Keraton Surakarta Mengedukasi dari Cara Berbusana sampai Mengenali Jatidiri

wisuda-purnawiyata11
HAMPIR SAMA : Bangsal Smarakata di dalam kompleks kedhaton Keraton Mataram Surakarta seperti saat digunakan untuk latihan menari Sanggar Pawiyatan Beksa, sebelum 2017, memiliki ruang yang punya struktur elevasi dan luas yang hampir sama dengan ndalem Joyokusuman, Gajahan. Rumah adat di luar pagar Baluwarti ini yang digunakan Gusti Moeng untuk menggelar wisudan lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara dan peragaan busana adat keraton, Sabtu malam lalu. (11/1). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wisuda Purnawiyata yang Dirangkai dengan Peragaan Busana Adat Kerajaan (3-bersambung)

DIPANDANG dari sisi kemasan acara, upacara wisuda purnawiyata siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara ”Marcukunda” yang dipadu dengan peragaan busana adat Keraton Surakarta di ndalem Suryokusuman, Gajahan, belum lama ini (SMS.Com, 12/1), walaupun berlangsung ”di luar habitat”, tetap saja merupakan ide cemerlang. Event itu memberi banyak manfaat positif, di antaranya mengedukasi banyak hal kepada khalayak luas, terutama yang merasa memiliki kepribadian sebagai warga peradaban/budaya Jawa.

Baca : Mahasiswa Akparta Mandala Bhakti Surakarta Bhakti Sosial di Usaha Batik Mutiara

Melihat langsung ”on the spot” atau menerima sebaran informasi melalui media yang sangat canggih, cepat menyebarnya dan sangat luas cakupannya sekarang ini, masyarakat dunia bisa menyaksikan adanya peristiwa tentang sejumlah warga bangsa sedang belajar mengenal adat, seni dan budayanya sendiri, yaitu budaya Jawa. Mulai dari cara rias wajah (paes), perawatan badan (ngadi sarira), cara berbusana yang baik, santun dan sesuai (ngadi busana), cara berbicara yang baik, santun dan beradab (tata bahasa) sampai belajar cara berpikir dan berperilaku (tata krama/tata susila).

wisuda-purnawiyata12
PANGKAT BUPATI ANOM : Abdidalem yang berpangkat Bupati Anom (Kanjeng Raden Tumenggung), ketika sowan atau mengikuti upacara adat di dalam Keraton Mataram Surakarta, wajib mengenakan stelan busana adat seperti yang dikenakan seorang model dalam peragaan busana adat di ndalem Joyokusuman, Gajahan, Sabtu malam lalu (11/1). Stelan busana adat seperti ini, sudah dikenal luas dan selama ini dijadikan busana adat kebanggaan masyarakat etnik Jawa. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Dimulai dari proses belajar-mengajar selama 6 bulan yang dilengkapi pula dengan praktik, sampai akhirnya diwisudan karena sudah purna (selesai) wiyata (belajar/sekolah), yang ditandai dengan pemberian sertifikat (partisara). Di acara terakhir berupa upacara wisuda yang merupakan puncak pencapaian pengetahuan ketrampilan dalam budaya Jawa dan sejarah singkat tentang Keraton Mataram Surakarta itulah, Lembaga Dewan Adat (LDA) yang diketuai GKR Wandansari Koes Moertijah selaku penanggungjawab penyelenggaranya memadukan dengan pengenalan sejumlah busana adat Jawa, terutama yang banyak dikenakan di lingkungan Keraton Surakarta.

Baca : Kondisi Ndalem Joyokusuman Mirip Bangsal Smarakata

Ada 26 jenis busana adat yang dipamerkan dengan peragaan, di antara 50-an jenis busana yang hanya digunakan untuk keperluan upacara adat ”pisowanan” di Keraton Surakarta. Contoh-contoh yang diperagakan sejumlah kerabat dan abdidalem malam itu, belum termasuk busana adat yang digunakan di lingkungan keraton di luar pisowanan upacara adat, atau busana yang disebut ”padintenan” (untuk keseharian).

Khusus bagi kerabat internal di Keraton Surakarta, juga termasuk kalangan siswa yang pernah belajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara dan warga Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) yang tersebar mulai dari pusat (Kota Solo) hingga di cabang-cabang (Jateng, DIY, Jatim dan di manapun), pengetahuan tentang berbagai jenis busana adat itu perlu dimiliki. Sebab, di antara berbagai jenis busana itu, ada yang bisa dikenakan ketika hendak mengikuti pisowanan atau upacara adat di keraton.

Baca : Aktivitas Seni Budaya yang tak Terbendung oleh Apapun