”Sultan Sepuh Demak” Tidak Lepas dari Peran Seorang Produser, Sutradara dan Penulis Skenario

sultan1
PRABU THONG-THONG SOT : Ketika Petruk sedang didokumentasi tim pendataan aset wayang di Pendapa Magangan Keraton Surakarta, sebelum 2017. Tokoh yang menjadi simbol rakyat jelata itu, ketika ''diwisuda'' sebagai raja bergelar ''Prabu Thong-thong Sot'' dalam seni pertunjukan wayang kulit dengan lakon ''Petruk Dadi Ratu'', gambarannya kira-kira seperti video rekaman penobatan ''Sultan Sepuh Demak'' yang ditayangkan secara terbatas di medsos, akhir-akhir ini. Tetapi, yang diperjuankan Petruk sangat sangat ideal, sebagai simbol perjuangan wong cilik, yang tentu bertolak belakang dengan yang terjadi di ''Keraton Glagah Wangi'', Demak, menjelang Pemilu 2019 itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*”Legalisasi” Seni Pertunjukan Drama Ketoprak di Zaman Milenial (1-bersambung)

KALAU dianggap sebagai sebuah karya kreativitas yang masuk kategori komedi atau lelucon (lucu-lucuan), tanggapan Gubernur Jateng Ganjar Pranowo saat diwawancarai TV One tentang sikapnya terhadap munculnya Keraton Agung Sejagat di Purworejo, beberapa waktu lalu, memang pas juga.

Artinya, pemandangan yang tiba-tiba muncul bersamaan dengan deklarasi tentang lahirnya keraton-keraton baru itu, di satu sisi dipersepsikan sebagai lelucon belaka, dalam format apapun misalnya mirip adegan-adegan seperti yang ada dalam seni pertunjukan ketoprak, bahkan ada sentuhan atraksi kirab budaya yang menjadi salah satu hiburan paling disukai publik secara luas.

Dalam kerangka lelucon itu, tentu yang tampak secara visual dan mungkin yang terdengar secara auditif, bisa dipersepsikan memenuhi unsur kocak, aneh, tidak masuk akal dan hal-hal yang tidak lumrah atau tidak wajar seperti yang selalu menjadi esensi sebuah pertunjukan komedi, dagelan atau gecul. Tetapi, untuk menyajikan sebuah seni pertunjukan drama komedi, dagelan atau gecul seperti yang pernah ada dan dikenal dengan ”ketoprak plesetan” (karya Bondan Nusantara, Jogja-Red), diperlukan beberapa orang yang boleh dikatakan ”ahli’ dalam mengkreasikan sebuah pertunjukan itu.

Apalagi, di dalamnya ada unsur drama, komedi, tata rias wajah, busana, setting panggung, rute kirab, properti/perlengkapan, ahli yang berkait dengan produksi video, penulis skenario/narasi sampai pada sutradara dan EO produser keseluruhannya.

sultan2
SUDAH DIBUBARKAN : Sebuah surat yang diterbitkan Pemkab Demak sebagai hasil keputusan rapat Forkompimda setempat menyebut, Keraton Glagah Wangi Dhimak (Demak) dinyatakan tidak pernah ada dan segala kegiatan Yayaysan Keraton Glagah Wangi sudah dilarang sejak 18 Maret 2010. Surat ini bisa dijadikan pijakan bagi aparat penegak hukum setempat untuk menyikapi tayangan video ”ketoprak plesetan” berjudul ”Sultan Sepuh Demak” yang beredar terbatas akhir-akhir ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bila merujuk ke sisi lain dari unsur-unsur pelanggaran hukum, gangguan kenyamanan/bikin resah lingkungan, kebohongan publik dan sebagainya akibat munculnya keraton-keraton baru di sejumlah tempat akhir-akhir ini, agaknya ada pendekatan lain yang bisa digunakan untuk mengurai satu persatu ”sajian pertunjukan seni ketoprak plesetan” seperti yang pernah dibintangi pelawak Yati Pesek, Marwoto Kawer, Daryadi (alm) dan sebagainya itu.

Yaitu pendekatan untuk melihat siapa saja yang berperan dalam sebuah karya seni pertunjukan ketoprak plesetan, dalam sebuah kemasan video dan beredar luas melalui medsos itu.

Pendekatan ini bisa digunakan, karena seni pertunjukan ketoprak plesetan yang berjudul ”Sultan Sepuh Demak”, ”Keraton Agung Sejagat”, ”Sunda Empire”, ”Indonesia Mecusuar Dunia” atau ”King of The King” itu misalnya, seakan begitu menarik publik secara luas, menjadi bahan perbincangan dan sampai bisa membuat sibuk banyak pihak terutama aparat penegak hukum. Peran orang-orang di balik ”sukses” sajian ”ketoprak plesetan” itu patut diketahui pula oleh publik secara luas, mengingat rekaman video atau film hollywood yang mengangkat kisah-kisah kehidupan yang termasuk ”box office” di gedung-gedung bioskop sekalipun, seakan tidak bisa mengalahkannya.

Stelan Baju Tersangka

Oleh sebab itu, kisah ”sukses” sajian seni pertunjukan ”ketoprak plesetan” itu tentu tidak lepas dari kehebatan seorang penulis skenario, sutradara, produser, bintang-bintang pemeran yang dihadirkan dan sebagainya.

