Dipersepsikan Mirip ”Geger Pecinan” di Zaman Kartasura

mahesa-lawung9
IKUT PRIHATIN : Calon putra mahkota, KGPH Mangkubumi, didampingi sang bibi (Gusti Moeng-red) tampak saat melakukan ritual pada wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung di hutan Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar. Dia ikut prihatin dan sedih ketika ayahandanya, Sinuhun PB XIII hendak menutup kantor BP, di saat semua yang mengikuti upacara adat pada berdatangan di depan kantor tersebut, Sabtu sore (26/12). (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Membuat Beda Peringatan 100 Hari Berdirinya Keraton Surakarta (3-habis)

ENTAH apa ciri perbedaan dari waktu ke waktu yang bisa dikenali dan dibandingkan, tetapi bagi salah seorang sesepuh yang juga cucu Sinuhun Paku Buwono (PB) X, yaitu KPH Broto Adiningrat (71), peringatan 100 hari berdirinya ”nagari” (Keraton) Surakarta Hadiningrat yang ke-276 pada 17 Sura 1745 dari tahun ke tahun diyakini pasti ada perbedaan walau kecil-kecilan dan tidak menonjol.

Tak ada catatan khusus tentang hal yang beda dalam peringatan 100 hari yang disebut wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung itu dari waktu ke waktu dalam rentang 276 tahun itu, tetapi upacara adat yang juga disebut Sesaji Rajawedha dan digelar di dua tempat, beberapa hari lalu, diwarnai beberapa insiden yang membuat beda dibanding ritual yang sama yang berlangsung tahun lalu.

”Lelakone kok kaya ‘geger pecinan’ zaman Keraton Kartasura. Keratone bosah-baseh, uwite pada ambruk, uwonge pada ngamuk. Ini pepeling bagi kita semua. Termasuk yang di dalam itu (Sinuhun dan kelompoknya-Red). Yen ora pada waspada, sida kegiles, mawut tenan,” ketus Wakil Pengageng Kusuma Wandawa dalam bahasa Jawa ngoko, menjawab pertanyaan suaramerdekasolo.com, belum lama ini.

mahesa-lawung10
SELALU MENGAWAL : KPH Broto Adiningrat adalah salah seorang sesepuh yang selalu mengawal setiap upacara adat digelar kalangan kerabat Lembaga Dewan Adat (LDA) yang dipimpin Gusti Moeng, terlebih di situ ada calon putra mahkota KGPH Mangkubumi yang makin aktif terlibat dalam berbagai ritual seperti Sesaji Mahesa Lawung, yang digelar di hutan Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sesepuh di keraton yang selalu diposisikan sebagai tokoh paranparanata oleh kerabat warga Lembaga Dewan Adat (LDA) yang diikutinya itu, hendak menyatakan bahwa berlangsungnya upacara adat Sesaji Mahesa Lawung seakan disambut oleh beberapa insiden yang bercitra negatif.

Yaitu hujan angin kencang yang berlangsung Jumat malam (25/12) hingga menumbangkan beberapa pohon di kawasan Alun-alun Lor, di antaranya pohon beringin, kemudian aksi labrak yang dilakukan Sinuhun PB XIII bersama para pendukungnya yang hendak menutup kantor Badan Pengelola (BP), Sabtu sore (26/12), di saat rombongan yang habis mengkuti Sesaji Mahesa Lawung berdatangan di sekitar kompleks Kamandungan.