Keraton Palsu Menggebu-gebu, yang Asli Kehilangan Jatidiri?

kerarton-bermasalah-nkri12
AKSI PERSEMBAHAN : Sajian tari Kethek-ogleng dan dua unit seni reog Ponorogo ini adalah persembahan ikhlas tanpa diminta dari warga Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim), ketika hendak mendukung pelaksanaan upacara adat Sesaji Mahesa Lawung, beberapa waktu lalu. Sajian seperti ini dalam situasi seperti ini di Keraton Surakarta, bisa juga diorganisasi oknum EO ''Sultan Sepuh Demak'' itu tetapi dengan biaya ratusan juta, karena hidupnya dari proyek memanfaatkan situasi yang sedang kisruh dan situasi oportunitas seperti sekarang ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Jumlah Keraton-keraton yang Lama Makin Berkurang, Tetapi yang Baru Malah Bermunculan (4-habis)

SUDAH lebih seminggu heboh fenomena munculnya keraton-keraton baru di beberapa tempat belum reda dari perbincangan publik, malah belakangan Polres Kutai Timur (Kaltim) menyusul membongkar praktik serupa dengan nama ”King of The King” yang sudah punya koordinator wilayah di Banten dan Nganjuk (Jatim).

Tak hanya esensi pelanggaran hukumnya yang bervariasi, tetapi penyebutan nama setiap fenomena yang muncul juga berbeda-beda dan terdengar lucu di telinga, seperti ”keraton mimpi-mimpi”, ”keraton halu (-sinasi)”, ”keraton ilusi”, ”keraton abal-abal” dan ”keraton palsu”.

Entah mau disebut apa, sebuah video berdurasi sekitar 1 menit yang baru beredar di medsos belakangan ini, mungkin juga bisa dikatagorikan sebagai salah satu di antara beberapa keraton itu. Video rekaman kirab dan upacara penobatan seorang yang mirip Tomy Soeharto atau Hutama Mandalaputra dari keluarga ”Cendana”, tampak sedang diwisuda sebagai ”Sultan Sepuh Demak” dan kemudian diarak bersama-sama seorang tokoh yang habis mewisudanya untuk melakukan kirab keliling wilayah sebuah desa atau kecamatan di Kabupaten Demak.

Yang menarik lagi, ketika upacara wisuda, ada sosok yang wajahnya mirip mantan bupati Wonogiri, yang mendampingi saat wisuda, pengucapan deklarasi ”Sultan Sepuh Demak” dan ikut naik kereta melakukan kirab.

”Saya ini masih ada acara di Jakarta. Saya juga belum mendengar perbincangan soal itu. Saya ingin lihat videonya dulu. Jadi, saya belum bisa bicara. Karena saya belum bisa memastikan siapa saya yang ada di dalam video rekaman yang disebutkan peristiwa dari Demak itu,” tegas GKR Wandansari Koes Moertijah baik selaku Sekjen FKIKN maupun Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Surakarta, ketika dimintai konfirmasi suaramerdekasolo.com, tadi siang (SMS.Com, 31/1).

Video Sultan Sepuh Demak

kerarton-bermasalah-nkri13
BENTUK LEGITIMASI : Persiapan kirab Hari Jadi Kabupaten Ngawi (Jatim) yang didukung dengan hadirnya sejumlah bregada prajurit Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu, adalah bentuk nyata legitimasi wilayah eks Mataraman yang masih dimiliki warga di daerah ini terhadap eksistensi dan kepedulian masyarakat adat yang nyata-nyata ada sejak sebelum NKRI lahir hingga kini. Event ini bisa menjadi lain ketika jatuh di tangan oknum-oknum EO seperti yang mengorganisasi event ”Sultan Sepuh Demak” itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Terlepas benar atau tidak soal keterlibatan tokoh-tokoh itu, tetapi event yang digelar di sebuah bangunan yang terkesan klasik kuno di daerah Kabupaten Demak itu, bisa dikatagorikan mirip dengan event-event yang munculnya bersamaan fenomena keraton-keraton baru yang belakangan bikin heboh publik dan dan langsung ditangani pihak aparat penegak hukum.

