Keraton Surakarta Sangat Mengapresiasi Keteladanan Bupati Blora, Kenakan Stelan busana ”Bupati Manca”

wisuda-purnawiyata16
JADI PRO-KONTRA : Busana kebesaran ''Bupati manca'' seperti yang diperagakan seorang penari Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta ini, yang menjadi polemik pro-kontra di medsos karena dikenakan Bupati Blora Joko Nugroho di setiap kirab peringatan hari jadi kabupaten. Busana adat dinas di wilayah kedaulatan keraton sebelum NKRI lahir, diperagakan dalam sebuah event di ndalem Joyokusuman, Gajahan, belum lama ini, untuk diperkenalkan dan keperluan edukasi publik secara luas tentang keragaman kekayaan budaya Nusantara. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wisuda Purnawiyata yang Dirangkai dengan Peragaan Busana Adat Kerajaan (4-habis)

EVENT wisuda purnawiyata siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara ”Marcukunda” yang sekaligus ditampilkan peragaan busana adat yang dikenakan di Keraton Surakarta sebagai suguhan, di ndalem Suryokusuman, Gajahan, Sabtu (11/1), ada banyak capaian yang didapat yang tak hanya untuk kepentingan internal masyarakat adat yang terwadahi dalam LDA.

Tetapi kepentingan yang jauh lebih besar akan dinikmati publik sangat luas, kini dan mendatang, karena pada hakikatnya budaya (Jawa) itu energi positif untuk ”Hamemayu hayuning bawana” dan ”Karya naktyasing sasama” serta untuk menjaga keseimbangan jagat makro dan mikro.

wisuda-purnawiyata20
DARI HABITAT SENDIRI : Gusti Moeng bersama para peraga busana adat yang tampil dalam event yang digelar di ndalem Joyokusuman, Gajahan, belum lama ini. Mereka itu adalah para pelaku sejarah yang sehari-hari bekerja di habitatnya sendiri, baik sebagai putra-putridalem, wayahdalem dan anggota Sanggar Pawiyatan Beksa Keraton Surakarta dan sebagainya.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Namun secara riil, ada tiga hal yang sekaligus dijangkau penyelenggara/penanggungjawab event itu, yaitu pengenalan ragam busana adat Jawa yang sampai kini masih dikenakan dan wajib dikenakan di dalam keraton, dan yang masih menjadi kebanggaan publik bahkan dimiliki sebagai jatidiri masyarakat peradaban secara luas.

Capaian terakhir yang tak kalah penting adalah, bentuk tanggungjawab GKR Wandansari Koes Moertijah untuk mewujudkan bantuan Rp 100 juta dari Ditjen Bina Kepercayaan Kemendikbud, berupa event itu, yang secara tidak langsung menjadi jawaban polemik tentang busana adat ”Bupati manca” yang dikenakan Bupati Blora (Jateng).

Baca :Keraton Surakarta Mengedukasi dari Cara Berbusana sampai Mengenali Jatidiri

Sudah sejak lama, Ketu LDA yang akrab disapa Gusti Moeng, berupaya untuk mengeksplorasi aset budaya khususnya upacara adat, repertoar tari, karawitan dan sebagainya, baik yang bersifat ”intangable” maupun semua perlengkapannya yang ”tangable”.

Namun, upaya-upaya yang secara serius ditangani sejak 2004 di saat kakak kandungnya yang jumeneng Sinuhun PB XIII, akhirnya justru kandas, ada yang tersendat-sendat dan banyak yang berjalan tetapi tidak selesai tuntas, misalnya upaya merevitalisasi seluruh bregada prajurit yang pernah ada (10 bregada), lengkap dengan busana seragam dan alat peraga tradisi perlengkapannya.

Baca : Gebyar Budaya Desa Pandes : Gali Potensi, Luncurkan 1 RW 1 Produk Unggulan