Yang ”Nyata-nyata” Tidak Terurus dengan Baik, Kini Malah Direpotkan ”Mimpi-mimpi”

kemunculan-kerajaan-baru6
MEMBINA HUBUNGAN : Gusti Moeng selaku Sekjen FKIKN saat menyerahkan cinderamata kepada Wali Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara di event Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-8, tahun 2012. Event itu sebagai simbol keraton-keraton ''nyata'' yang usianya sudah ratusan tahun, dalam rangka membina hubungan dengan unsur pemerintah, agar negara selalu ingat dan tidak abai pada tugas dan kewajibannya memelihara satuan-satuan pemerintahan adat yang ada sebelum NKRI. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Fenomena Munculnya Keraton-keraton Baru, Mimpi atau Nyata? (2-berambung)

MELIHAT sejumlah tokoh yang hadir dalam panel diskusi forum ILC yang membahas fenomena munculnya keraton-keraton baru di beberapa daerah, sebenarnya memiliki kapasitas di bidangnya di atas rata-rata.

Namun, dari pernyataan-pernyataannya sangat sedikit yang memperlihatkan kejujuran dalam mengungkapkan fakta riil, terutama yang menyangkut sejarah masa lalu bangsa di Nusantara ini, terutama mengenai nasib kebanyakan keraton-keraton ketika berada di alam republik.

Kalau mantan Menpora yang berasal dari Pura Pakualaman, KRMT Roy Suryo malah mempersoalkan fenomena kemunculan keraton-keraton baru sebagai upaya pengalihan isu nasional dari kasus-kasus yang mencuat dan berkembang terakhir ini, rasanya sangat berlebihan hingga langsung disanggah Presiden ILC Karni Iliyas di forum itu.

Namun, pernyataannya bahwa ada semacam lembaga bernama Forum Komunikasi dan Informasi Keraton se-Nusantara (FKIKN) yang anggotanya keraton-keraton asli yang sudah ada di Nusantara sejak ratusan tahun silam, semisal yang diturunkan dari Dinasti Mataram, itu pernyataan yang jujur dan benar adanya, serta bisa dijadikan referensi untuk membandingkan dengan fenomena munculnya Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire, Kasultanan Selacau, Keraton Amarta Bumi dan sebagainya.

Sultan Kasepuhan ke-13 Kasultanan Cirebon, PRA Arif Natadiningrat yang masih membawa bendera semacam organisasi Forum Silaturahmi Keraton se-Nusantara (FSKN) ketika mendapat giliran berbicara di situ, juga tak banyak memberi penjelasan yang faktual dan jujur tentang apa yang seharusnya diketahui dan apa yang seharusnya diberitahukan kepada publik secara luas.

kemunculan-kerajaan-baru7
FORUM MUSYAWARAH : Mereka yang berkumpul di forum Dialog Budaya yang digelar dalam rangka Festival Keraton Nusantara (FKN) 8 yang digelar di Kota Bau-bau Bau-bau, Sulawesi Tenggara (2012) itu, adalah raja-raja atau perwakilan dari keraton yang ”nyata-nyata” ada di masa lampau sebelum ada NKRI, dan kini menjadi anggota FKIKN. Di dalamnya, tidak ada raja dari ”mimpi-mimpi” keraton seperti yang menjadi fenomena di beberapa daerah akhir-akhir ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Mengingat, tiga atau empat keraton yang ada di Kota dan Kabupaten Cirebon (Jabar) utamanya Keraton Kasepuhan, adalah keraton asli yang sudah ada sebelum republik ini lahir,  menjadi anggota FKIKN yang kantor sekretariatnya ada di Solo (Keraton Surakarta) dan hingga kini
sekretaris jenderal (Sekjen)nya dipegang GKR Wandansari Koes Moertijah atau Gusti Moeng.

Memberi Referensi dan Wawasan

Mungkin hanya pernyataan sejarawan senior Prof Anhar Gonggong yang memberi referensi terarah kepada publik secara luas, karena dialah yang menegaskan bahwa sebelum NKRI lahir ada keraton-keraton yang tersebar di seluruh Nusantara dan jumlahnya sangat banyak, dan mereka itulah yang faktanya telah mendirikan NKRI. Prof Anhar menegaskan, NKRI ya terdiri dari keraton-keraton itu.

Perihal fenomena munculnya keraton-keraton baru, dengan jujur dia mengaku baru kini mendengar dan tidak pernah mempelajari berbagai kegiatan yang dilakukan keraton-keraton baru itu hingga membuat heboh publik belakangan ini.

”Ya, terus terang hanya pernyataan Prof Anhar Gonggong yang saya anggap bisa memberi pencerahan dan arahan yang jelas berkait fenomena munculnya keraton-keraton baru tersebut.
(Pernyataan) Yang lain bukannya tidak bagus, tetapi kurang memberi referensi dan wawasan yang dibutuhkan publik. Misalnya ketika menyebut soal fenomena keraton-keraton baru, mengapa tidak dibandingkan dengan keraton-keraton lama, secara jelas dan komprehensif?”.

