Aktivitas Seni Budaya yang tak Terbendung oleh Apapun

wisuda-purnawiyata1
PUNYA KOMITMEN : KPH Raditya Lintang Sasangka selaku ketua sanggar memberi sambutan dalam wisuda purnawiyata di ndalem Joyokusuman, Gajahan, Sabtu malam (11/1). Salah seorang wayahdalem Sinuhun PB X itu masih punya komitmen untuk terus mengasuh dan menjadi nahkoda Sanggar Pasinaon Pambiwara ''Marcukunda'', meskipun ikut berada di luar keraton bersama barisan Gusti Moeng. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Wisuda Purnawiyata yang Dirangkai dengan Peragaan Busana Adat Kerajaan (1-bersambung)

SABTU LEGI malam Minggu (11/1), Jumadilakhir tahun 1953 (Jawa), Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta kembali mencatatkan sejarahnya, di sebuah bangunan bekas kediaman seorang putradalem Sinuhun Paku Buwono (PB) X yang juga ahli hukum lulusan Belanda, yaitu KGPH Mr Jayakusuma yang kemudian dikenal dengan kompleks ndalem Joyokusuman.

Meski disebut pernah menjadi kediaman seorang pangeranputra, tetapi lokasi rumah adat yang luas itu berada di luar tembok Baluwarti, yaitu berada di Kelurahan Gajahan (kini), Kecamatan Pasarkliwon, yang nyaris tak berjarak dari tembok batas kompleks Keraton Surakarta.

Malam itu, LDA yang dipimpin Gusti Moeng atau GKR Wandansari Koes Moertijah itu mengukir sejarah dengan menggelar upacara wisuda bagi para purnawiyata atau lulusan siswa Sanggar Pasinaon Pambiwara, yang sebelum tahun 2017 dikenal dengan nama Marcukunda, karena pusat kegiatan belajar-mengajar berlangsung di Bangsal Marcukunda.

wisuda-purnawiyata2
LAKU DHODHOK : Para peserta wisuda purnawiayata memperlihatkan ketrampilan ”laku dhodhok” (jalan berjongkok) saat menuju tempatnya diwisuda sebagai lulusan Sanggar Pasinaon Pambiwara ”Marcukunda”, yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Mataram Surakarta di ndalem Joyokusuman, Gajahan, Sabtu malam (11/1). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Bangsal yang terletak di dekat Panggung Sangga Buwana itu, dijadikan pusat kegiatan belajar-mengajar sanggar karena tidak lagi berfungsi sebagai bagian dari kegiatan proses hukum adat, dan di tahun 2016 sudah disiapkan untuk direnovasi dengan dana bantuan dari Kemen PUPR.

Namun karena ada huru-hara atau ”dahuru ontran-ontran” pada 15 April 2017, hampir semua rencana aktivitas renovasi lanjutan berhenti dan nyaris semua kegiatan yang diorganisasi dan dikendalikan kantor Pengageng Sasana Wilapa harus dilakukan di luar keraton.

Termasuk proses belajar-mengajar Sanggar Pasinaon Pambiwara ”Marcukunda”, yang lebih banyak dilakukan di ndalem Kayonan, Baluwarti (kediaman GKR Ayu Koes Indriyah-Red), bahkan sampai kegiatan ujian hingga wisuda.