Hukum Adat tak Berjalan, Karena Tersandera Proses Hukum Positif

adeging-ratu6
NAPAK TILAS : Acara napak tilas sejarah perjalanan institusi UNS 11 Maret yang digelar di halaman Pendapa Pagelaran Sasana Sumewa beberapa waktu lalu, selain karena alasan jasa-jasa Keraton Surakarta yang menjadi ''sponsor utama'' perguruan tinggi negeri pertama di Solo itu, juga karena penghormatan/penghargaan terhadap peran keraton sebagai sumber hukum adat. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono)


”Aja Dolanan Adeging Ratu…….” (6-habis)

BERBAGAI peristiwa dalam kerangka ”…doalanan adeging Ratu…”, nyata-nyata sudah terjadi di lingkungan masyarakat adat Dinasti Mataram khususnya di Keraton Surakarta di alam republik yang modern ini.

Tetapi, hukum adat tidak bisa dijalankan karena perangkat pelaksana dan penegakan hukum adat justru tercera-berai dan batas ruang yang bernama Keraton Surakarta itu sejak 2017 hingga kini sedang tersandera hukum positif poroduk negara/pemerintah.

adeging-ratu7
HORMATI LEMBAGA ADAT : Penyerahan dana hibah atas perintah Mahkamah Agung dari Pemprov Jateng kepada Keraton Surakarta yang diwakili Gusti Moeng sebagai Ketua Lembaga Dewan Adat, karena pemerintah menghormati dan mengakui kesatuan masyarakat adat Dinasti Mataram itu. (suaramerdekasolo.com/Won Poerwono

Sungguh ironis, memang. Hukum, adat yang kedudukannya lebih tinggi dan dijadikan pedoman hukum positif produk negara/pemerintah, justru tidak bisa dijalankan di lingkungan masyarakat adatnya sendiri. Logikanya sungguh menjadi aneh, hukum adat produk peradaban dicerai-beraikan dan dibuat tidak berdaya oleh hukum positif yang lahir dari rumusan-rumusan bahan yang berasal dari hukum adat.

Tetapi itulah faktanya, berbagai peristiwa adat itu sudah terjadi, yang hampir semuanya sebagai akibat intervensi penguasa yang menggunakan produk hukum positifnya. Sebut saja upaya ”kraman” di tahun 2004, pemimpin yang mangkir dari upacara adat tingalan jumenengan, ”konspirasi” antara dua simbol kekuatan yang dikawal ”penguasa” hingga penentuan penyandang gelar kekerabatan yang menyimpang, karena tanpa melalui mekanisme presedur adat.