Hingga kini memang belum terdengar ada pihak-pihak yang dirugikan dengan munculnya penobatan ”Sultan Sepuh Demak” itu, tetapi setidaknya narasi yang dibangun tentang munculnya raja baru itu jelas tidak sesuai dengan perjalanan keraton-keraton dari Majapahit ke Mataram.

Dari rentang waktu yang menunjuk keraton-keraton antara Majapahit hingga Mataram itu muncul, tidak tersebut nama tokoh seperti yang diwisuda seperti dalam video event itu, karena memang tidak ada rujukannya.

Silsilah yang ada dari rentang waktu yang dimungkinkan jadi pijakannya, sudah menunjuk pada tokoh di masing-masing keraton yang tidak menyebutkan tokoh-tokoh yang berhak menjadi penerusnya yang ada di luar silsilah itu.

”Jadi, kalau saya melihat, ya termasuk mengada-ada. Karena, setelah Majapahit pindah ke Kediri dan rajanya bernama Brawijaya VII (1498-1518), lahir pula Keraton Demak yang rajanya R Jaka Praba atau Sultan Syah Alam Akbar I (1478-1518).

Setelah itu diganti dua penerusnya dan sebenarnya diakhiri Sunan Prawata asebagai Raja Demak IV (1546-1549). Dari situ diselingi tiga raja di Keraton Pajang dalam rentang tahun 1550-1587, baru muncul Panembahan Senapati di Keraton Mataram Kota Gedhe. Jadi, tidak ada keturunan Demak yang berhak jumeneng sebagai Sultan Sepuh Demak. Karena memang sudah tidak ada. Demak sudah tamat dan diganti Keraton Pajang,” ujar KRT Darponagoro (55), salah seorang anggota forum diskusi Sasda ’86, yang dimintai konfirmasi soal ”Sultan Sepuh Demak”, di tempat terpisah, tadi siang.

Keraton Lama tak Berfungsi

kerarton-bermasalah-nkri14
BERAKAR DARI KERATON : Tarian rakyat yang disajikan para seniman di tengah acara yang digelar warga Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim) ini, adalah bentuk pengakuan masyarakat terhadap seni budaya yang berakar dari Keraton Surakarta. Tetapi, apa yang disajikan warga Pakasa setempat, merupakan wujud dukungan ikhlas terhadap Keraton Surakarta yang sedang diperjuangkan Lembaga Masyarakat Adat (LDA) pimpinan Gusti Moeng, bukan proyek mencari keuntungan dan sensasi seperti yang terjadi dalam event ”Sultan Sepuh Demak”. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat kemunculan video ”Sultan Sepuh Demak” itu, menambah panjang daftar fenomena munculnya keraton-keraton baru setelah yang baru disidik Polres Kutai Timur (Kaltim) yang bernama ”King of The King”.

Namun sekali lagi, tokoh supranatural Permadi SH yang kembali diwawancari reporter TV One di acara berita siang, Jumat (31/1) tetap menegaskan bawah fenomena munculnya keraton-keraton baru itu adalah ekspresi kerinduan sebagian masyarakat Indonesia yang menginginkan indahnya suasana zaman keraton-keraton di masa lalu.

Eks politisi PDIP dan Gerindra itu bahkan meyakini bahwa sebagian masyarakat yang rindu indahnya masa lalu itu, juga masih sangat yakin akan datangnya seorang pemimpin yang akan membawa bangsa Indonesia ke dalam suasana seperti yang diharapkan itu ketika datang pemimpin yang disebut ”Ratu Adil” atau semacamnya.

