Inovasi di Haul ke-12 Sinuhun Amardika

Kidung-Syahadat-Quresh2
MUSIK BEDAYA KETAWANG : Instrumen musik karawitan pengiring tarian sakral Bedaya Ketawang ciptaan Panembahan Senapati (masa transisi Mataram), yang berupa dua biji kemanak yang punya nada berbeda, diyakini menjadi inspirasi lahirnya musik santiswaran dan laras madya yang berkembang kemudian di lingkungan Keraton Surakarta dan publik secara luas. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)

Musikalilasi Kidung Syahadat Quresh Dengan Santiswaran (1-bersambung)

SEKALI lagi, mesin budaya peninggalan peradaban Jawa mencatat sejarah positif yang bermanfaat di bidang spiritual keagamaan bagi kehidupan masa kini dan mendatang.

Musik santiswaran yang diyakini merupakan perkembangan dari musik karawitan untuk menyajikan aransemen isntrumentalia gending berjudul ”Bedaya Ketawang”, karena menjadi iringan tarian sakral Bedaya Ketawang, kini mulai tampil di sela-sela upacara keagamaan macam tahlil, dzikir dan wirid untuk mengiringi musikalisasi syair syahadat Quresh yang digelar Keraton Surakarta.

Upacara tahlil, dzikir dan wirid yang disertai doa wilujengan malam itu, seakan berpenampilan beda karena ada tambahan sesuatu yang berasal dari wilayah seni musik tradisional (khas keraton), yang terdengar tidak seperti biasanya, tetapi mirip tembang atau kidung.

Tembang atau kidung itu, menjadi tidak berdiri sendiri, karena ada instrumen musik yang mengiringi hingga padu dengan syair-syair musikalisasi syahadat Quresh.

Akrab di Telinga

Karena terdengar melalui proses aransemen, maka musikalisasi syair-syair syahadat Quresh itu seakan menyesuaikan baik nada maupun ketukan irama instrumen yang memandunya, yaitu kendang, dua kemanak dam beberapa terbang berukuran besar.