Kondisi Ndalem Joyokusuman Mirip Bangsal Smarakata

wisuda-purnawiyata6
TATA RIAS : Tata rias wajah (ngadi sarira dan paes) dan tata busana atau ngadi busana, adalah bagian yang disinggung dalam aktivitas belajar-mengajar di Sanggar Pasinaon Pambiwara, meski tidak diberikan pelajaran secara khusus. Karena, seorang warga peradaban yang menjunjung tinggi nilai-nilai adat Jawa, harus tampil sesuai antara tata lahir (ngadi sarira-paes), tata busana dan tata bahasa serta tata kramanya. Para siswa sanggar ketika mempersiapkan diri menghadapi ujian (pendadaran) di ndalem Kayonan, Baluwarti, sekitar 4 bulan lalu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wisuda Purnawiyata yang Dirangkai dengan Peragaan Busana Adat Kerajaan (2-bersambung)

PERNYATAAN KPH Raditya Lintang Sasangka (Ketua Sanggar Pasinaon Pambiwara) ketika berkesempatan melaporkan pelaksanaan wisuda purnawiyata di depan 97 wisudawan siswa sanggar dan sekitar 100-an tamu yang hadir, sangatlah menghibur semuanya.

Bahkan, ketika disinggung riwayat latarbelakang tempat menggelar upacara wisuda tentang siapa tokoh yang pernah tinggal di rumah adat itu, siapa saja khususnya kalangan wisudawan boleh berbangga, karena ndalem Joyokusuman tidak ubahnya rumah adat atau ruang yang ada di sekeliling Keraton Surakarta.

”Dados, sami kemawon kula lan panjenengan wangsul dateng keraton. Raosipun sami kemawon menawi kalampahan wonten keraton. Malah kapara damel bombong manah. Amargi papan menika, rumiyin dipun lenggahi KGPH Mr Jayakusuma.

Panjenenganipun putra nomer 39 saking 67 putra-putrinipun Sinuhun Paku Buwono X,” jelas KPH Lintang yang sehari-harinya banyak beraktivitas di kampus UNS sebagai dosen FE dan pascasarjana, terlebih sejak insiden 2017.

Pernyataan menenteramkan wayahdalem yang bernama kecil BRM Bambang Irawan itu, terletak pada posisi ndalem Joyokusuman yang nyaris tak berjarak dengan tembok Baluwarti. Tetapi lebih membanggakan ketika dijelaskan bahwa gelar ”mister” (Mr) yang disandang KGPH Jayakusuma, adalah gelar ahli hukum yang diperoleh dari sebuah universitas di Belanda.

wisuda-purnawiyata
BELAJAR MENYESUAIKAN : Menjadi siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara ”Marcukunda” hingga lulus dari kursus tentang budaya Jawa seperti yang tampak dikenakan para wisudawan di ndalem Joyokusuman, Gajahan, Sabtu malam (11/1) itu, secara tidak langsung juga belajar menyesuaikan penggunaan busana yang sesuai dengan kebutuhan di lingkungan masing-masing. Karena, motif-motif batik dan beskap, memiliki batasan yang menunjuk makna konotatif dan simbolik bagi pemakainya, apalagi ketika digunakan di dalam lingkungan Keraton Surakarta. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sangat banyak kalangan putradalem dan sentanadalem terutama di zaman Sinuhun Paku Buwono (PB) X (1893-1936), yang berpendidikan tinggi dan rata-rata didapat dari perguruan tinggi di Belanda. Karena, di masa Sinuhun PB X, keraton mengalami zaman keemasan akibat banyaknya jatuh-tempo pembayaran kontrak (Lang Contract) sewa tanah dari pemerintah/perusahaan Belanda.

Termasuk enam nama dari sejumlah anggota Badan Persiapan Upaya Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI), adalah kalangan sentanadalem dari Keraton Surakarta yang berpendidikan tinggi di Belanda.