Yang lebih menarik dari pernyataan Permadi SH dalam wawancara itu, disebutkan bahwa keraton-keraton yang disebut berjumlah 250-an sebelum NKRI lahir dan kemudian disebut dalam UUD 45 itu, dipersepsikan sudah tidak berfungsi dan kurang kelihatan manfaatnya bagi masyarakat Indonesia, bahkan malah masing-masing keluarga internmalnya pada bertikai sendiri.

Pernyataan Permadi SH terakhir itu seakan memberi pembenaran terhadap munculnya keraton-keraton baru yang begitu ”menggebu-gebu”, karena di balik itu ada misi yang hendak diraih yaitu pencairan dana revolusi yang tersimpan di sebuah bank di Swiss (Switzerland), sebagai agunan atau konsekuensi atas lahirnya NKRI. Agunan yang berupa emas batangan, uang dan kandungan deposit tambang dalam perut bumi yang dijaminkan 250-an raja se-Nusantara waktu itu, sudah dibenarkan Sekjen FKIKN GKR Wandansari Koes Moertijah tentang fakta adanya agunan itu (SMS.Com, 25/1).

Proyeknya Seorang Oknum

kerarton-bermasalah-nkri15
KIRAB KELAS KELURAHAN : Kirab budaya yang digelar Kelurahan Tipes, Kecamatan Serengan yang melibatkan beberapa bregada prajurit Keraton Surakarta, beberapa waktu lalu, adalah event rintisan memberdayakan potensi lokal wilayah yang tentu bukan kelasnya EO event ”Sultan Sepuh Demak” itu. Karena tak akan mendatangkan keuntungan besar dan tak ada nilai sensasi bagi diri atau kelompok pengorganisasi seperti yang tampak dalam video di Demak itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Di satu sisi ada keraton-keraton baru yang ”menggebu-gebu”, tetapi di sisi lain Permadi SH menyebut keraton-keraton lama terbelenggu friksi keluarga yang seakan membuatnya kehilangan jatidiri, merupakan dua keadaan yang berada pada saat yang sama namun bertolak-belakang, bahkan banyak yang menyebut ada hubungan kausalitasnya. Namun, terlepas ada hubungan antara dua variabel itu atau tidak, senyatanya Keraton Surakarta saat ini sedang mengalami friksi hebat di internal keluarga dan masyarakat adatnya, yang sampai 16 tahun sejak 2004 tak kunjung bisa diselesaikan.

Terlepas dari adanya hubungan kausalitas antara dua variabel itu, secara terpisah Keraton Surakarta yang berada di urutan pertama dari sedikitnya 22 keraton se-Nusantara yang menderita friksi paling berat, jelas tidak berdiri sendiri ketika mengalami masalahnya.

Sangat jelas sekali ada peran-peran pihak luar yang dimungkinkan berkait dengan keterlibatan penguasa, misalnya keterlibatan nama seorang mantan bupati Wonogiri yang namanya disebut-sebut dalam insiden penjebolan pintu kompleks Sasana Putra, jauh sebelum 2017. Padahal yang bersangkutan sama sekali bukan trah Dinasti Mataram, yang isinya keturunan darahdalem Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun PB XIII.

Bila benar, oknum-oknum seperti yang muncul dalam video Sultan Sepuh Demak itu memang sudah dikenal sejak lama memiliki talenta di bidang EO yang pandai mengorganisasi sebuah event berbalut seni budaya karena ada keuntungan materi besar di situ. Dari event itu, oknum tersebut mendapat beberapa keuntungan misalnya materi dan posisi, apalagi proyek event itu didapat di tengah situasi yang kacau, keluarga yang sedang dilanda friksi, atau sebaliknya untuk memanfaatkan kesempatan atau situasi di saat seseorang atau sekelompok butuh sensasi, seperti yang terlukis dalam video yang pembukaannya diawali dengan logo simbol sebuah partai politik itu. (Won Poerwono-habis)

Editor : Budi Sarmun