Tetapi, kekuatan sebuah karya film atau video mulai yang berjudul ”Sultan Sepuh Demak”, ”Keraton Agung Sejagat”, ”Sunda Empire”, ”Indonesia Mecusuar Dunia” atau ”King of The King” itu, memang tidak sama dalam satu titik saja. Melainkan, masing-masing memiliki kekuatan berbeda, baik ketika membandingkan apa yang tampak dalam sajian satu dengan yang lainnya.

Kalau yang berjudul ”Keraton Agung Sejagat”, yang menarik adalah ekspresi wajah masyarakat yang menyaksikan saat raja dan permaisurinya mengenakan busana kebesaran kerajaannya, naik kuda dan berarak-arak dalam prosesi kirab. Tetapi itu masih kalah menarik ketika keduanya mengenakan seragam stelan baju biru, ketika ditetapkan sebagai tersangka dugaan penipuan di Polda Jateng.
Publik secara luas diberi kesempatan untuk mencermati pemandangan dua tayangan dengan para pelakon yang sama, lalu membandingkan antara keduanya dengan komentar-komentarnya yang diungkapkan melalui medsos.

sultan3
MENYERAHKAN KEKANCINGAN : Partisara (piagam) berisi kekancingan tentang gelar sesebutan diberikan Gusti Moeng selaku Pengageng Sasana Wilapa sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA), jauh sebelum 2017. Kekancingan itu diberikan kepada seseorang yang memohon atau direkomendasikan mendapatkannya, karena dianggap berjasa di bidang pelestarian seni budaya melalui profesinya di tengah masyarakat. Kekancingan itu hanya berlaku di internal masyarakat adat pelestari peradaban Dinasti Mataram, yang sangat jauh dari kepentingan komersial.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Alur pola pikir dan penggunaan daya nalar seperti itu, sangat mungkin digunakan publik ketika menyaksikan tayangan video ketoprak plesetan ”Sunda Empire” saat ”Sang Kaisar” berceramah di depan para anggota ”kekaisarannya”, lalu membandingkan dengan ekspresi tiga orang petinggi/penanggtungjawab ”kekaisaran” ketika mengenakan stelan busana tersangka di Polda Jabar.

Tayangan video ”Kesultanan Selacau” (Tasikmalaya) dan ”Indonesia Mercusuar Dunia” atau ”King of The King”, sulit dibandingkan karena yang satu setelah tayangan profil sudah ”hilang” dari ruang publik, sementara yang satunya lagi tayangannya saat sudah ditetapkan menjadi tersangka di Polres Kutai Timur (Kaltim).

Bisa Dijadikan Pijakan

Tayangan video seni pertunjukan yang paling ”berbobot”, sebenarnya yang paling akhir (untuk sementara) muncul di ruang publik medsos yaitu ”letoprak plesetan” berjudul ”Sultan Sepuh Demak”. Respon publik secara luas memang belum seheboh ketika judul-judul ”ketoprak plesetan” yang ditayangkan lebih dulu, meskipun ”Sultan Sepuh Demak” pernah ”tayang terbatas” di medsos beberapa saat menjelang Pemilu, April 2019 dan kembali tayang ”secara terbatas” pula dalam beberapa hari ini.

Perihal terbatasnya tayangan itu, mungkin saja karena ”Keraton Glagah Wangi” yang berada di sebuah kampung di Kabupaten Demak yang disebutkan menjadi tempat bertahta ”Sultan Sepuh Demak” itu, sudah ditutup oleh Polres setempat dan kegiatan apapun yang semula berlangsung di sebuah rumah yang dijadikan ”keraton”, sudah dilarang aparat keamanan setempat karena dianggap meresahkan warga sekitarnya.

Tindakan cepat kalangan aparat dan pemerintah setempat inilah, yang mungkin saja membuat tayangan ”ketoprak plesetan” berisi upacara penobatan Sultan Sepuh Demak” dan kirab keliling wilayah yang dilakukan menjelang Pemilu 2019 itu, sempat beredar sebentar lalu hilang, tetapi kini menyebar luas melalui medsos lagi setelah tayangan ”ketoprak plesetan” yang lebih dulu muncul lalu berurusan dengan polisi.

sultan4
JELAS BUKAN KETOPRAK : Pemandangan di gedhong Sasana Handrawina dijadikan upacara sungkeman 1 Syawal kalangan kerabat di internal masyarakat adat sebelum tahun 2004, adalah peristiwa nyata bagaimana adat-istiadat masih dijaga ketat di Keraton Surakarta semasa ”raja” Sinuhun Paku Buwono XII, bukan adegan dagelan seperti tayangan terbatas video ketoprak plesetan yang memperlihatkan ”Sultan Sepuh Demak” karya seorang EO yang mirip bupati Wonogiri itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

”Setelah saya mencermati videonya, ya saya sangat prihatin. Dagelan apa lagi ini. Sebab, saya tahu betul siapa saja tokoh yang ada di video itu. Kita lihat saja, kalau polisi berani bertindak, dari sisi mananya?. Sebab, kemungkinan kegiatan ini dijadikan kedok untuk penipuan yang berarti ada korban yang menderita secara materiil, kelihatannya sangat kec

il. Karena, tokoh yang terlibat di situ adalah orang berduit, kaya raya. Mungkin saja, unsur kebohongan publiknya yang bisa memenuhi unsur pelanggaran hukum,” ujar GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng selaku Sekjen FKIKN sekaligus Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com yang meminta tanggapannya atas tayangan ”ketoprak plesetan” berjudul ”Sultan Sepuh Demak” itu, tadi siang. (Won Poerwono-bersambung)

Editor : Budi Sarmun