Ada Kethek Ogleng dan Reog Ponorogo Ikut Beraksi

mahesa-lawung1
UTRA MAHKOTA TAMPIL : Calon putra mahkota KGPH Mangkubumi tampil menjadi tokoh sentral di upacara adat Sesaji Mahesa Lawung yang digelar Lembaga Dewan Keraton Surakarta di hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar, belum lama ini.(suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Peringatan 100 Hari Berdirinya Keraton Surakarta (1-bersambung)

SETELAH beberapa hal yang merupakan sentuhan inovatif tampak di acara spiritual keagamaan doa, tahlil dan dzikir mengenang wafatnya (haul/khol) Sinuhun Paku Buwono (PB) XII beberapa waktu lalu (SMS.Com, 25/12/2019), kini Gusti Moeng kembali membuat memunculkan sentuhan serupa pada upacara adat Sesaji Mahesa Lawung.

Di ritual mengenang wilujengan nagari 100 hari berdirinya Keraton Mataram Surakarta Hadiningrat setelah 17 Sura 1745 yang digelar Lembaga Dewan Adat (LDA) belum lama ini, Ketua LDA sekaligus Pengageng Sasana Wilapa bernama lengkap GKR Wandansari Koes Moertijah itu mengajak rombongan anak-anak penari Kethek Ogleng bersama sejumlah warok dari dua unit seni reog Ponorogo, untuk mendukung doa dan kenduri wilujengan yang berlangsung di Pendapa Sitinggil Lor.

Baca : Hukum Adat tak Berjalan, Karena Tersandera Proses Hukum Positif

Sejarah perjalanan Dinasti Mataram melalui Keraton Surakarta Hadiningrat kembali terukir dan bertambah catatannya, karena sentuhan-sentuhan seni inovatif yang dilakukan Gusti Moeng. Termasuk sentuhan inovatif yang akulturatif di beberapa upacara spiritual keagamaan, merupakan catatan positif terbaru yang dimiliki keraton, selain beberapa catatan lain yang terkesan berkebalikan di sekitar ”ontran-ontran” yang seakan tak ada ujungnya sejak 2004 hingga sekarang.

mahesa-lawung2
ENGGANTI SESORAH : KRRA Siswanto Adinagoro, pengganti almarhum KPA Winarno Kusumo (juru penerang budaya yang juga dikenal sebagai humas Keraton Surakarta), saat ”sesorah” membacakan riwayat lahirnya ritual wilujengan 100 hari berdirinya Keraton Surakarta di tahun 1745 lalu. upacara adat Sesaji Mahesa Lawung yang digelar LDA di hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Sentuhan inovasi yang membuat catatan positif itu tentu layak diapresiasi publik, karena itu berarti sejarah pertjalanan keraton tidak ”mandeg” atau statis dari sisi monarkinya. Namun, perannya sebagai sumber dan pusatnya pemeliharaan peradaban/budaya Jawa, terus bergerak aktif mengikuti zaman dan tetap memberi manfaat bagi anak-anak zaman, kini dan diharapkan berlangsung terus dalam waktu yang panjang.

Baca : Selama Menjadi Bagian dari Keraton, Harus Tunduk Hukum Adat

Apa yang dilakukan Gusti Moeng yang hingga kini diakui sebagai pemimpin rangkaian ”gerbong”, yang berisi sebagian besar bebadan dan jajaran abdidalem garap serta perwakilan trah darahdalem keturunan Sinuhun Amangkurat Agung hingga Sinuhun PB XIII yang terwadahi dalam LDA, mungkin secara tidak sengaja atau tidak disadari.

Karena sekilas memang tampak sebagai gagasan spontan KRA Gendur Reksodiningrat Adinagoro selaku Ketua Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim) untuk memberi persembahan KRA Gendur Reksodiningrat Adinagoro selaku Ketua Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim).

Kalaulah benar sebagai gagasan spontan, persembahan Pengurus Paguyuban Kulawarga Keraton Surakarta (Pakasa) Cabang Ponorogo yang dipimpin KRA Gendur Reksodiningrat Adinagoro itu tidak main-main. Karena selain menyemarakkan pelaksanaan upacara adat itu, juga menjadikan ritual itu sebagai pusat perhatian semua yang beraktivitas di sekitar Pasar Klewer, mengingat halaman Pendapa Pagelaran dan Alun-alun Lor, dijadikan sarana parkir berbagai jenis kendaraan pendukung pusat sandang Pasar Klewer.

Baca : ”Kraman” di Zaman Now, Kebebasan atau Kebablasan?

Selain jadi semarak dan pusat perhatian, hadirnya persembahan Pakasa Cabang Ponorogo juga membuat upacara adat yang masih disakralkan itu menjadi beda dengan pelaksanaan di tahun-tahun sebelumnya yang terkesan ”dingin” atyau ”angker”. Karena, dua dadak merak bersama para waroknya yang diikuti sekitar 20 anak yang berdandan tokoh Hanoman ditambah dua ”tandak” (penari wanita), bersama-sama beraksi mempertontonkan kehebatannya bermain ”barongan” dadak merak dan tari Kethek Ogleng di halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa.

mahesa-lawung3
MEMAKSA SERING TAMPIL : Karena situasi dan kondisinya ”memaksa” harus sering tampil memimpin pelaksanaan upacara adat, tak membuat Gusti Moeng (Ketua LDA/Pengageng Sasana Wilapa) membiarkan persiapannya. Ia tetap sibuk membantu mempersiapkan segala macam uba-rampe yang dibutuhkan untuk keperluan upacara adat, seperti saat wilujengan nagari Mahesa Lawung dimulai di Pendapa Sitinggil Lor, belum lama ini. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Baca : Gebyar Budaya Desa Pandes : Gali Potensi, Luncurkan 1 RW 1 Produk Unggulan

”Pemanasan” upacara untuk mengundang perhatian publikdengan tabuhan seni reog yang khas itu, terasa cukup karena durasinya sekitar sejam. Tepat pukul 13.30 WIB upacara doa wilujengan nagari yang dipimpin Gusti Moeng di Pendapa Sitinggil Lor dimulai, dan semua yang terlibat dalam persembahan atraktif di halaman pendapa ikut bergabung. Termasuk para penari Kethek Ogleng, ikut bersila di lantai Sitinggil, ikut mendukung doa yang dipimpin abdidalem juru donga KRT Pujo Setiyonodipuro.

Upacara doa dalam dua ritus masing-masing Islam dan Hindu di Sitinggil berakhir, semua diarak menuju bus dan beberapa mobil yang akan mengangkut ke tempat upacara puncaknya, di hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar.

Khusus untuk anak-anak penari Kethek Ogleng, hanya berbaris sebagai pagar betis ketika melepas rombongan menuju Krendawahana, batas spiritual Keraton Surakarta di ujung utara itu, karena harus mendahului kembali ke Ponorogo. (Won Poerwono-bersambung)

Baca : Hasil Bersafari di Makam dan Petilasan Leluhur Sejak 1990-an

mahesa-lawung4
ERATRAKSI DI HALAMAN : Sebelum mengikuti doa dan kenduri wilujengan nagari Sesaji Mahesa Lawung di Pendapa Sitinggil Lor dan hutan lindung Krendawahana, Gondangrejo, Karanganyar, anak-anak penari massal Kethek Ogleng bersama dua unit seni reog Ponorogo persembahan Pakasa Cabang Ponorogo (Jatim), menggelar aksi seninya di halaman Pagelaran Sasana Sumewa yang tentu mengundang perhatian warga yang beraktivitas di sekitar Pasar Klewer. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Editor : Budi Sarmun