Doa Wilujengan Nagari yang ”Dinodai” Pemimpin Adatnya

mahesa-lawung9
KEPALA KERBAU : Kepala kerbau yang sedang disiapkan Gusti Moeng di upacara wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung di Pendapa Sitinggil Lor, merupakan simbol Sesaji Rajawedha yang pernah diadakan di Keraton Demak (abad 14). Sesaji ini kemudian ditanam/dikubur di hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Membuat Beda Peringatan 100 Hari Berdirinya Keraton Surakarta (2-bersambung)

DOA-DOA yang dipanjatkan dalam upacara adat Wilujengan Nagari Mahesa Lawung, baik yang berlangsung di Pendapa Sitinggil Lor maupun di tempat berlangsungnya puncak acara, di hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar (SMS.Com, 2/1), sudah jelas terarah dan fokus sebagai bentuk sikap transendental menusia berbudaya sekaligus manusia berTuhan.

Oleh sebab itu, titik beratnya adalah memohon keselamatan, kedamaian dan kesejahteraan agar senantiasa dinikmati bangsa dan rakyat NKRI, termasuk Keraton Surakarta dan seisinya.

Prioritas terakhir dari doa panyuwunan (permohonan) yang dipimpin abdidalem juru donga KRT Pujo Setyonodipuro itu adalah, terhindarnya berbagai malapetaka dan segera sirna kabut keprihatinan yang selama ini membuat ”gelap” keraton.

mahesa-lawung8
CONTOH KEBHINEKAAN : Tatacara upacara wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung, adalah salah satu contoh paduan antara Islam dan Hindu yang berakulturasi dengan budaya Jawa. Karena, upara mengenang peristiwa 100 hari beridirnya Keraton Surakata di hutan Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar seperti yang tampak belum lama ini, dipanjatkan doa menurut dua agama secara berurutan. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Hasil Bersafari di Makam dan Petilasan Leluhur Sejak 1990-an

Didahului doa, tahlil dan dzikir untuk haul/khol ke-12 Sinuhun Paku Buwono XII (SMS.Com, 25/12), Gusti Moeng selaku Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) sudah berpesan kepada KRT Pujo Setyonodipuro untuk menyisipkan doa, yang semuanya tentu untuk kebaikan dan kebahagiaan bersama.

”Dhawuh ngujubaken” doa yang serba positif seperti itulah, yang juga diberikan Gusti Moeng kepada KRT Pujo Setyionodipuro untuk disebut, saat memimpin doa wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung, baik ketika digelar di Pendapa Sitinggil Lor, maupun ketika dipanjatkan di atas punden berundak hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar.

Pada intinya diharapkan, agar semua yang sedang dirundung lupa, lalai, alpa dan abai (termasuk Sinuhun PB XIII-Red), segera disadarkan dan retaknya persaudaraan/kekerabatan serta kemelut perpecahan di keraton, segera diakhiri agar semua bisa bersatu dan utuh kembali.

Baca : Ada Kethek Ogleng dan Reog Ponorogo Ikut Beraksi