Hasil Bersafari di Makam dan Petilasan Leluhur Sejak 1990-an

Kidung-Syahadat-Quresh6
DIPIMPIN PUTRA MAHKOTA : Calon putra mahkota KGPH Mangkubumi memimpin prosesi arak-arakan yang membawa uba-rampe wilujengan untuk khol ke-12 Sinuhun Paku Buwono XII, berjalan menuju serambi kagungandalem Masjid Agung, Jumat malam (20/12) lalu. Prosesi itu, merupakan bagian inovasi yang diinisiasi Gusti Moeng selaku Ketua LDA dan penyelenggara ritual keagamaan tersebut. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

*Musikalilasi Kidung Syahadat Quresh Dengan Santiswaran (2-habis)

SENTUHAN inovasi di dalam tatacara upacara spiritual keagamaan, yang mengkolaborasikan antara seni musik santiswaran dengan musikalisasi syair syahadat Quresh, makin menemukan format yang pas dan selaras.

Bahkan perpaduan antara dua peradaban yang tak terasa karena begitu halus seperti yang dilakukan para Wali dalam menyebarkan Islam di tanah Jawa itu, ternyata juga sukses melalui beberapa kali percobaan yang digelar di lingkungan Keraton Surakarta belakangan ini.

Beberapa sentuhan inovatif itu, adalah salah satu gagasan yang diperoleh Gusti Moeng karena rajin bersafari keliling di makam dan petilasan leluhur yang tersebar di berbagai daerah sejak tahun 1990-an. Hasil bersafari yang sedikitnya di 20 tempat rutin dihadiri tiap tahunnya, juga didapat ide memberi sentuhan atraktif berupa prosesi kirab di berbagai upacvara adat di keraton. Sebaliknya, atraksi kreatif itu juga ditularkan di pelaksanaan upacara spiritual keagamaan yang digelar di berbagai tempat yang dikunjungi.

Baca : Upaya Menyatukan Persepsi Gaya, Agar Dipahami Secara Jelas Maknanya

Dari petilasan dan makam yang tersebar di Jateng, Jatim hingga Madura itu, Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) itu mendapat inspirasi tentang perlunya haul atau khol digelar kembali di Keraton Surakarta, untuk semua tokoh leluhur yang tidak terbatas, yang dianggap berjasa terhadap dinasti dan peradaban. Sebaliknya, inovasi yang positif untuk memperkuat tatacara pelaksanaan kegiatan spiritual keagamaan itu, mulai ditularkan kepada publik secara luas.

Misalnya di petilasan dan makam-makam leluhur yang jumlahnya banyak sekali di Jateng, Jatim dan Madura, yang selama ini dijadikan objek wisata ziarah. Karena, di situlah juga dijadikan tempat menggelar pengajian akbar peringatan hari-hari besar Islam, semisal Maulud Nabi Muhammad SAW, juga haul tokoh-tokoh penting masyarakat setempat yang ternyata adalah leluhur Dinasti Mataram.

Baca : Inovasi di Haul ke-12 Sinuhun Amardika