Melukis Berbahan Pewarna Hasil Bumi Ala Ki Djoko Sutedjo

ki-djoko-sutedjo

KI Djoko Djoko Sutedjo, seniman lukis senior melakukan inovasi terbaru. Kali ini pelukis asal Dukuh Pelang, Desa Bade, Kecamatan Klego Boyolali menyelesaikan karya terbarunya dengan melukis tokoh pewayangan Semar.

Kali ini yang unik diciptakan Ki Djoko adalah melukis dengan pewarna alami. Saat dihubungi Suara Merdeka, Kamis (9/1), Ki Djoko mengatakan melukis tidak harus dengan memakai bahan cat yang mahal atau produk luar negeri.

“Ya ini beerinovasi, saya mewarnai lukisan dengan bahan alami dari tanaman di kebun sekitar rumahnya,” paparnya.

Baca : Kreatifitas Tak Terbatas, Lukisan 33 Orang Alami Gangguan Jiwa

Bahan-bahan yang dihasilkan dari kebun, seperti biji kunyit untuk warna kuning, lalu pewarna merah hasil kombinasi kunyit diberi kapur sirih, serta warna hijau dari daun singkong atau ubi jalar yang ditumbuk berhasil diciptakan.

“Alat pengolahanya bahan-bahan pewarna ini ditumbuk dengan alu di dalam lumpang yang terbuat dari batu alam,” jelasnya.

Guna memberikan warna hitam yang legam, ia memakai arang kayu bakar, dan khusus warna merah jingga dihasilkan dari kulit buah naga.

Baca : Lukisan Potret Indonesia Basoeki Abdullah

“Semua bahan itu sudah berhasil dibuat dan kali ini saya melukis tokoh pewayangan Semar. Kenapa selalu melukis Semar, ya memang sekarang ini Semar masih relevan sebagai sang pamong harus meneladani sifat karakter Punokawan Semar. Walaupun dewa mereka tidak sombong selalu merendahkan diri terhadap

siapa saja selalu mengayomi kepada rakyat kecil,” jelasnya panjang lebar
Seperti diketahui maestro pelukis wayang merupakan pencipta lukiasan Sang Guru

Sejati. Akhir tahun lalu dia melelang karnya dengan harga Rp 10 miliar. Djoko menjelaskan ‘’Sang Guru Sejati’’ memiliki makna manunggaling kawulo lawan gusti. Nilai lukisan sebesar itu, kata Djoko sudah, ideal. Sebab dirinya sudah mengadakan pameran tunggal sebanyak 40 kali di berbagai kota besar di Indonesia mulai 1973. (Budi Santoso)

Baca : Inovasi di Haul ke-12 Sinuhun Amardika

Editort : Sri Hartanto