasana Wilapa, Gusti Moeng selalu mengajak semua kerabat yang hadir dalam pisowanan duduk sama rendah dan berdiri sama tinggi seperti yang tampak pada pisowanan di Pagelaran Sasana Sumewa, Minggu siang (15/2). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Aktivitas Sasana Pustaka di selatan Pendapa Sasana Sewaka yang dulu banyak kalangan kampus berlalu-lalang meneliti naskah, sejak itu sepi, dan kini tempat sumbernya ilmu pengetahuan budaya itu diduga sudah hancur, karena selama 3 tahun tak dirawat.

”Yang jelas dirasakan dan kelihatan perbedaannya itu. Sinuhun ‘kan sudah tidak bisa apa-apa. Yang di dekatnya tinggal lawyer dan ‘pembantu’ yang diangkat jadi ‘Kanjeng Ratu’. Mereka sama sekali tidak paham soal adat, keraton dan Peradaban Mataram (Jawa). Hampir semua (kerabat) tidak boleh masuk keraton. Itu artinya, tidak ada lagi kegiatan di keraton.

Baca : Pengertian Wayang Wong dan Sejarahnya

Keraton seperti mati. La wong yang biasa bikin kegiatan dan bikin keraton hidup, semua ada di sini (di luar keraton-Red). Kalaulah masih ada upacara adat di sana (keraton), sebagian besar seperti ”nanggap” borongan. Mereka hanya bekerja sekenanya saja, tetapi dibayar seperti proyek EO. Karena bukan abdidalem. Karena tidak paham tradisi, adat, seni, budaya di keraton,” jelas Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : Atara Imajinasi dan Fantasi

Editor : Budi Sarmun