”Bukankah keraton-keraton lama masih ada dan lumayan banyak dan terwadahi dalam FKIKN? Mengapa muncul keraton-keraton baru, tetapi bagaimana nasib keraton-keraton lama? Pertanyaan-pertanyaan seperti ini sebenarnya menjadi pemikiran-pemikiran kritis orang-orang hebat di forum-forum seperti itu,” ujar Gusti Moeng yang ikut dimintai pendapatnya selaku Sekjen FKIKN dengan wawancara jarak jauh, ketika TV One membahas tema keraton-keraton baru itu sebelum forum ILC, beberapa waktu lalu.

kemunculan-kerajaan-baru8
ASET BUDAYA JELAS : Para penari kontingen Keraton Surakarta yang sedang berfoto bersama para panitia pergelaran senia khas di event Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-12 di Padang (Sumbar) tahun 2018 itu, habis memperlihatkan salah satu aset budaya salah satu keraton anggota FKIKN yang nyata dan sudah teruji serta memiliki latarbelakang yang jelas di masa sebelum ada NKRI. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Forum ILC sebagai ”gong” pembahasan tentang fenomena keraton-keraton baru yang diawali dengan wawancara khusus dengan Sekjen FKIKN Gusti Moeng dan talkshow yang melibatkan Ketua MAKN KPH Edy Wirabhumi yang digelar TV One, memang bentuk responsif terhadap isu kekinian yang berkembang yaitu Keraton Agung Sejagat dan sebagainya.

Tayangan-tayangan itu memang tidak dinisiasi untuk membahas tentang nasib 250-an keraton pendiri republik, yang tinggal 48 keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat setelah NKRI lahir, juga persoalan-persoalan yang sangat mungkin bermuara dari situ hingga muncul kerinduan-kerinduan seperti yang dilukiskan tokoh supranatural Permadi SH.

Wajar dan Layak Prihatin

Meski terkesan hanya sekadar fenomena dan tidak ada hubungannya dengan masa lalu bangsa ini, tetapi pemerintah tingkat kabupaten/kota dan provinsi tempat keraton baru bermunculan, seakan dibuat repot juga karena alasan timbulnya keresahan masyarakat di sekitar keraton baru dan unsur pelanggaran hukum yang terjadi di sela-sela kegiatan keraton tersebut.

kemunculan-kerajaan-baru9
KERATON YANG NYATA : Mereka yang sedang berfoto di sebuah gedung yang di Kota Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu litu, adalah para raja atau perwakilan keraton/kesultanan/kedatuan/pelingsir adat nyata yang tergabung dalam Majlis Adat Keraton se-Nusantara (MAKN). Meski sudah tidak memiliki sedikitnya 5 persyaratan seperti anggota FKIKN, tetapi mereka itu adalah raja dari keraton yang nyata sudah lama ada sebelum NKRI, bukan keraton dalam ”mimpi-mimpi”. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Melihat respon dan reaksi pemerintah di masing-masing lokasi keraton baru, memang terkesan setengah-setengah atau seakan tidak mau direpotkan mengurusi hal-hal yang sekadar ”mimpi-mimpi” hasil halusinasi itu.

Terlebih, di antara pembicara di forum ILC yang seakan malah dibenarkan Presiden ILC Karni Iliyas ada pernyataan bahwa kalau ada warga negara (NKRI) berserikat atau membentuk lembaga budaya, bahkan mendirikan keraton sekalipun, rasanya bebas karena tidak ada peraturan yang dilanggar.

Karena senyatanya, hingga kini tidak ada satu pasalpun dari berbagai regulasi dalam sistem hukum di Tanah Air yang melarang pendirian keraton atau kerajaan.

”Mosok, keraton-keraton yang sudah lama dan nyata-nyata ada dan pernah mendirikan NKRI saja tidak terurus, kok malah mau merepotkan diri mengurus keraton-keraton baru? Apa tidak salah?,”  ketus Gusti Moeng selaku Ketua FKIKN dan Ketua Lembaga Masyarakat Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, kemarin.

Meski Gusti Moeng berempati kepada kalangan anggota FKIKN yang merasa prihatin dan sedih dengan situasi dan kondisi terakhir yang diwarnai munculnya keraton-keraton baru itu, baik selaku pribadi maupun atas nama FKIKN atau Ketua LDA tidak ingin membenci siapa saja yang muncul dalam fenomena itu.

Tetapi atas nama apa saja dan siapa saja, Gusti Moeng wajar dan layak prihatin, apalagi sampai tidak habis mengerti, mengapa ada unsur-unsur pembiaran dan terkesan tidak mau direpotkan dengan munculnya hal-hal yang sebenarnya tidak jelas, tetapi bikin heboh itu?. (Won Poerwono-bersambung)  

kemunculan-kerajaan-baru10
SIMBOL YANG JELAS : Para prajurit Keraton Surakarta yang sedang bersiap menjalani kirab budaya pembukaan Festival Keraton Nusantara (FKN) ke-12 di Padang (Sumbar) tahun 2018 itu bukan ekspresi halusinasi atau mimpi-mimpi. Meski keratonnya ”dibiarkan” merana dan prihatin, tetapi mereka adalah simbol yang jelas dan nyata dari sebuah lembaga masyarakat adat di NKRI ini, karena memiliki perjalanan panjang dan latar belakang sejarah Dinasti Mataram. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun